Aku Bukan Rahim Pengganti

Aku Bukan Rahim Pengganti
46. Aku Bukan Rahim Pengganti


__ADS_3

Calista memandangi tubuhnya dari pantulan cermin. Berat badan bertambah semakin membuatnya terlihat begitu seksi.


Perut yang sudah mulai membuncit, dilihat dari posisi samping. Di elus-elus lembut perutnya. Hari ini, Calista berada di rumah tanpa Carlos karena hendak membereskan barang-barang Nadia dan semua barang disana termasuk ranjang tidur.


"Makasih ya, Pak!" ucap Calista ketika orang suruhan telah mengeluarkan barang Nadia dan memasukkan barang yang baru.


Calista melihat semua barang sudah tertata rapi sesuai keinginan nya. Dua pelayan lain sedang menyusun pakaian dan barang keperluan nya di ruang ganti.


"Mbok, Yem. Seprei biru yang kita belanja online kemarin sudah sampai?" tanya Calista.


"Sudah Nya. Mau saya ambilkan?"


Calista menoleh. "Tolong ya, Bi."


Mbok Iyem pun berlalu. Awalnya, para pelayan selalu bersikap sinis pada Calista setelah mengetahui bila gadis periang itu adalah pelakor di pernikahan majikan mereka.


Tetapi, setelah kepergian Nadia dia Minggu lalu dan Calista selalu bersikap sopan dan ramah pada mereka, menjadikan sedikit demi sedikit menerima Calista.


Mbok Iyem kembali ke kamar utama dengan badcover di tangan nya. Calista membuka badcover tersebut dan dipasangnya juga dibantu oleh Mbok Iyem.


Seprei biru tua motif bulan bintang. Ia tersenyum melihat seprei tersebut lalu melihat perabot lain nya yang sudah berwarna bukan lagi warna hitam, abu-abu, ataupun hitam menghiasi kamar mereka.


"Nyonya. Ini jus alpukat dan buahnya sudah siap," ucap salah satu pelayan dan Calista mengangguk.


Calista keluar dari kamar diikuti Mbok Iyem yang memang ditugaskan untuk menjaga Calista ketika Carlos sedang tidak bersamanya di rumah.


Ia duduk sembari memakan potongan buah tadi. Senyuman nya mengembang ketika Carlos menghubungi nya.


"Om."


"Hai sayang. Gimana harimu?"


"Sepi. Enggak ada Om, gak rame."


"Apa kamu mau ke Kantor? biar Sopir menjemputmu."


Calista menggeleng walau Carlos tak melihatnya. "Aku mau di rumah saja, Om. Aku baru saja selesai ngurus kamar kita dan barang-barang lama itu aku kasih ke pelayan dan barang-barang Tante Nadia sudah aku kirim ke alamat rumah nya."


Terdengar kekehan di seberang telepon. "Jangan kelelahan, sayang. Ingat, kamu sedang hamil."


Calista mengangguk. "Iya aku tahu. Hari ini aku enggak masak, jangan marah ya."


"Jangan pikirkan itu, yang terpenting kamu jaga anak kita untukku."

__ADS_1


"Tentu. Om jangan lupa makan siangnya."


"Iya, aku mencintaimu."


"Aku juga, semangat kerjanya sayang. Cari uang banyak-banyak."


Telepon tertutup dan atensi beralih pada Mbok Iyem yang tengah senyum-senyum. "Kenapa Mbok? kok senyum-senyum?"


"Maafkan saya sudah mendengar pembicaraan Tuan dan Nyonya barusan."


Calista memasukkan potongan buah ke mulut lalu mengacungkan jempol pada Mbok Iyem sebagai isyarat tidak masalah.


"Pasti Tuan sangat bahagia saat ini karena akan punya anak," ucap Mbok Iyem tulus.


Calista tersenyum lalu pandangan nya beralih pada perutnya yang mulai menonjol. "Iya Mbok. Aku selalu melihat pancara mata suamiku terlihat sangat bahagia dan itu, membuatku juga bahagia."


"Iya. Mbok juga bisa melihat itu, Nya. Bahkan sekarang, Tuan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama Nyonya. Sangat berbeda saat bersama Nyonya Nadia,-"


"Berbeda gimana, Mbok?" tanya Calista penasaran tetapi Mbok Iyem menanggapi berbeda.


"Maaf, Nyonya. Saya gak bermaksud untuk menceritakan tentang Nyonya Nadia bersama Tuan."


Calista berdecak. "Justru aku penasaran, Mbok. Apalagi melihat kemesraan mereka di media sosial. Saat aku tahu, aku hamil setelah insiden malam itu langsung berniat menghancurkan rumah tangga suamiku. Tapi, setelah aku masuk dalam kehidupan suamiku justru merasa kasihan dan membuatku jatuh cinta karena kelembutan suamiku," ungkap Calista membuat Mbok Iyem mengusap lengan Calista.


"Tuan memang sangat lembut pada orang yang disayang beliau, Nya."


Calista mengangguk.


...----------------...


Carlos menghela nafas panjang. Merasa waktu empat belas tahun terbuang sia-sia. Sadar akan tak ada kedamaian hati sebelum Calista masuk kembali dalam hidupnya.


"Andai bisa memutar waktu, aku akan hidup bersama Calista lebih lama."


Beberapa jam kemudian, Carlos membereskan berkas dan alat kerja lain nya barulah meninggalkan ruangan.


Kebiasaan pulang malam sudah tak pernah dilakukan Carlos setelah menikahi Calista. Karena lebih memilih membawa pekerjaan nya ke rumah agar dapat menjaga Calista sekaligus.


Tentu saja ada saat dimana Calista seperti menginginkan dirinya berperan sebagai ayah, sahabat, atau kakak bagi istri kecilnya itu. Dan Carlos tak keberatan akan hal itu.


...----------------...


"Sayang," panggil Carlos setiba di rumah.

__ADS_1


Tidak ada sahutan. Carlos melangkah menuju kamar dan Calista juga tak ada disana. Diperiksa ponsel nya apakah istri kecilnya itu mengirim pesan pamit pergi keluar rumah.


"Enggak ada," gumam Carlos lalu keluar kamar mencari di sekitar rumah.


Ketika melewati dapur yang kosong, ia mendengar suara istrinya sedang berbicara.


"Mbok. Hanya kaki doang. Aku pingin banget mandi hujan," rengek Calista.


Carlos menggeleng mendengar rengekan Calista.


"*Tapi saya takut Tuan marah. Nanti Nyonya sakit."


"Mbok tenang saja. Suamiku itu gak akan marah. Nanti aku cium kalau marah*."


Carlos terkekeh langsung melangkah lebar mendatangi Calista. Memang saat ini sedang hujan tetapi tidak terlalu deras.


Mbok Iyem melihat kedatangan Carlos langsung menunduk dan beringsut pergi setelah ia memberi isyarat.


Tanpa berbicara, Carlos langsung menggendong Calista hingga memekik kaget.


"Ya, Om."


Carlos menggeleng tegas. "Enggak boleh sayang. Itu gak baik untuk kamu yang sedang hamil. Banyak efek gak baik untuk kamu. Jangan ngeyel kalau dibilangin, semua itu untuk kebaikan kamu dan anak kita."


Calista mengangguk pasrah dalam gendongan Carlos. Begitu sampai di kamar, Carlos menurunkan Calista duduk di sofa. Diambil handuk lalu mengeringkan rambut dan tangan serta kaki istri kecilnya itu.


"Om juga basah," gumam Calista.


Carlos mendongak seraya tersenyum. "Ini gak seberapa, sayang. Ku mohon jangan bahayakan dirimu," ucap Carlos tulus.


"Maafin, aku. Aku akan terus belajar jadi istri yang baik untuk, Om."


Carlos mengangguk lalu mengecup bibir Calista dengan sayang.


"Sudah, Om. Nanti keterusan. Om kan tahu selama masuk trimester kedua aku semakin gak bisa kendalikan diri kalau sudah Om, goda."


Carlos terkekeh lalu memeluk Calista. Kepalanya yang berada di perut istrinya itu tiba-tiba membeku.


Bukan hanya Carlos, ternyata Calista juga mematung. Tatapan keduanya bertemu setelah bisa menyadarkan diri kembali.


"Sayang, apa dia bergerak?" tanya Carlos dengan mata berkaca-kaca.


"Aku gak tahu, Om. Tapi tadi kayak kedutan dari dalam perutku," sahut Calista merasa tak percaya.

__ADS_1


"Kata Dokter saat kita periksa waktu lalu, gerakan nya kayak kedutan tapi lebih terasa," Carlos langsung menyingkap dress Calista dan meraba perut istrinya itu.


"Sayang, dia bergerak lagi. Oh Tuhan, betapa aku bahagia sekali!"


__ADS_2