
"Mas, kalau Mario gak terima aku gimana?" tanya Dewi cemas.
Rencana Fadil ingin mempertemukan Dewi dengan Mario. Setelah kejutan ulang tahun waktu lalu, membuat hubungan keduanya semakin dekat.
Bahkan Fadil telah mengungkapkan perasaannya pada Dewi dan direspon sama dengan nya.
Fadil menggenggam tangan Dewi. "Mario anak yang baik. Hanya sedikit pendiam saja."
Keduanya masuk ke dalam Rumah makan yang tak jauh dari asrama Mario. Dahi Fadil mengerut melihat anaknya duduk bersama pemuda yang tak lain adalah Malvyn.
"Tuan Muda ada disini?" tanya Fadil.
"Hem."
"Kami baru saja pulang latihan," sahut Mario yang sangat tahu bagaimana Malvyn.
Fadil mengangguk. Ia tahu bila Malvyn memilih Mario sebagai Asisten Pribadi nya kelak.
"Mario. Ini kenalin Tante Dewi, teman Ayah."
Hening.
Fadil melihat Mario diam tetapi pandangan nya kearah Dewi dan justru membuat Dewi semakin gugup.
Tangan nya terulur menggenggam tangan Dewi yang berada di bawah meja, berharap wanita yang tangannya ia genggam merasa tenang.
Begitulah Mario. Akan sangat dingin bila bersama orang baru.
"Apa Ayah bahagia?"
Fadil tersenyum dan mengangguk.
"Aku tak masalah bila punya dua ibu. Tapi bagaimana dengan Ibu, yah?"
Senyum lega terpancar dari wajah Fadil dan Dewi.
"Kamu tahu gimana hubungan Ayah dan Ibu."
Setelah obrolan serius, mereka berempat makan bersama. Dewi sendiri masih tampak kaku berbicara dengan Mario.
Dewi yang kalem bertemu dengan Mario yang pendiam dan cuek.
...****************...
Di lain tempat. Calista sedang menikmati hidangan makan malam yang tersaji diatas meja.
"Enak seafood nya?" tanya William dan di acungi jempol oleh Calista.
"Lain kali jangan sampai larut kalau lagi di Pemakaman begitu. Gak baik, untuk kamu yang sedang hamil."
"Iya, Om."
Tadi siang, selepas pergi dari ruang Kerja Carlos. Calista terpaksa sembunyi-sembunyi keluar dari tempat itu. Semenjak dua kai masuk ke Rumah Sakit selama hamil, menjadikan ia diikuti oleh dua pria berbadan besar atas perintah Carlos.
__ADS_1
Setelah bebas dari sana, Calista langsung berjalan menuju halte terdekat lalu menaiki angkutan umum menuju Pemakaman sang ibunda.
Sesampainya disana. Seperti biasa, Calista akan menangisi apa yang dirasakan nya.
"Istri pertama suamiku hamil, Ma. Aku harus gimana?"
Tentu ini sangat berat bagi Calista. Apalagi saat seusia Calista masih sangat labil dalam menentukan arah.
"Apa saatnya aku meninggalkan, Om Carlos? bukan melanjutkan rencana ku. Tapi memang sudah saatnya aku pergi."
Hingga tanpa sadar, William memerhatikan Calista yang terus menangis. Pria itu mendekati Calista dan memberinya sapu tangan.
Untuk sesaat isak tangis tersebut terhenti. Calista mendongak melihat siapa yang mengulurkan tangan memberi sapu tangan tersebut.
"Om Will."
"Ngapain kamu dari tadi nangis sampai sore begini. Gak baik untukmu," terang William.
Calista menggeleng. "Aku hanya ingin menangis."
"Apa Carlos mengakitimu?"
Calista menggeleng lagi. "Mereka sedang bahagia. Tante Nadia hamil dan aku harus sadar diri," ucap Calista lirih.
William terkejut. "Dia gak akan ninggalin kamu. Oh iya, ini makam siapa?"
"Mama aku, Om."
"Oh. Ini makam ibu kandungku, Om."
Mata William terbelalak, tetapi langsung diubah normal kembali.
"Ayo, Om ajakin ke suatu tempat agar kamu gak sedih lagi."
Disinilah mereka berdua.
Ruang Tunggu Jimbaran.
Di tengah hutan beton Sudirman kamu juga bisa merasakan suasana yang menyejukkan ala Bali. Dimana lagi kalau bukan di Jimbaran Lounge, Ayana Midplaza. Dengan konsep tempat makan terapung di atas kolam, Jimbaran Lounge bisa jadi alternatif nongkrong yang menyegarkan pikiran.
Pilihan menu makanannya juga bermacam-macam, mulai dari sajian masakan Indonesia hingga pasta Italia yang bisa kamu temukan di sini.
...****...
"Tuan. Lebih baik anda makan dahulu. Tuan belum makan sedari siang," tutur Bimo hati-hati seraya menyodorkan botol air mineral.
"Aku gak lapar," cicitnya tetapi tangannya bergerak menerima botol mineral itu.
Tadi siang, saat selesai meeting, Carlos jalan dengan tergesa karena sudah sangat lama meninggalkan Calista di ruang kerja nya.
"Ada Nyonya Nadia di dalam, Tuan!" ucap Dewi membuat Carlos tersentak, dengan cepat masuk ke dalam ruang kerjanya.
__ADS_1
"Dimana Calista?" tanya Carlos memekik membuat Nadia terkejut.
"Dia tadi pergi, Honey."
Tangan Carlos mengepal. "Ada perlu apa kamu kemari, Nad?"
Nadia tersenyum, berjalan mendekati dan menarik tangan Carlos dengan lembut agar duduk di sofa.
"Aku sudah masak makanan kesukaanmu, Carl dan aku punya kejutan untuk mu."
Carlos mengerutkan dahi. "Apa?"
"Aku hamil."
Hening.
Carlos menatap Nadia dengan tajam. Kemudian mengangguk-anggukkan kepala. Diambil ponsel lalu menghubungi Bimo.
"Urus semua yang sudah pernah aku katakan padamu, Bim."
Usai panggilan telepon berakhir. Ia kembali menatap Nadia yang tersenyum. "Apa yang kamu ucapkan terakhir kali pada Calista?" wajah Carlos berubah datar dan bicara pada Nadia menjadi lebih dingin.
Dengan tersenyum Nadia berbicara. "Aku bilang kalau dia akan punya adik dari kita. Aku bilang kalau aku hamil."
"Pergi dari sini Nadia."
"Tapi Carl. Aku ingin merayakan kehamilan kita."
Kobaran api itu telah menyala. "Aku jijik melihatmu, Nadia. Bagaimana bisa kamu bercinta dengan dua pria sekaligus saat kamu menjadi seorang istri."
Nadia berubah menjadi takut. "Aku hanya tidur denganmu, Carl."
Seringai diwajah Carlos tampak menyeramkan. "Bahkan aku masih ingat kapan terakhir kali bercinta denganmu. Saat di Turki bukan? dan setelahnya kamu datang bulan dan aku menikahi gadis ku. Pergi dari sini sebelum aku berbuat kasar padamu."
Nadia tak berkutik memilih pergi dari sana dengan perasaan kesal. Rencananya gagal untuk menjerat Carlos kembali. Semaki begini, semakin penasaran siapa gadis yang telah merebut Carlos darinya.
Di dalam ruang kerja Carlos sudah berdiri dua bodyguard yang ditugaskan untuk menjaga Calista.
Karena emosi masih membuncah, Carlos menghajar dua bodyguard itu dengan membabi buta. Bukan hanya itu, Carlos juga sudah menghancurkan barang-barang di ruang kerjanya.
"Tuan. Anda bisa membunuh mereka," cegah Bimo. Ia sangat kenal betul bagaimana Carlos jika menyangkut miliknya. Apalagi Calista tengah hamil.
"Aku akan membunuh kalian jika terjadi sesuatu lagi pada Calista."
"Aku sudah mengerahkan anak buah kita untuk mencari istrimu, Carl. Yang pasti saat ini mertuamu belum tahu masalah ini."
Malam hari saat Carlos sudah sampai Rumah juga tak luput dari amarahnya. Hingga hampir larut Calista belum ditemukan. Ruang tamu yang semula rapi, berubah menjadi bak kapal pecah yang hancur lebur.
Hingga terdengar suara deru mesin mobil di depan rumah. Langkah lebar Carlos mendatangi asal suara mesin mobil tersebut.
Tangan nya terkepal saat melihat Calista keluar dari mobil bersamaan William juga keluar dari sana.
Hatinya semakin memanas kala melihat Calista memandang nya dengan tatapan sinis lalu masuk begitu saja melewatinya.
__ADS_1