Aku Bukan Rahim Pengganti

Aku Bukan Rahim Pengganti
27. Aku Bukan Rahim Pengganti


__ADS_3

Dua Minggu berlalu begitu saja. Keadaan Calista sudah membaik bahkan Minggu depan sudah siap menjalani Kuliah pertama.


Hingga saat ini, Calista belum ingin bertemu dengan Carlos ataupun sekedar membalas pesan dari suaminya itu.


Tapi, jangan berpikir bahwa sepenuhnya Calista tak perduli dan tak khawatir pada Carlos. Tentu saja masih ada terbesit rasa iba dan rindu bersamaan.


"Kenapa pria tua itu gak kirim pesan Sampek siang gini?"


Calista berdecak. "Itu gak penting," gumam Calista lalu mengambil tas selempang karena sudah selesai bersiap untuk ke rumah Anita.


Calista keluar kamar lalu turun ke lantai dasar. "Mi. Calista berangkat, ya."


Mami Ivy yang tengah meminum teh langsung menoleh saat mendengar suara Calista.


"Iya. Hati-hati. Jangan aneh-aneh. Ingat kamu sedang hamil," terang Mami Ivy langsung di iya kan oleh Calista.


Ketika Calista membuka pintu langsung mematung melihat punggung kokoh yang begitu dikenalinya.


Calista tersentak langsung gelagapan karena Carlos secara tiba-tiba membalikkan badan ke arahnya.


Ujung alis terangkat menelisik penampilan Carlos.


"Maaf gak kasih kabar kamu. Aku baru bangun, ini saja gak sempat ganti baju," terang Carlos mengerti arti dari tatapan Calista.


Calista tersenyum miring. "Gak nanya," ucapnya seraya melenggang melewati Carlos.


Carlos mengikuti Calista. "Sayang. Ini jadwal periksa kehamilan kamu," terangnya hingga membuat Calista berhenti jalan secara tiba-tiba dan tanpa sengaja di tabrak Carlos. Beruntung dengan sigap Carlos memeluk Calista dari belakang agar tertahan akibat ulahnya.


"Sakit, Om. Apaan, sih? dimana-mana cewek nabrak dada cowoknya bukan dada cowok nabrak kepala cewek," omel Calista mengelus kepala bagian belakang.


Carlos meringis diomeli Calista yang notabene lebih muda darinya. Entah mengapa melihat Calista mengomel justru terlihat menggemaskan.


"Maaf," ucap Carlos seraya ikut mengusap kepala Calista.


Calista mencebik memasang wajah kesal. "Maaf terus tapi gak pernah berubah. Gak adil, tahu istri muda hamil malah gak pernah datang!" sindir Calista langsung berjalan masuk ke dalam mobil Carlos karena akan periksa kandungan.


Carlos sendiri tercengang setelah mencerna kalimat yang diucapkan Calista barusan. Selama dua Minggu ini menahan rindu pada istri kecilnya karena memberi waktu untuk menenangkan diri justru sebaliknya, Calista menanti kedatangan nya.


Carlos menyusul Calista masuk ke dalam mobil. Beruntung siang ini datang ke rumah mertua nya menggunakan sopir.


"Jalan, Gus."


Carlos terus memerhatikan Calista yang sedang bersidekap dan menatap ke arah luar jendela.


"Tumben pakai jaket siang-siang begini. Kedinginan? sini aku peluk," tutur Carlos langsung mendekati Calista dan memeluk istri kecilnya.

__ADS_1


"Apa sih, Om. Lepasin," Calista meronta-ronta agar pelukan itu terlepas.


"Maaf, ya. Aku yang salah. Nanti saja kalau mau marah-marah nya setelah pulang periksa anak kita."


Carlos masih memeluk dan sekarang diiringi elusan di perut Calista. "Aku kangen kalian," bisik Carlos namun Calista hanya diam menikmati hangatnya pelukan yang diberikan Carlos.


Ada rasa nyaman dan aman bersamaan dirasakannya saat ini. Ia tahu, jika perasaan nya bukan hanya sekedar pura-pura. Tapi, jika ia bertahan maka akan banyak rintangan diantara mereka.


...****...


Sesampainya di Rumah Sakit, sebelum keluar dari mobil Calista sudah menutup kepada menggunakan penutup jaket yang dikenakan nya.


"Kenapa ditutup?" tanya Carlos lemah lembut.


"Lupa kalau situ suami orang?" bukan jawaban yang diberikan Calista, melainkan pertanyaan pedas.


Carlos menghela nafas tanpa menjawab. Mereka jalan beriringan dengan tangan Carlos di pinggang Calista.


"Om."


"Ya? apa kamu butuh sesuatu?"


Calista menggeleng. "Aku cantik gak?" celetuk Calista membuat Carlos menghentikan langkah begitu juga dirinya.


"Sangat cantik," sahut Carlos ingin sekali mencium Calista namun takut bila istri kecilnya itu kembali marah.


...****...


"Apakah Tuan masih merasakan pusing dan mual?" tanya sang Dokter mengetahui jika dirinya mengalami kehamilan simpatik.


"Masih, Dok. Tapi kalau dekat dengan istri, saya gak pernah ngalami itu."


"Kalau gitu harus dekat terus sama Nyonya."


"Nah, itu masalahnya Dok. Istri saya lagi ngambek jadi saya ditinggal sendiri di rumah."


Mendengar jawaban Carlos membuat Calista melongo. Bagaimana bisa seorang Carlos Martinez menjadi lemes seperti saat ini.


Di cubit lengan Carlos hingga membuat sang empu meringis. "Kok dicubit, yang? aku ngomong yang sebenarnya,"


Dokter tersebut hanya bisa terkekeh melihat interaksi sepasang suami istri beda usia. Kemudian, usai melihat pasangan itu berhenti berdebat akhirnya meminta Calista untuk baring di brankar.


Carlos dengan telaten membantu Calista baring lalu menyingkap jaket yang dikenakan Calista.


"Kenapa Om yang naikin jaket aku?" tanya Calista penuh selidik.

__ADS_1


Carlos salah tingkah lalu berdehem. Tanpa menjawab, segera mengecup perut Calista. Namun sayang, saat baru saja mengecup perut Calista, rambutnya sudah ditarik oleh istri kecilnya.


"Aduh. Sakit, sayang. Ampun.. Ampun..," cicit Carlos.


"Om itu nyebelin banget. Sudah dibilang jangan cium-cium," omel Calista membuat Dokter dan Suster disana terkekeh.


"Baiklah. Maafin aku. Sekarang lepasin biar Dokter USG kamu dulu. Kita harus lihat anak kita, sayang!" bujuk Carlos membuat Calista luluh.


Suster menuangkan gel di perut Calista lalu menggerakkan transducer di perutnya.


"Wah.. Lihat, janin nya bergerak sangat aktig!" seru sang Dokter.


Carlos menggenggam tangan Calista seraya mata tetap mengarah pada komputer begitu juga sang empu tangan.


"Usianya sudah sepuluh minggu. Perkembangan janin sudah memasuki tahap baru. Kini, di dalam tubuh janin, sudah ada lebih banyak organ yang terbentuk."


"Bentuk dan ukuran janin sudah sebesar buah jeruk dengan berat 8 gram dan panjang dari kepala sampai kaki sekitar dari 3,5 cm. tubuhnya sudah mulai berbentuk. Pada usia 10 minggu, tulang bayi di dalam kandungan sudah mulai terbentuk. Penampilannya juga sudah semakin mendekati bentuk manusia seutuhnya."


Dokter tersebut juga menjelaskan berbagai perkembangan janin yang di kandung Calista. Seperti terbentuknya tulang bayi, tumbuhnya tunas gigi bayi, alat kelamin mulai berbentuk, akhir periode embrio.


"Kalian dengar detak jantungnya?" tanya Dokter tersebut menatap Carlos dan Calista secara bergantian.


Kedua orang itu mengangguk lalu saling memandang dengan mata berkaca-kaca.


Perut Calista dibersihkan lalu Carlos membantu sang istri turun dari brankar dan kembali duduk di hadapan sang Dokter.


Keduanya belum ada yang mengeluarkan sepatah kata namun tangan keduanya saling menggenggam.


"Pada usia kandungan Nyonya sekarang sudah bisa mulai memilih baju-baju hamil. Pasti baju yang biasa Nyonya pakai sudah mulai sempit, kan?"


Calista nyengir lalu mengangguk. Sedang Carlos langsung menoleh menatap sang istri.


"Jadi ini alasan nya kamu pakai jaket?" tanya Carlos menyelidik.


"Iya."


"Ya ampun. Kenapa gak bilang? setelah periksa kita belanja," titah Carlos tak terbantah dan Calista hanya menurut saja.


Calista menggigit bibir bawah merasa malu untuk bertanya keluhan nya apalagi ada Carlos di sampingnya.


"Kata Dokter bulan lalu, payu dara aku akan semakin membesar. Nah, sekarang aku sudah mulai gak nyaman pakai br*a yang biasa aku pakai."


Dokter tersebut tersenyum. "Kalau gak nyaman pakai br*a ada kawat nya, pakailah br*a tanpa kawat atau br*a menyusui yang lebih fleksibel digunakan," terang sang Dokter.


Sang Dokter juga menjelaskan pada usia kandungan Calista saat ini harus memerhatikan asupan nutrisi, memantau kenaikan berat badan, mengatasi sembelit, resiko keguguran masih tinggi.

__ADS_1


Usai periksa kandungan, Calista duduk di kursi tunggu sedang Carlos menebus obat. Carlos terus mengembangkan senyum begitu juga dengan Calista.


Carlos merangkul pinggang dan menggenggam tangan Calista dengan sangat lembut. "Kamu ikut aku pulang, ya!"


__ADS_2