Aku Bukan Rahim Pengganti

Aku Bukan Rahim Pengganti
79. Aku Bukan Rahim Pengganti


__ADS_3

Fadil berdehem merasa kikuk berhadapan dengan Mario yang notabene anak sendiri. Sudah sangat lama sekali mereka tak bertegur sapa dan pada akhirnya bisa bertemu dengan anaknya.


Sudah kesekian kali Fadil meminta bertemu pada Mario tetapi baru sekarang anak nya itu mau menuruti permintaan nya.


"Kamu apa kabar?" tanya Fadil.


Mario menipiskan bibir dan mengangguk. "Baik. Eum, sangat baik."


Fadil mengela nafas panjang mendengar jawaban Mario terkesan dingin. iya memahami atas perilaku anaknya terhadapnya.


Fadil menggeleng ketika berandai-andai itu melintas kembali dalam benaknya, ia tahu bahwa waktu yang telah berlalu tak mungkin bisa diubah kembali.


Yang ada hanya kita harus bisa merubah masa depan menjadi lebih baik lagi.


"Bagaimana sekolahmu?" tanya Fadil.


"Seperti biasa, aku akan menjadi yang ke dua karena Malvyn selalu bisa menjadi lebih unggul."


Fadil tersenyum mendengar jawaban Mario sangat panjang walau masih terkesan dingin. Ini sudah lebih dari cukup.


"Maafin, ayah."


Mario tak menjawab. Sejujurnya, rasanya masih enggan untuk bertemu dengan Fadil. Tetapi karena iming-iming akan mendapat bonus sebuah motor besar dari Malvyn, ia terpaksa datang atas perintah sahabat sekaligus bos nya itu.


Rasa kecewa dan trauma itu masih memenuhi hati seorang Mario Wiguna.


"Aku harus pergi," ucap Mario kemudian bangkit dan meninggalkan Fadil tanpa pamit.


Fadil menghelan nafas berat melihat bagaimana Mario masih enggan berbicara kepadanya. Ia tahu bahwa sang anak masih begitu kecewa terhadapnya.


Fadil berharap suatu saat nanti Mario dapat mengerti posisinya kalau itu dan gini rasa sesal itu masih menyelimuti dunianya.


Fadel keluar dari Cafe setelah membayar pesanan di meja kasir ia menaiki motor dan melaju ke arah pulang.


Memikirkan bagaimana hubungan nya dengan Dewi yang masih sangat dingin membuat Fadil semakin frustasi.


Ia sudah tak ingin bermain-main dengan pernikahan Fadil sudah memikirkan matang-matang akan memperbaiki hubungannya dengan Dewi.


Setiba motor yang dinaiki Fadil telah sampai di depan rumah lihat membuka helm yang dipakainya tadi sebelum melajukan motor kemudian memasuki rumah mencari keberadaan Dewi.

__ADS_1


Fadil menghela nafas panjang beberapa kali sebelum mendekati sang istri. "Dewi." panggilnya melihat Dewi sedang menonton televisi.


Dewi menoleh melihat Fadil. Ada rasa senang mendapati suaminya mau menyapa lebih dulu seperti awal-awal pernikahan mereka.


Dewi menggeser duduk agar Fadil duduk di samping nya. Menunggu apa yang hendak di sampaikan suaminya.


Fadil duduk di samping Dewi. Berulang kali menghela nafas meyakinkan diri bila keputusan nya benar.


"Dewi. Mas mau ngomong sesuatu sama kamu," kata Fadil tetap lemah lembut seperti biasa.


"Mas mau ngomong apa?" tanya Dewi.


Fadil merubah duduk menjadi ke arah Dewi. Di genggam kedua tangan sang istri dan itu mampu membuat Dewi menjadi gugup.


Di kecup punggung tangan itu semakin membuat sang empu membeku.


"Kita bukan lagi anak muda yang dengan mudah kawin cerai. Aku sudah kepala empat dan kamu kepala tiga. Aku sudah pernah gagal dalam berumah tangga dan aku menyesali perbuatan ku."


Fadil menjeda ucapan dengan menarik nafas dalam. "Sayang. Mari kita mulai dari awal lagi. Mari kita saling mengenal karakter masing-masing. Aku gak ingin anak kita mengalami apa yang dialami anakku dan Nadia," imbuh Fadil lagi.


Benar. Fadil sudah cukup lelah dengan permasalahan nya dengan Mario dan ia tak ingin menambah permasalahan juga tak ingin membuat calon anak mereka mengalami apa yang dialami Mario.


Fadil akan berusaha keras agar hubungan dengan Mario kembali baik seperti dulu.


Dewi membisu, lidah nya seakan keluh mendengar penuturan Fadil barusan. Benarkah Fadil meminta memperbaiki hubungan mereka?


Padahal tadi sempat berpikir bahwa Fadil akan segera meninggalkan nya. "Mas," ucapnya tak mampu berkata apapun lagi.


Fadil mengecup kening Dewi. "Berkorban dan cobalah sekuat tenaga untuk memperbaiki hubungan kita, sayang."


Dewi menunduk merasa terharu. "Mas tahu kalau aku matre, kan?"


Fadil terkekeh kemudian mengangkat dagu Dewi dengan kepalan tangan nya. "Setiap wanita memang materialistis, Wi. Tapi mulai sekarang mari bekerja sama atas kebutuhan kita. Dan juga kamu ingat, harta yang aku miliki itu milik Mario dan anak kita. Jangan lagi protes masalah harta ku," terang Fadil membuat Dewi bungkam.


"Jaga dia, Wi!" kata Fadil kemudian mencium bibir Dewi dengan rakus.


Memang Fadil sudah menyadari bila cinta masih terpatri pada Nadia. Tetapi ia mulai menerima kenyataan bahwa cinta nya telah dibawa pergi oleh Nadia untuk selamanya.


Dan kini, hanya tersisa tanggung jawab yang akan terus diemban hingga akhir hayat.

__ADS_1


*Nadia. Maafkan aku, tapi aku harus memikirkan masa depan anak ku juga tanpa melupakan anak kita. Jagoan kita.


Nadia. Aku harus melangkah ke depan agar aku tak terpuruk atas kepergian mu karena ulahku. Maaf aku telah berkhianat*.


Dewi mencakar punggung Fadil sebagai tempat menyalurkan kenikmatan yang diberikan Fadil.


Setiap hentakan mampu membuat Dewi terbang melayang. Perlakuan lembut Fadil mampu membuatnya mabuk kepayang.


Di buka matanya menatap Fadil yang berada di atas tubuhnya. Wajah pria dewasa yang masih mempesona.


Benarkah aku telah jatuh cinta? tentu saja, dia begitu baik dan penyayang.


Hingga erangan dan desa han panjang keduanya terdengar di ruang tamu itu terdengar sesaat telah menggapai puncak nirwana.


"Makasih, Wi!" ucap Fadil mengecup kening Dewi kemudian bangkit dari atas tubuh istrinya.


Fadil mengambil kemeja lalu menutupi sebagian tubuh Dewi. "Tunggu sebentar disini, aku akan merebus air agar kamu mandi air hangat," katanya setelah memakai celana yang di kenakan nya tadi.


Fadil melangkahkan kaki ke dapur, mengambil panci dan mengisinya dengan air kemudian merebusnya.


Sambil menunggu air itu mendidih, Fadil mandi lebih dahulu.


Beberapa saat kemudian, Fadil keluar kamar mandi dengan handuk melilit di pinggang. Ia melihat air tadi telah mendidih langsung mematikan kompor dan mengangkat panci tersebut dibawa ke kamar mandi untuk dimasukkan ke dalam ember besar yang telah terisi air dingin sebelumnya.


"Wi. Air sudah siap. Mau mandi sekarang?" tanya Fadil setelah sudah berada di ruang tamu dimana Dewi berada.


Dewi tampak kikuk melihat penampilan Fadil yang mengundang hasrat, lagi. Ia cukup bangga memiliki tubuh bagus walau tidak pernah nge-gym seperti orang kaya.


Apalagi sangat banyak dijumpai bila seorang suami akan membuncit setelah menikah. Tetapi Fadil tidak mengalami itu dan Dewi berharap tidak akan mengalami.


Dewi duduk dengan memegangi kemeja Fadil di dadanya.


"Kenapa di pegang gitu?"


Dewi mencebik. "Aku malu. Sudah sana, mas."


Fadil tersenyum lebar. "Baiklah, aku ke kamar lebih dulu."


Fadil masuk ke dalam kamar, meninggalkan Dewi yang tengah mengelus dada.

__ADS_1


__ADS_2