Aku Bukan Rahim Pengganti

Aku Bukan Rahim Pengganti
62. Aku Bukan Rahim Pengganti


__ADS_3

Semua orang masih diam saja termasuk Carlos dan Calista. Bedanya, Carlos diam menunduk merasa kikuk dan Calista menjadi bingung.


"Papi," sapa Calista mencairkan suasana langsung memeluk Edzard, bergantian memeluk Ivy.


Anita dan Wilson sudah kembali satu jam lalu karena Wilson merasa tak betah berlama disana.


William dan Wildan berdiri bersamaan ketika Calista berjalan ke arah mereka. Tampak mata Wildan berkaca-kaca terus menatap Calista sedari tadi.


Rasa rindu yang membuncah tak dapat di bendung lagi. Wildan langsung memeluk Calista saat hendak memeluk William lebih dahulu.


Calista sendiri awalnya kaget namun menerima pelukan hangat dari Wildan. Baik Edzard, Ivy, William, dan Carlos menatap haru pemandangan itu.


"Maaf," ucap Calista merasa sudah terlalu lama memeluk dirinya.


"Ah iya, maaf." ucap Wildan mengurai pelukan lalu mengusap tetesan air mata seraya mengedip-ngedipkan mata agar tak menangis lagi.


William mengenalkan Wildan sebagai kakaknya.


Calista mengangguk lalu menggeser tubuhnya menjadi berhadapan dengan William. Namun, saat Calista hendak memeluk William, Carlos lebih dahulu memeluk William.


"Sialan. Aku ingin peluk keponakan ku," umpat William masih memeluk Carlos.


Carlos terkekeh geram seraya menepuk-nepuk punggung William dengan keras. "Aku juga keponakanmu, bukan?" tanya Carlos lirih merapatkan gigi saat berbicara.


"Oke baiklah keponakan," sahut William membalas tepukan punggung Carlos tak kalah keras


Calista merasa janggal dengan tepukan keduanya langsung memisahkan Carlos dan William. "Kalian ini kenapa, sih?"


"Bukan apa-apa, Calt."


"Iya bukan apa-apa, sayang."


Calista hanya diam saja karena tak ingin ikut campur urusan orang dewasa. Ia pun duduk di sebelah maminya, Ivy. Bersandar di lengan sang ibu angkat.


Carlos sendiri duduk di sofa tunggal membiarkan Calista bermanja pada ibu mertua.


Ah, sial.


Carlos kembali kesal dengan statusnya sebagai menantu di hadapan orang-orang ini. Rasanya, kekuasaan dan wibawanya turun anjlok ke dasar tanah bila sudah berhadapan dengan empat orang dewasa di ruangan nya itu.


"Calista, tadi Papi kamu menelepon suamimu dan kami gak sengaja mengganggu aktifitas kalian dikamar," ucap Wildan membuat Carlos dan Calista batuk karena tersedak air saliva sendiri.


Calista langsung menoleh ke arah Carlos dengan tatapan tajam. Sedang Carlos hanya bisa menunduk malu dengan wajah memerah.

__ADS_1


*Sial. Kenapa aku gak bisa melawan?


Aakkhh malu*.


"Lalu, mana suami kamu, Calt?" lanjut Wildan membuat semua orang terperangah.


Pasalnya, mereka yang berada di ruangan itu berpikir jika Wildan sudah mengetahui siapa suami Calista.


Kemudian Calista tersenyum seraya bangkit dari duduk, menghampiri Carlos dan ikut duduk di sisi sofa yang diduduki Carlos. "Ini suami aku, Om. Carlos Martinez, namanya.' Dengan bangga Calista mengenalkan Carlos pada Wildan.


Carlos sendiri menjadi semakin gugup. Ia menelan saliva dengan susah payah, di usap dahinya yang telah berkeringat sebesar biji jagung.


Sedang Edzard dan William ingin rasanya tertawa melihat mimik wajah Carlos yang berubah menjadi ketakutan.


Mami Ivy sendiri merasa cemas memikirkan bagaimana reaksi Calista bila tahu Wildan adalah ayah kandung yang selama ini sangat dinanti.


Wildan langsung menoleh ke arah Edzard dengan tatapan tajam. "Bagaimana bisa kamu menikahkan anakku dengan pria tua bangka seperti ini?" sentak Wildan langsung bangkit merasa tak terima.


Semua orang terkejut atas reaksi Wildan. Carlos dan Calista membeku tanpa sadar kedua tangan mereka saling menggenggam.


Carlos tak menyangka bila Wildan akan bereaksi menunjukkan ketidaksukaan terhadapnya.


Calista sendiri masih terpaku mencerna ucapan Wildan.


"Aku gak setuju. Mereka harus berpisah," sanggah Wildan.


Mendengar itu langsung membuat Calista menoleh ke arah Wildan. Ia berdiri dengan masih saling menggenggam tangan Carlos.


"Siapa anda berani menentang pernikahan kami?" tanya Calista dingin berwajah datar.


Wildan terdiam.


"Siapa anda berani menentang pernikahan kami?" tanya Calista menaikkan suara satu oktaf.


"Sayang. Tahan emosi, kamu sedang hamil!" ucap Carlos menenangkan dengan dekapan yang menenangkan.


Calista menangis dalam dekapan Carlos. Jika memang dugaan nya benar bila makna dari ucapan Wildan tadi adalah ia anak pria itu maka tak akan memberi kesempatan untuk dekat dengan nya karena telah menentang pernikahannya.


"Siapa dia, Om? aku gak suka dengan mereka yang menentang pernikahan kita," gumam Calista dalam dekapan Carlos.


Carlos membelai rambut Calista agar tenang. Tetapi tatapan matanya tajam menghunus jantung Wildan dan William.


"Gak akan ada yang menentang pernikahan kita, sayang. Beliau hanya terkejut mendapat kabar atas pernikahan beda usia diantara kita. Tenang, ya." Carlos terus memberi ketenangan dan kecupan di pucuk kepala Calista. Ia sangat tahu semenjak hamil, istri kecilnya harus ditenangkan bila sedang marah.

__ADS_1


Calista mengangguk.


"Kamu mau makan? pasti Mami Ivy sudah menyiapkan makanan kesukaan kamu," bujuk Carlos agar pikiran Calista teralihkan.


Calista mengangguk lagi dan mengurai pelukan.


"Ayo kita makan di ruang makan, Calt." ajak mami Ivy dan dituruti Calista.


Carlos kembali duduk setelah Ivy membawa Calista pergi dari ruang tamu. "Kami menikah karena kecelakaan. Dan kecelakaan itu terjadi atas ulah adik anda, William." Lidah Carlos sangat kaku memanggil Wildan dengan sebutan Papa.


"Dia itu mertuamu, gila." umpat Edzard.


"Aku ini Om, mu Carlos." umpat William.


Carlos tak menanggapi. Kemudian ia menceritakan bagaimana malam itu terjadi atas keisengan William dan masih memiliki istri, Nadia.


Carlos juga menceritakan saat Calista datang ke Kantor nya dengan berani meminta pertanggung jawaban atas perlakuan bejatnya.


Bagaimana ketidakadilan yang diterima Calista hingga keduanya saling mencintai hingga saat ini.


Carlos menceritakan tanpa rasa sungkan. Justru ia merasa bahagia karena tak pernah sedikitpun menyesal menikahi Calista. Karena pada dasarnya, ia sudah tergila-gila pada Calista sejak istri kecilnya itu masih balita.


"Dasar pedofil," umpat ketiga pria dewasa itu bersamaan.


"Daun muda lebih nikmat. Kalian dengar sendiri tadi, 'kan? istriku merengek meminta aku memuaskannya," ucap Carlos lantang tanpa beban.


Ketiga pria di hadapan Carlos berdiri serempak mendekatinya. "Apa?" tanya Carlos was-was.


Tanpa basa basi baik Edzard, William, dan Wildan bersamaan menyiksa Carlos tanpa ampun.


"Leherku, woy."


"Sialan. Sakit, telingaku. Astaga," pekik Carlos.


Ketiga pria itu masih saja menyiksa Carlos dengan brutal. Yang pasti bukan penyiksaan baku hantam.


Mereka melakukan sebagaimana orang tua sering menjewer, menarik jambang, menjitak kepala.


Calista tercengang melihat Carlos disiksa tiga pria dewasa itu sekaligus. "Papi.. Papa.. Om," pekik Calista garang.


Ternyata, di ruang makan itu Calista diberi nasihat oleh Ivy hingga membuat hatinya merasa tenang.


Penyiksaan itu berakhir ketika mendengar suara Calista menggelegar di ruangan. Wildan terpaku mendengar pekikan Calista yang menyebut dirinya Papa.

__ADS_1


"Sayang. Mereka menyiksaku."


__ADS_2