Aku Bukan Rahim Pengganti

Aku Bukan Rahim Pengganti
70. Aku Bukan Rahim Pengganti


__ADS_3

Sekali lagi Fadil pulang dengan perasaan hampa. Tetapi ada yang mengganjal di hati atas perkataan Mario terakhir tadi.


Setiba di rumah, Fadil langsung menemui Dewi. Ternyata istrinya tengah makan di dapur.


Ia pun tak lantas berbicara karena sedang menunggu Dewi selesai makan. Beberapa saat kemudian, Dewi sudah menyelesaikan makan barulah Fadil duduk disebelahnya.


"Apa aku boleh bertanya?" tanya Fadil lembut.


Dewi mengangguk. "Boleh, mas. Mau tanya apa?"


"Dewi. Selama ini, semenjak kamu menjadi istriku, semua keuangan kamu yang pegang dan kendalikan, bukan?" tanya Fadil dan Dewi mengangguk karena itulah kenyataan nya.


"Iya, mas. Memangnya ada apa? apa mas ingin modal, lagi?" tanya Dewi karena jika Fadil membutuhkan modal akan meminta padanya.


Fadil menggeleng lemah. Sebenarnya takut untuk menanyakan hal ini pada Dewi. Bukan takut pada Dewi dan berakhir pertengkarang. Tetapi, ia takut bila penyataan Mario kembali benar.


"Jadi ada apa, mas? tumben mas tanya masalah keuangan," tutur Dewi merasa heran.


Fadil menghela nafas. "Maaf sebelumnya, Wi. Sebenarnya aku gak mau mempertanyakan keuangan kita. Karena aku yakin, kamu dapat mengatasi pengeluaran kita. Tapi ada yang ingin ku tanyakan padamu."


Fadil menjeda uacapan nya, menatap Dewi sangat dalam. "Apa kamu gak pernah kasih uang pada Mario?"


Dewi terdiam.


Melihat reaksi Dewi membuat Fadil yakin bila apa yang dikatakan Mario adalah kebenaran. Sekali lagi, ia tak habis pikir dengan apa yang dilakukan istri muda nya ini.


"Berikan semua pembukuan, ATM, dan tabungan tunai. Mulai sekarang, aku yang akan mengatur keuangan."


Fadil bangkit meninggalkan Dewi menuju kamar. Di buka lemari Dewi dan diambil apa yang tengah dicarinya.


Di dapur Dewi melengos. Ia sudah merasa muak dengan sikap Fadil yang sekarang. Baginya, Fadil tak lagi seperduli dan seperhatian dahulu.


Dewi bangkit menyusul Fadil ke kamar. "Jangan sentuh itu, mas." sentak Dewi membuat Fadil terkejut.


"Jangan sentuh. Aku gak memberi izin kalau uang itu mas kasih ke Mario. Bukan nya istri pertama mas sudah meninggalkan banyak harta yang diberi papa tirinya?"

__ADS_1


Fadil menatap Dewi tak percaya. Ini adalah kali pertama istri mudanya berbicara tak sopan padanya.


"Apa maksud ucapanmu ini, Dewi?" tanya Fadil datar.


"Aku sudah muak berpura-pura, mas. Aku gak habis pikir dengan cara berpikir kalian. Kenapa kamu masih saja menjunjung istri tua mu padahal dia sudah mendua kan mu?" pekik Dewi dengan suara meninggi.


Tangan Fadil terkepal. "Bicara yang sopan, Dewi." Ia menekan setiap kata yang keluar dari mulutnya.


Karena, Fadil tak pernah sedikitpun meninggikan suara sebelumnya. Baik pada Nadia maupun Dewi.


"Benar yang aku bilang kan, mas? jawab pertanyaanku tadi," tutur Dewi masih menantan Fadil.


Fadil mengangguk. "Benar. Aku menjunjung tingga Nadia yang sudah menduakan aku. Sekali lagi aku jelaskan, hubungan kami bukan hanya sekedar empat belas tahun yang berbagi istri. Bahkan walau selama empat belas tahun itu Nadia tetap memberikan hakku sebagai suami," sahut Fadil datar kemudian mengambil beberapa ATM, buku catatan pemasukan dan pengeluaran, juga satu kota besar berisi tabungan uang tunai.


"Aku bilang, aku gak izinkan mas untuk kasih uang ke anak mas itu."


"Berhenti mengatur dan berhenti ikut campur, Dewi. Kamu istri yang egois," tekan Fadil kemudian melangkah hendak keluar dari kamar.


Tetapi langkahnya terhenti karena ucapan Dewi yang mengancam.


"Berhenti atau aku akan pergi dari rumah."


...----------------...


Di kediaman Carlos Martinez.


Calista tengah sibuk di dapur menonton sebuah video cara membuat rujak ulek. Matanya sesekali melirik ke arah ponsel, mengikuti apa saja yang di lakukan sang pembuat bumbu rujaknya.


Rambut panjangnya tergulung ke atas, dahi sudah dibasahi oleh keringat. Sesekali punggung tangan kiri mengusap dahi yang sudah berkeringat.


Sedang tangan kanan tetap mengulek bumbu di atas cobek batu. Calista tersenyum ketika dua tangan kekar memeluknya dari belakang. Tentu saja ia mengenali siapa pemilik kedua tangan tersebut.


Carlos memeluk Calista dari belakang. Mencium leher dan menghirup aroma tubuh istri kecilnya dalam-dalam kemudian kepalanya bersandar pada pundak Calista.


"Gimana harimu, sayang?" tanya Carlos. Hari ini ia terlambat pulang, Pi ukul delapan malam ia baru sampai ke rumah.

__ADS_1


"Gak ada yang spesial. Hari ini hanya senam biasa. Saat hari Minggu baru Om harus ikut senam. Oke?" Calista mengelus kepala Carlos.


Carlos terpejam merasakan elusan dikepala. "Maaf aku terlambat pulang. Hari ini begitu banyak pekerjaan di kantor."


"Iya. Lepaskan Om. Aku harus sajikan bumbu rujak ini ke piring," kata Calista.


Carlos melepas pelukan lalu menuntun Calista agar duduk saja. "Kamu duduk. Biar aku yang sajikan," tuturnya seraya mengambil piring kemudian menuangkan bumbu rujak disana.


Seusai itu, ia taruh di meja depan Calista kemudian mengambil buah di lemari es. "Silahkan, sayang."


Calista tersenyum manis. "Terima kasih."


Carlos tersenyum dan mengangguk. Ia terus memandangi Calista yang tengah menikmati rujak ulek tersebut.


Ia mengingat yang apa saja yang telah berlalu. Apalagi tadi, ayah Meta kembali mendatanginya di Kantor.


Bukan lagi permohonan agar berdamai tetapi sebuah ancaman. Beruntung Calista tengah libur semester hingga tidak membuatnya terlalu khawatir.


Baginya, keselamatan Calista dan anak mereka yang utama. Masalah Meta, Carlos tetap ingin menegakkan hukum pada mereka yang bersalah.


Setelah selesai makan rujak ulek, Carlos dan Calista masuk ke dalam kamar. Saat ini, kamar mereka bukan lagi di lantai dua melainkan lantai dasar untuk sementara waktu hingga Calista melahirkan.


Carlos begitu khawatir terjadi sesuatu pada Calista bila harus naik dan turun tangga. Tetapi, setelah Calista melahirkan akan kembali tidur di lantai dua, kamar utama.


Carlos masuk ke dalam kamar mandi dan melakukan ritual mandi. Sedang Calista menyiapkan dalaman dan celana pendek bahan kain untuk Carlos.


Setelah menyiapkan celana Carlos, Calista beralih duduk di depan meja rias dan melakukan ritual pemakaian skincare yang aman untuk ibu hamil.


Carlos keluar dari kamar mandi mengenakan handuk yang dililit pada pinggangnya. Rambut yang masih sedikit basah dan tetesan air tersebut mengalir di dada semakin membuatnya terlihat mempesona.


Calista yang melihat itu hanya bisa mencebik kemudian mengalihkan pandangan kembali menyibukkan diri memakai lotion pada kaki.


Carlos melihat tingkah Calista pun menjadi kesal. Bukan tanpa alasan ia memelankan langkah agar istrinya itu tergoda. Tetapi, justru dirinya lah yang tergoda melihat Calista berdiri dengan kaki satunya berada di kursi yang sedang diolesi lotion oleh Calista.


Carlos tak tahan. "Kamu menggodaku, sayang!" pekik Carlos langsung menggendong Calista dan membaringkan diatas ranjang.

__ADS_1


"Om," cicit Calista.


"Diamlah, sayang. Biarkan aku memakanmu. Setelah ini akan aku bantu memakai skincare lagi."


__ADS_2