
"Sayang, gimana perasaanmu?" tanya Ivy setelah selesai sarapan dan membereskan alat masak di dapur.
Calista yang ditanya hanya bisa menghela nafas. Mata memandang lurus pada jam dinding dikamarnya.
"Kenapa aku harus hamil, Mi? aku memang telah jatuh cinta pada Om Carlos, tapi aku belum siap untuk menjadi yang kedua."
Mami Ivy mengusap lengan Calista, menenangkan agar putrinya tak lagi bersedih.
"Mami lihat, suamimu juga telah mencintaimu."
Calista mengangguk lemah, membenarkan ucapan Mami Ivy.
"Istri pertama Om Carlos begitu licik, Mi. Aku takut bila dia tau, akulah istri simpanan suaminya akan berbuat jahat padaku dan kehamilanku."
"Suamimu pasti akan melindungi kalian."
...****...
"Aku gak mau," tolak Carlos pada Edzard.
"Ini hukuman selanjutnya untukmu," Keukeh Edzard menyerahkan mesin potong rumput dorong pada Carlos.
Carlos berdecak, dilihat hamparan pekarangan belakang rumah mertuanya begitu lebar. Bukan hanya tempat pelatihan memanah dan menembak, pekarangan belakang itu terdapat lapangan golf juga dan itulah yang harus di bersihkan oleh Carlos.
"Kau memanfaatkan keadaan," cibir Carlos langsung mendapat timpukan dikepala dari Edzard.
"Aku menyuruhmu, karena kau itu menantuku."
"Ck. Aku belum rela mendapat menantu tua kayak dirimu. Astaga, lebih ganteng lagi aku!" Edzard menggeleng.
"Ganteng juga aku kemana-mana. Dan apa kamu lupa, kalau istri muda ku begitu mencintaiku."
"Kau!"
"Apa?"
Edzard merangkul leher Carlos dan membawanya hingga menunduk. Sebuah kebiasaan lama yang sedang mereka lakukan.
Carlos menepuk-nepuk lengan Edzard berada di lehernya. "Sialan. Lepasin," cicit Carlos melakukan hal yang sama namun Edzard terhuyung kebelakang karena Carlos menarik lehernya.
Calista dan Ivy melongo melihat kedua suami mereka yang tak pernah akur barang sedetik.
"Apa mereka gak capek?" gumam Calista menghela nafas seraya melangkahkan kaki bersama Ivy mendekati dua pria tersebut.
"Kau yang tua bangka," sentak Carlos.
__ADS_1
"Apa kau tak sadar diri sudah kepala empat? Sial, sakit."
Calista menggeleng mendengar perdebatan ayah angkat dan suami nya yang sebenarnya sudah sama-sama tua menurut Calista.
"Om," panggil Calista membuat dua pria tersebut menghentikan perdebatan dan gerakan mereka yang saling menyakiti.
Carlos dan Edzard menoleh ke asal suara kemudian saling memandang, buru-buru mereka berdiri tegak memperbaiki penampilan.
"Sayang," ucap Carlos mendekati Calista.
"Lebay," protes Edzard langsung mendapat cubitan dari Ivy.
Calista menggeleng tanpa berkomentar, mengajak Carlos untuk istirahat karena tahu jika suaminya itu telah dikerjai oleh Edzard sebelum pertengkaran ini.
Setelah berada di dalam kamar dan duduk di ranjang, Calista duduk di samping Carlos dan menghadap ke arahnya. Sedang Carlos duduk bersandar pada kepala ranjang.
"Aku pijat, ya?" tawar Calista dengan senyum manisnya.
"Gak perlu, yang. Nanti malah kamu yang capek," tolak Carlos tulus.
Calista berdecak, tangan nya mulai memijat kaki Carlos.
Carlos terharu, hati nya menghangat atas perhatian Calista. Bukan karena pijatan itu mampu menghilangkan rasa lelah mendera, tetapi perlakuan manis Calista yang tak pernah di dapat dari Nadia.
Nadia memang jago di atas ranjang tetapi tak pernah seperhatian ini. Justru dirinya lah yang di tuntut untuk memerhatikan. Jika tidak, maka istri pertamanya akan menangis histeris dan mengucapkan kalimat yang tak pernah terbersit dalam benaknya.
Ia terus memerhatikan Calista memijat kaki nya yang tak memiliki rasa apapun. Justru pijatan itu terasa seperti elusan.
Ah..
Carlos menggeleng ketika pikiran nya condong ke arah sana.
"Sayang, sudah cukup."
Calista menoleh. "Gak enak ya pijatan aku, Om?" mendadak istri muda Carlos menjadi sedih.
"Bukan. Bukan, sayang. Pijatan kamu sangat enak. Aku hanya ingin mengajak kamu tidur bareng," elak Carlos.
Carlos langsung membawa Calista baring. Tetapi memilih mensejajarkan kepala dihadapan perut istrinya.
"Hai sayang, Papi. Kamu apa kabar?" sapa Carlos seraya mengelus dan mengecup perut putih mulus milik Calista.
"Baik, Papi!" sahut Calista meniru suara anak kecil membuat Carlos mendongak lalu keduanya tertawa bersama.
Dikecup berulang kali lalu Carlos menyembunyikan wajah di perut Calista. "Papi sudah gak sabar ingin ketemu kamu."
__ADS_1
"Om mau anak cewek atau cowok?" tanya Calista setelah Carlos mengubah posisi dan sekarang dirinya yang mengerat pelukan, menikmati hangatnya pelukan bersembunyi di dada bidang suaminya.
"Apapun yang kamu lahirkan, aku mau. Aku sudah sangat lama menunggu kehadiran anak di hidupku," sahut Carlos.
Mendengar jawaban Carlos membuat hatinya terenyuh, akankah tega bila meninggalkan Carlos saat waktu itu tiba?
Apalagi memikirkan Nadia, mengapa wanita itu tega melakukan semua ini pada Carlos? demi harta tega menyakiti dua pria yang baik hati dan membiarkan seorang anak kekurangan kasih sayang.
"Om mau punya anak berapa dari aku?" tanya Calista mendongak hingga pandangan keduanya bertemu.
"Apa kamu mau punya anak lagi dengan ku?" tanya Carlos lirih tanya menyangka bila Calista akan bertanya seperti ini.
Calista mengangguk pasti. "Aku ingin seperti Oma Nadira, punya anak banyak dan anak asuh banyak. Aku suka anak kecil, Om."
Carlos mengecup kening Calista lalu memeluk kembali. "Haruskah aku buat kamu hamil di setiap tahun nya, Calt?"
Calista terkekeh. "Om yang urus anak-anak kita, ya. Aku kan kuliah," gurau Calista.
"Jangan, deh. Kita batasi waktu nya, nanti kamu jadi rebutan mereka. Aku cemburu," ucap Carlos lirih tetapi tak di jawab Calista karena sudah terlelap.
Tahu bila istri kecilnya telah terlelap, ia pun ikut memejamkan mata.
...****...
"Cukup, Nadia. Jangan berbuat gila lagi. Sudah cukup kamu menipu Tuan Carlos."
Fadil dan Nadia kembali berdebat karena merasa kegilaan wanita itu sudah melampaui batas.
"Kemana Nadia ku, dulu? pulanglah," ucap Fadil melemah.
Nadia menggeleng. "Enggak. Aku sudah muak hidup pas-pasan sama kamu, Fadil. Kamu sendiri yang gak mau menerima warisan dari ayah Bimo, kenapa kamu salahkan aku jika menikah lagi?"
"Nad. Aku gak berhak atas warisan itu. Aku ini anak tiri dan anak pelakor. Aku gak ada sangkut paut dari harta itu," sanggah Fadil karena dahulu memang Bimo menawarkan warisan ayah tirinya yang tak lain ayah kandung Bimo.
Tetapi Fadil menolak karena tahu diri, andai saja ibu kandung nya menolak menjadi istri simpanan ayah Bimo, pasti keluarga kakak tiri nya tidak hancur lebur.
"Istri muda suamimu sudah hamil dan dia sudah mengetahui rahasiamunyang memiliki aku dan Mario."
Nadia tersentak. "Siapa orang itu?"
Fadil menggeleng. "Aku gak akan memberi tahumu. Yang pasti, Bimo sangat melindungi wanita itu. Cepatlah kembali pada kami sebelum suamimu mengetahui juga," Fadil masih keukeh mengajak Nadia pulang tetapi istrinya itu terus menolak hingga membuat kesabarannya menipis.
"Baik. Kalau kamu gak ingin diajak dengan kelembutan," Fadil maju lalu menggendong Nadia seperti karung.
"Turunin aku, Fadil."
__ADS_1
"Gak akan. Aku sudah lama tak menikmati tubuhmu."