Aku Bukan Rahim Pengganti

Aku Bukan Rahim Pengganti
25. Aku Bukan Rahim Pengganti


__ADS_3

"Keluar," ucap Calista dingin.


"Keluar atau aku yang keluar?" tanya Calista bertambah emosi.


Bagaimana tidak? Carlos hanya diam saat ia memberi pilihan. Diam Carlos sudah membuktikan bahwa suami nya itu hanya menganggap dirinya sebagai rahim pengganti untuk Carlos dan Nadia.


"Calt. Jangan kayak gini," kata Carlos lirih.


Calista memejamkan mata sejenak bersamaan air mata itu kembali luruh. Ia tidak tahu mengapa begitu sakit berada di posisinya. Terbesit rasa sesal karena mengambil langkah ini hanya untuk membalas sakit hati nya pada Carlos.


Diseka kembali air mata itu lalu membuka pintu mobil, keluar dan tak menghiraukan panggilan Carlos.


Walau bagaimana kuat niat awal untuk balas dendam, tapi ia juga seorang wanita. Calista masuk ke dalam taksi yang sudah diberhentikan nya.


Beberapa saat kemudian, taksi berhenti tepat di depan pemakaman. Calista membayar ongkos taksi lalu turun.


Ia masuk ke pemakaman dan mencari makam ibunya, Anabella.


Ia duduk di samping pusaran ibu kandungnya. Bibirnya tersenyum tetapi air mata tak kunjung berhenti. Tangan nya terulur mengelus batu nisan lalu mencabuti rumput yang tumbuh di pusaran.


"Mama apa kabar?"


Diseka air matanya. "Mama tahu, gak? sekarang Calista jadi pelakor," ucap Calista dengan suara bergetar namun sedetik kemudian terkekeh.


Diseka kembali air matanya. "Persis kayak keinginan Mama untuk memisahkan Papi Ed dan Mami Ivy. Beruntung Mama gak jadi pelakor. Sakit, Ma."


Calista menangis sesegukan. Bahkan ia tak memikirkan jika pakaian nya telah kotor akibat duduk di tanah merah tanpa alas apapun.


...****...


Carlos sangat khawatir dengan keadaan Calista membuatnya mengikuti kemana istri kecilnya hendak pergi.


Melihat taksi yang ditumpangi Calista berhenti di Pemakaman, ia tahu jika Calista akan mengunjungi makam mantan teman ranjang, ibu dari istri kecilnya, lebih tepat pemakaman ibu mertua nya.


Ia sudah mulai mengenal Calista jika sedang marah akan memilih pergi untuk menenangkan diri. Itulah mengapa memilih membuat jarak sementara waktu dan memantau istri kecilnya dari jauh.

__ADS_1


Tetapi, rasa penasaran apa yang hendak dilakukan Calista membuatnya mendekat. Ia berdiri tepat di belakang Calista yang sedang bercerita. Apalagi saat Calista mengatakan sakit menjadi pelakor.


"Sayang," pekik Carlos ketika tubuh Calista tumbang dan tergeletak di tanah.


"Sayang," panggil Carlos menepuk-nepuk pipi Calista yang tak sadarkan diri.


Ia menggendong Calista dan memasukkan ke dalam mobil. "Ke Rumah Sakit cepat, Gus!"


Mobil melaju dengan kecepatan kencang menuju Rumah Sakit terdekat. Tampak jelas raut wajah khawatir pada wajah Carlos.


Carlos terus saja bergumam kata maaf pada Calista. Rasa bersalah semakin dalam saat melihat wajah Calista semakin pucat.


Sesampainya di Rumah Sakit. Carlos berlari menggendong Calista. Ia berteriak agar para perawat segera menghampiri dan memeriksa istri kecilnya.


Calista sudah dipindah ke ruang rawat inap. Carlos sedari tadi tak melepas genggamannya pada tangan Calista seraya melabuhkan kecupan berulang kali.


"Maaf. Ayo bangun, sayang. Maafin aku gak bisa kasih kebahagian yang utuh," gumam Carlos kemudian menelungkup kan kepala dengan masih menggenggam tangan Calista.


Dokter menerangkan bila Calista kelelahan dan mengalami setres berat. Istri kecilnya itu membutuhkan istirahat total. Bukan hanya tubuh melainkan pikiran juga butuh istirahat. Apalagi Calista saat ini tengah mengandung pada usia yang masih sangat muda, tentu saja dengan mudah mengalami yang namanya setres.


...****...


Tengah malam Calista baru saja sadar. Matanya menatap langit-langit ruangan kemudian melihat tangan kirinya tertancap jarum infus dan tangan kanan terasa berat.


Dilirik siapa yang telah menggenggam tangannya. Di tarik dengan kasar tanga nya setelah mengetahui Carlos lah sang pelaku.


Carlos terbangun lalu tersenyum merasa senang Calista telah sadar. "Sayang," ucapnya bangkit hendak mencium kening Calista namun istri kecilnya menghindar.


"Sayang. Kata Dokter kamu terlalu lelah dan gak boleh banyak pikiran. Jangan bahas itu lagi, oke. Aku yang salah," ucap Carlos lirih.


"Kalau gak bahas itu? sampai kapan aku jadi istri simpanan dan kalian anggap sebagai rahim pengganti? Aku nyesel sudah memintamu untuk menikahiku. Padahal sangat jelas kamu gak mau nikahi aku krna gak bisa duain istrimu. Pergilah! Jangan temui aku lagi," terang Calista lalu memiringkan badan memunggungi Carlos.


"Calista. Tolong jangan kayak anak-anak begini," protes Carlos lirih.


Tangan Calista terkepal kemudian balik badan lagi. "Ya. Aku masih anak-anak yang sudah diperkosa pria tua dan terpaksa menjadi rahim pengganti untuk pasangan suami istri egois kayak kalian."

__ADS_1


Tatapan keduanya bertemu. Tatapan Calista yang tajam justru membuat Carlos tak berkutik.


"Pergi dan jangan pernah temui aku lagi."


...****...


Kepergian Carlos membuat Nadia malu. Dita sudah pergi karena titahnya. Dengan perasaan marah, Nadia kembali pulang menunggu kedatangan Carlos.


Tetapi, hingga larut malam Carlos tak kunjung pulang. Perkataan Carlos terus terngiang. Ego nya menolak jika maksud dari perkataan Carlos adalah jika suaminya telah memiliki wanita lain.


"Ini gak bisa dibiarin. Aku harus mencari tahu siapa wanita ja lang itu," ucap nya dengan nafas memburu.


Nadia memilih tidur, berharap setelah bangun pagi Carlos sudah berada disampingnya dan memeluk erat tubuhnya.


Tetapi, lagi-lagi Nadia mendapati sebelah kasurnya yang dingin. "Apa kamu benar-benar sudah mendua? aku gak akan Sudi," geram Nadia.


Ia gegas bersiap untuk mencari suaminya. Setelah sarapan yang sudah disiapkan juru masak di rumah.


Nadia melajukan mobilnya menuju Kantor Carlos. Sesampainya disana, ia melenggang tanpa menjawab sapaan para pegawai kantor.


Nadia masuk ke ruang Carlos tanpa permisi. Lagi-lagi pemandangan yang dilihat membuatnya semakin berapi-api. Bagaimana tidak? Carlos belum ada di ruangan nya. Padahal Carlos adalah pria yang begitu disiplin jika persoalan pekerjaan.


"Ternyata pelakor itu sudah membuatmu sangat berubah, Carl."


Nadia mencari sesuatu yang dirasa mencurigakan. Laci meja kerja dibuka, dibuka setiap map di atas meja. Beralih ke rak berkas, lalu lemari hias di sudut ruangan tetapi tetap tidak ada juga.


Nadia memilih masuk ke dalam kamar yang sudah jarang dikunjungi semenjak lebih suka menghabiskan waktu di luar bersama dia.


Nadia berjalan mendekati lemari. Di buka lemari khusus pakaian nya. Tentu saja tidak ada yang berubah. Di tatap pintu lemari pakaian Carlos. Entah mengapa hatinya tertarik untuk membuka pintu itu.


Di acak-acak pakaian Carlos hingga menekmukan celana da lam wanita sangat tipis seperti saringan teh.


Nadia tahu betul benda itu bukan miliknya apalagi ukuran nya lebih kecil dari miliknya.


Di remas benda itu. "Aku gak akan biarkan siapapun wanita lain merebutmu, Carlos. Gak akan."

__ADS_1


"Aaarrgghh..."


__ADS_2