
Fadil duduk termangu menatap hamparan sangat luas di tumbuhi banyak pohon cokelat yang siap panen.
Dari pagi hingga hampir petang, Fadil belum juga ingin beranjak dari gubuk yang memang dibuat khusus untuk nya ketika berkunjung ke kebun cokelat.
Kali ini kedatangan nya bukan karena ingin ikut panen pada pekerja kebun yang lain. Tetapi untuk menghindari Dewi sementara waktu demi kesehatan hati sang istri.
Ia tak ingin Dewi salah paham atas apa yang terjadi antara dirinya dan juga Mario.
Fadil kembali termenung mengingat semua ucapan Mario beberapa hari lalu. Apalagi mengingat ketika dirinya berkunjung melihat keadaan Nadia yang seharusnya selalu dalam penjagaan nya.
Teringat percakapan antara dirinya dan Nadia ketika Dewi sedang tidur di kamar tamu rumah Nadia.
"Nad. Kata Dokter, kehamilan mu membahayakan kesehatanmu. Apalagi janin nya sangat lemah. Apa gak sebaiknya digugurin saja agar kesehatanmu pulih kembali?" tanya Fadil pelan-pelan.
"Aku sehat, Fadil. Kamu gak perlu khawatir. Aku gak akan merepotkan mu, lagi. Aku sudah mulai bisa hidup tanpa bantuan mu, nasihat atau hiburan darimu, sudah ada dia di rahimku yang selalu membuat aku bahagia."
"Maaf atas kesalahan ku yang lalu. Aku titip Mario, jangan abaikan dia terus. Kamu harus ingat, anak laki-laki itu milik kita hanya sampai 18 tahun. Setelahnya mereka akan memutuskan bagaimana cara hidup mereka."
__ADS_1
"Sesekali luangkan waktu berdua dengan Mario," imbuh Nadia dan membuat Fadil termangu.
Dan kini Fadil paham maksud dari ucapan Nadia. Penyesalan pun akhirnya mendatangi pria berusia empat puluh tahun tersebut.
Benar. Ucapan Mario benar adanya bila Fadil telah lalai setelah menikahi Dewi. Ia selalu merasa bahagia atas pernikahan nya yang masih seumur jagung tetapi lalai dalam merawat Nadia yang juga sedang mengandung anaknya dan Mario.
"Andai dulu aku menerima warisan ini agar Nadia tetap bersamaku, dan membiarkan Tuan Carlos menunggu Calista dewasa."
Fadil beringklsut turun dari gubuk, kemudian berjalan menuju sepeda motornya. Dilajukan kenderaan beroda dua tersebut menuju rumah Nadia yang saat ini masih ditinggali oleh sang putra, Mario.
Sesampainya disana, Fadil mengetuk pintu dan di buka oleh Bibi Surti, pelayan rumah Nadia.
"Ada, Tuan. Sebentar, saya panggilkan lebih dulu."
Fadil mengangguk lalu duduk di salah satu sofa berada di ruang tamu tersebut.
Sedang Mario, dikamarnya sudah lebih dahulu tahu bila sang ayah telah tiba di rumah Ibu nya karena tadi berada di balkon dan melihat Fadil masuk ke pekarangan rumah.
__ADS_1
Kakinya melangkah menuju kamar sebelum Bibi Surti mengetuk pintu. Masih di lantai dua, di pembatas besi Mario berteriak.
"Katakan pada orang itu aku sedang sibuk, Bi. Jangan biarkan orang itu naik ke lantai dua apalagi sampai menyentuh pintu kamarku."
Fadil mendongak setelah mendengar ucapan menyakitkan yang terlontar dari anak yang tanpa sengaja telah di menyakiti sang anak.
Fadil pun akhirnya memilih pergi dengan membawa sejuta luka.
...----------------...
Di kediaman Abraham.
Siang itu, Edzard dan Ivy tengah bersantai di datangi tamu. "Siapa siang panas begini bertamu di rumah orang?" cebik Edzard.
"Sabar, biar Ivy saja yang buka pintunya!" ucap Ivy selalu bisa menenangkan Edzard.
Ivy pun berjalan menuju pintu utama. Dahinya berkerut ketika melihat sahabat Calista datang bersama dua pria dewasa dan satu anak laki-laki.
__ADS_1
"Ada apa, ya Anita?"