Aku Bukan Rahim Pengganti

Aku Bukan Rahim Pengganti
74. Aku Bukan Rahim Pengganti


__ADS_3

William berlari ke arah gedung dimana tempat penyelenggara pentas seni Wilson. Setiba berada di dalam gedung, William mencari dimana Wildan dan Anita duduk.


Di lihat dari belakang, Wildan dan Anita duduk bersebelahan pada barisan kedua yang telah di sediakan pihak penyelenggara.


"Seperti pasangan suami istri saja," cibir William kemudian matanya membulat lalu menggeleng tak setuju atas apa yang dikatakan nya tadi.


"Ini gak bisa dibiarkan," ujar William seraya mengayunkan kaki menyusul Wildan dan Anita.


Ia pun duduk disisi kiri Anita yang kebetulan kosong dan Wildan duduk disisi kana gadis itu.


Wildan dan Anita tampak kaget atas kehadiran William yang datang secara tiba-tiba.


"Kamu bilang sedang hadiri rapat?" tanya Wildan tampak tak suka dengan kedatangan William.


William yang mengerti bila Wildan tak suka atas kedatangan nya segera menoleh. Ada senyum menyeringai terbit. "Sudah selesai dan aku harus menghadiri acara pentas seni anakku agar anakku senang. Bukan begitu, Anita?" kedua pria matang tersebut menatap Anita membuat sang gadis gelagapan.


"Eh.. Ah, iya itu benar yang dikatakan Om William." ucap Anita tergagap.


Rasanya belum pulih dari keterkejutan atas kehadiran William dan duduk disebelahnya malah ditanya seperti itu semakin membuatnya gelagapan dan gugup.


Sedang Wildan melengos melihat tingkah aneh sang adik. Tentu saja tahu bila adiknya itu menaruh perhatian pada pengasuh Wilson yang tak lain adalah sahabat anaknya sendiri.


Ketiga nya diam dan kembali duduk tegak melihat ke arah panggung saat Wilson membacakan puisi.


Ibu, kata mereka kau adalah pelita hidup.


Ibu, kata mereka pelukanmu menghangatkan dunia.


Ibu, kata mereka tuntunan mu menyelamatkan mereka dari kemalangan.


Ibu, kapan aku merasakan kehadiranmu?


Ibu,


Inginku memeluk erat tubuhmu.


Inginku lukis senyummu dalam benakku.


Inginku lihat wajah cantikmu dalam mimpiku.


Ibu,


Ingin ku lihat rupa mu setiap aku terbangun dan hendak tertidur


Inginku dengar suara tawa, tangis, dan marah mu padaku.


Inginku potret wajah cantikmu dan sebagai teman tidurku setiap malam.


Ibu.


Aku tahu, aku adalah anak yang beruntung karena Tuhan lebih sayang padamu.


Tapi, aku sangat merindukanmu.


Rindu dengan kebiasaan seperti mereka yang selalu diantar dan jemput oleh seorang ibu.


Rindu selalu di temani tidur oleh ibu.


Di tuntun kemana aku harus melangkah melawan kerasnya kehidupan.


Ibu, aku bahagia disini.


...----------------...


William menatap lurus ke arah panggung dimana Wilson baru saja membungkuk setelah membaca puisi.

__ADS_1


Mata William tampak memerah menahan air mata yang sudah tak terbendung lagi. Ia memilih bangkit dan meninggalkan kedua orang itu dan menyusul Wilson ke belakang panggung.


"Kemarilah," kata William bersimpuh mensejajarkan tinggi Wilson dan merentangkan tangan menanti sambutan pelukan dari anaknya itu.


Wilson tersenyum tipis lalu memeluk William. "Aku gak apa-apa, Pa. Jangan khawatir," kata Wilson.


Mendengar itu, William semakin mengeratkan pelukan. "Papa tahu kamu anak papa yang kuat. Ayo mengunjungi Mama," ajak William.


Wilson mengangguk sambil tersenyum. Anak laki-laki berusia tujuh tahun itu mengalungkan kedua tangan di leher dan menyandarkan kepala pada bahu William dalam gendongan sang ayah.


Baik William maupun Wilson sangat jarang mengakui kerinduan pada wanita berharga dalam hidup mereka. Tetapi keduanya sangat mengerti bila di hati sangat merindukan sosok wanita itu.


Diana.


Cinta pertama dari seorang pria bernama William Aletta. Keduanya menikah karena perjodohan dan berakhir dengan saling mencintai.


Diana telah tiada saat Wilson berusia tiga tahun. Wanita itu mengalami kecelakaan saat hendak pulang ke rumah.


Keadaan hujan deras dan berangin mengakibatkan pohon besar tumbang dan menimpa mobil Diana dan mengakibatkan kehilangan nyawa.


William dan Wilson yang tengah menunggu Diana pulang untuk merayakan ulang tahun istri dan ibu bagi dua pria beda generasi itu sangat terpukul mendengar kabar bila Diana mengalami kecelakaan maut.


Semenjak itu, William berubah menjadi pria yang suka gonta-ganti wanita hanya untuk menghibur disaat kesepian dan Wilson menjadi pribadi yang tertutup.


*


*


Setiba di pemakaman, William dan Wilson menaruh buket bunga lili kesukaan Diana di atas pusaran.


Kedua pria beda generasi itu tersenyum. Senyuman memiliki sejuta makna kerinduan yang tak dapat dirangkai oleh kata-kata.


Tidak ada yang membuka suara diantara keduanya. Hanya saling diam menatap batu nisan yang bertulis nama Diana Maheswari.


"I love you so much," ucap Wilson lirih.


"Jangan bersedih," kata William.


"No. I am not sad," gumam Wilson mengelak dari kenyataan yang ada.


William mengangguk dan mengajak Wilson pulang. Sebelum beranjak, William mengelus batu nisan itu kemudian menggendong Wilson kembali.


...----------------...


Anita merasa khawatir melihat reaksi William sehingga mengajak Wildan agar mengikutinya. Tetapi langkah kakinya terhenti melihat pemandangan dihadapan nya.


Dimana William dan Wilson berpelukan lalu pergi dengan anak itu berada dalam gendongan sang ayah.


"Om. Ayo kita ikuti mereka," ajak Anita dan disetujui oleh Wildan.


Disana lah mereka. Di dalam mobil luar area pemakaman. Jendela kaca mobil terbuka karena Anita sedang memerhatikan ayah dan anak berada di hadapan pusara seseorang.


"Apa itu makam Ibu Diana, Om?" tanya Anita memastikan sambil menoleh ke arah Wildan.


Dahi Anita mengerut melihat Wildan tampak salah tingkah saat ia menoleh barusan. "Om kenapa?" tanya Anita heran.


Wildan berdehem. "Gak kenapa-kenapa." Betapa malunya yang ia rasakan. Tadi, saat Anita memerhatikan William dan Wilson justru ia memerhatikan Anita dari samping.


Jujur saja, ia menaruh ketertarikan pada gadis sederhana yang tak lain sahabat putrinya sendiri.


"Mungkin saja itu makam istri William. Karena saat kejadian itu, Om masih dalam masa pengobatan di Singapura." terang Wildan dan Anita mengangguk-angguk paham.


"Besok Om akan berkunjung ke rumah Calista. Apa kamu mau ikut?" tanya Wildan seraya menghidupkan mesin mobil.


Anita menoleh sekilas. "Boleh. Tapi aku harus bawa William," sahutnya.

__ADS_1


"Tak apa. Kita ajak saja," kata Wildan lagi.


...----------------...


Ke esokan hari, Anita dan Wilson sudah di jemput oleh Wildan. Senyum manis dari Anita menyambut kedatangan ayah dari sahabatnya itu.


"Om bawa sopir?" tanya Anita.


Wildan mengangguk lalu membuka pintu untuk Wilson dan Anita. Setelahnya ia mengitari mobil dan duduk di sebelah Wilson, pada jok penumpang.


Wilson duduk di antara Wildan dan Anita.


Wildan banyak mengutarakan pertanyaan pada Anita tentang bagaimana keseharian bersama Calista, kuliah, dan kehidupan keluarga gadis itu.


"Aku sama Calista sudah bersahabat dari SMP, Om. Aku anak dari panti, dan biaya kuliah ku ditanggung Om Ed hingga, kini."


"Om baru tahu," tutur Wildan merasa tak enak hati.


"Karena Om baru bertanya," sahut Anita membuat keduanya terkekeh.


...----------------...


Di Kantor.


William menghela nafas berat setelah menerima telepon dari pelayan rumah bahwa Anita pergi bersama Wildan mengajak Wilson.


"Sialan kak Wildan. Hari libur aku harus bekerja dan dia enak-enakan pergi bersama Anita dan anakku," gerutu William.


Sepanjang hari William mengerjakan proyek-proyek yang harus di selesaikan sampai akhir bulan.


Pukul tujuh malam Carlos baru menyelesaikan sebagian pekerjaan nya. Ia keluar dari ruang kerja menuju basement.


Masuk ke dalam mobil kemudian melaju membelah jalan menuju salah satu bar terkenal di Jakarta.


Di bar, William memesan minuman beralkohol. Tetapi sepertinya malam ini ia tak ingin bersenang-senang bersama wanita yang menyerahkan tubuh seksi mereka padanya.


Ia hanya kalut dan berprasangka bahwa Wildan sudah mendapatkan Anita sedangkan ia belum berani memulai mengejar.


William mabuk cukup berat malam ini. Hingga membuat salah satu bartender yang sudah mengenalnya mengantar pulang.


Susah payah bartender itu memapah badan kekar William membawanya ke mobil.


...----------------...


Bartender itu kembali memapah sampai ke depan pintu rumah William. Bel rumah terus dipencet hingga Anita membuka pintunya


Anita tampak terkejut melihat keadaan William sudah mabuk. "Tolong bantu saya ya, mas."


Bartender itu mengangguk lalu kembali memapah William masuk ke dalam kamar.


Setelah merebahkan William, Anita mengantar bartender itu sampai ke depan pintu dan mengucapkan terima kasih barulah di kunci kembali pintu itu.


Anita menghela nafas berat lalu kembali ke kamar William. Ia mengamati William yang sedang mabuk berat.


"Kamu kenapa sih, Om." gerutu nya merasa tak suka bila William mabuk seperti ini.


Anita memberanikan diri melepas sepatu dan kaos kaki William. Setelahnya, Anita menarik tubuh William agar menjadi terlentang.


Perlahan ia membuka kemeja yang di kenakan William. "Om," pekik Anita saat tiba-tiba William menariknya lalu memeluk dengan erat.


"Anita," gumam William dalam ketidak sadaran nya.


"I-iya, Om."


"Aku mencintaimu."

__ADS_1


DEG


__ADS_2