Aku Bukan Rahim Pengganti

Aku Bukan Rahim Pengganti
85. Aku Bukan Rahim Pengganti


__ADS_3

Setelah mengantarkan Wildan dan Anita sampai depan rumah, Carlos langsung menyusul Calista ke dalam kamar.


Ketika sudah berada dalam kamar, Carlos menggeleng melihat Calista sedang makan cemilan dengan wajah yang muram.


Ia pun mendekati dan duduk disebelah Calista.


"Jangan coba-coba menasihati aku, Om."


Carlos paham apa yang di rasakan Calista menuruti apa yang dikatakan sang istri. Justru ia ikut mengambil keripik kentang sebagai cemilan ibu hamil itu.


Carlos merebahkan kepala di atas paha Calista dan menghadap ke perut buncit. "Sayang. Berapa lama lagi anak kita lahir?" tanya Carlos menatap ke atas.


"Dua bulan lagi, Om. Gimana sih? setiap bulan periksa selalu ikut tapi lupa terus. Nampak banget kalau sudah tua," cerocos Calista.


Carlos menganga mendengar apa yang baru dikatakan Calista. Selama mereka menikah, Calista tak pernah mengatakan bila ia sudah tua.


"Sayang. Kamu membuat kesal," ucap Carlos kemudian bangkit dan menggendong Calista membuat sang istri memekik.


"Om," pekik Calista bahkan cemilan nya sudah jatuh ke lantai.


Carlos tak menjawab memilih menikmati bibir Calista yang terasa bumbu dari keripik kentang.

__ADS_1


Carlos terus mengeksplorasi bibir Calista dengan tangannya mulai nakal meraba dan meremas titik sensitif tubuh sang istri.


"Ah.. Om," lenguh Calista selalu tak berdaya dibuat Carlos.


Tanpa terasa kedua tubuh mereka sudah tak terbalut apapun. Carlos paling suka melihat Calista tak berdaya karena perbuatan liarnya.


"Om.. Masukin," rengek Calista.


Carlos tersenyum mendengar rengekan Calista. Segera ia arahkan junior ke lembah kenikmatan Calista.


Carlos mulai memacu gerakan maju mundur mencari kenikmatan tiada tara. Hingga puncak kenikmatan itu akhirnya sampai diiringi erangan dari keduanya.


Selama Calista hamil membesar, Carlos sangat mengontrol hasrat yang yang sering tak terkendali. Ini ia lakukan karena tak ingin terjadi sesuatu yang membahayakan calon anaknya.


"Ya," jawab Carlos seraya membelai rambut pirang Calista.


"Om gak bakal tinggalin aku kan?" tanya Calista entah mengapa merasa takut kehilangan Carlos.


Carlos melonggarkan pelukan, memundurkan posisi badan agar dapat menatap wajah Calista.


"Gak akan, sayang."

__ADS_1


"Kata mereka, pria yang berselingkuh pasti akan mengulangi kesalahan yang sama dan aku akan mengalami apa yang di alami mantan istri Om," Calista memeluk Carlos dan terisak yang semakin pecah.


Carlos mengeratkan pelukan. "Aku berjanji, sayang. Hanya kematian yang akan memisahkan kita."


Cukup lama Carlos menenangkan Calista. Malam ini ia tak ingin membahas persoalan hubungan Wildan dan Anita karena tahu bila sang istri belum menerima hubungan itu.


*


*


Keesokan hari, Calista memilih tak masuk kuliah karena belum ingin bertemu Anita. Ia akan ikut ke kantor Carlos hari ini.


Selesai sarapan, keduanya berangkat dengan pak Agus. Rencana nya, dalam dekat ini mereka akan membuat acara syukuran atas kehamilan Nasya.


Bukan acara besar, hanya acara kecil-kecilan yang di hadiri keluarga dan orang terdekat saja.


Sepanjang jalan koridor, Carlos tak melepas rangkulan di pinggang Calista. Semua karyawan sudah menerima kehadiran Calista selain Selly yang memang mengincar Carlos.


Carlos menuntun Calista agar duduk di sofa. "Sayang. Kalian tunggu disini, Papi mau cari uang biar bisa beli susu!" ucap Carlos mengecup kening kemudian perut Calista.


Calista terkekeh melihat tingkah Carlos. Sebenarnya, sedari tadi malam ia terus mencoba mengalihkan pikiran dari persoalan hubungan Wildan dan Anita.

__ADS_1


Aku tak mengapa kalau dia jadi bibiku tapi bukan ibu ku.


__ADS_2