Aku Bukan Rahim Pengganti

Aku Bukan Rahim Pengganti
65. Aku Bukan Rahim Pengganti


__ADS_3

Setiba dirumah, Dewi langsung masuk ke kamar. Di dalam kamar, Dewi menumpahkan segala kesedihan dihati. Dirinya sadar akan kesalahannya sekarang, seharusnya sadar bila sang suami juga memiliki istri dan anak sebelum menikahinya.


Lelah menangis, Dewi tertidur di kamar yang sudah lebih luarls dari sebelumnya. Karena Fadil merenovasi rumah sederhana nya menjadi lebih luas dari sebelumnya.


Sore hari hampir petang, Fadil pulang ke rumah bersama anak-anak asuh nya dari kebun.


Di buka pintu utama rumahnya, sepi. Itulah yang dilihat Fadil. Ia pun berlalu ke kamar mandi lebih dahulu sesudah itu masuk ke dalam kamar.


Fadil tersenyum melihat Dewi sedang tertidur. Didekati istri nya itu lalu berjongkok tepat di wajah Dewi.


Dikecup kening Dewi dengan lembut. Walau hatinya sedang gundah gulana, menyadari bila hatinya masih terpahat pada Nadia tak menyurut perhatian buat Dewi.


Ya, Fadil sudah menyadari bila hati nya masih terpatri pada Nadia. Mau seburuk apapun perlakuan ibu dari anak sulung nyankepada dirinya, tetap saja hati masih memikirkan Nadia.


Hingga ujian cinta dan kesetiaan teruji dengan kehadiran Dewi, membuatnya lupa. Lupa dengan semuanya termasuk pada Mario, anaknya.


Tetapi, mau bagaimanapun perasaan Fadil tetap memperlakukan Dewi dengan baik. Hanya saja, pikiran nya masih terganggu karena Mario belum mau berbicara dan memaafkan kesalahan nya. Hingga terkadang Fadil lebih sering diam jika berada di rumah.


Sepertinya Dewi terusik sampai terbangun. Mata keduanya bertemu. "Mas," ucap Dewi lirih.


"Ya. Apa kamu ingin sesuatu?" tanya Fadil lembut bangkit menjadi duduk di tepi ranjang.


"Maaf," tak lantas menjawab, Dewi justru meminta maaf dan meneteskan air mati.


Fadil panik, ia membantu Dewi agar duduk. "Kamu kenapa?" tanyanya seraya menghapus air mata Dewi.


"Maaf. Karena keegoisan ku, Mario membenci mas."


Fadil menatap Dewi dengan seksama bersamaan kerutan di dahinya terbit mengartikan dirinya masih butuh kejelasan.


"Tadi aku ke rumah Mbak Nadia," ucap Nadia singkat membuat Fadil terkejut.


"Maaf. Benar yang dikatakan Mario, aku lah yang tega."


Dewi menangis tersedu-sedu membuat Fadil tak tega dan merengkuh istrinya. Tetapi, pikiran nya tengah menduga-duga apa saja yang dikatakan Mario terhadap Dewi.


Apakah setajam ketika berbicara padanya?


Apakah lebih menyakitkan?

__ADS_1


Apakah Mario kasar pada Dewi?


"Tenang, ya. Kamu istirahat dulu. Biar mas buat teh untuk mu," ujar Fadil kemudian membantu Dewi bersandar pada headboard ranjang.


Fadil keluar kamar lalu meraih ponsel di atas meja kemudian berjalan menuju dapur hendak merebus air dan membuat teh untuk Dewi.


Jemarinya mendial nomor ponsel Mario, tetapi panggilan yang terhubung selalu tak mendapat jawaban dari Mario.


"Kamu sudah kelewatan, Mario. Ini masalah kita kenapa harus Bunda juga menjadi sasaran amukan mu," gumam Fadil mengusap wajah kasar dengan telapak tangan.


Selesai membuat teh dan memberikan pada Dewi, Fadil pamit keluar sebentar. Kebetulan, kebutuhan dapur telah habis dan waktunya berbelanja mingguan.


Sedang Dewi setelah meminum teh langsung tertidur kembali.


Sebelum berbelanja, Fadil berniat mendatangi Mario lebih dahulu.


...----------------...


Di rumah Nadia.


"Jangan larut dalam kesedihan," tutur Malvyn pada Mario.


Mario mengangguk lalu memindahkan prajurit dalam permainan catur yang baru mereka mulai.


"Aku lebih suka kamu yang dulu. Cuek bebek tapi perhatian. Terutama pada kembaranku," tutur Malvyn lagi juga memindahkan prajurit dua langkah setelah Mario.


Mario berdecak. "Aku hanya mengagumi. Tapi aku gak percaya cinta," jawab Mario.


Malvyn mengangguk setuju. "Cinta bisa dibeli ketika ada uang."


"Benar. Kita sebagai pria harus bekerja agar punya banyak uang. Jangan mengaku bisa hidup sederhana tetapi ketika bertemu daun muda justru lapar dengan uang," secara tidak langsung Mario membicarakan ayah nya sendiri.


Malvyn menghela nafas panjang. "Kecewa boleh. Tapi jangan membenci, Mario."


Mario hanya mengangguk dan melanjutkan permainan catur mereka. Begitulah Malvyn terhadap Mario hingga timbul rasa hormat tanpa diperintah.


Mario merasa memiliki teman, saudara, dan Bos sekaligus pada diri Malvyn. Itulah sebabnya mengapa Mario begitu tunduk pada Malvyn.


Hingga Bibi Nur datang dan memberi tahu jika ada Fadil di ruang tamu. Awalnya Mario tak ingin bertemu, tetapi atas bujukan Malvyn akhirnya menurut walau dengan terpaksa.

__ADS_1


Baru saja Mario bangkit dan berbalik hendak melangkah, ternyata Fadil sudah masuk ke dalam ruang bermain nya. Malvyn juga ikut berdiri karena melihat Fadil masuk dengan mimik wajah marah.


"Apa yang sudah kamu katakan pada Bunda, Mario?" tanya Fadil marah.


Baik Mario dan Malvyn masih diam dengan mimik wajah bingung. "Aku hanya bilang dia bukan ibuku dan menyadarkan dia kalau ada aku di kehidupan ayah," sahut Mario jujur.


"Apalagi?" tanya Fadil.


"Aku suruh pulang," jawab Mario jengah. Baginya, ini terlalu berlebihan.


"Bisakah ayah mengunjungi ku bukan hanya karena istri ayah? aku juga anakmu," ucap Mario kemudian duduk kembali. Ia begitu rapuh dibalik diamnya selama ini.


Belum ada yang membuka suara hingga terdengar suara dering ponsel milik Fadil. Dan itu membuat Mario tersenyum miring. Karena yakin pasti Dewi lah yang menghubungi Fadil.


Fadil mengangkat telepon dari Dewi. Wajah nya berubah panik kala mendengar Dewi menangis di seberang sana.


Tanpa berkata apapun lagi, Fadil hendak pergi. Tetapi langkahnya terhenti ketika suara Mario menggelegar.


"Aku ingin tahu, apa yang akan ayah lakukan jika aku melarang ayah pulang. Sama seperti saat Ibu sedang membutuhkan ayah karena mengalami kram perut. Tapi justru ayah memilih istri baru ayah itu," tutur Mario membuat Fadil membelalakkan mata tak percaya mendengar ucapan anaknya.


"Mario. Dengarkan ayah, Bunda tadi menelepon sambil menangis. Ayah takut terjadi sesuatu," ucap Fadil meminta pengertian Mario.


Mario tersenyum getir. Bukankah seharusnya ia sudah tahu jika ayah nya akan memilih istri baru dari pada anak? Sedangkan saat Nadia masih ada dan mengalami kram perut, Fadil dengan tega meninggalkan mereka berdua saat Dewi menelepon.


Fadil melihat Mario hanya diam menatap dirinya. Ia belum bisa mengambil keputusan karena yakin bila sang anak tengah menguji kasih sayang nya.


Tentu saja Fadil menyayangi Mario, tetapi sekarang istrinya sedang hamil. Apalagi tadi Dewi menelepon terdengar suara tangisan.


Akhirnya Fadil mencoba menghubungi Dewi kembali tetapi ponsel Dewi tak dapat dihubungi dan justru semakin membuatnya khawatir.


"Ayah akan kembali setelah memastikan Bunda baik-baik saja. Ayah janji," ucap Fadil dengan wajah gusar melangkahkan kaki hendak keluar dari ruang bermain Mario.


Mario menatap kepergian Fadil dengan tatapan nanar. Jika yang lalu ada sang ibu menemani nya saat merindukan Fadil, tetapi sekarang dirinya sendiri.


"Aku bersumpah, ayah. Jika ayah melangkahkan kaki keluar dari rumah ini. Maka aku memutuskan ikatan ayah dan anak diantara kita," suara Mario menggelegar mengejutkan semua orang disana.


❤️


Maaf telat up ya..

__ADS_1


__ADS_2