Aku Bukan Rahim Pengganti

Aku Bukan Rahim Pengganti
32. Aku Bukan Rahim Pengganti


__ADS_3

Carlos sedari tadi sudah berdiri di depan pekarangan rumah keluarga Abraham yang tak lain adalah keluarga istri muda nya.


Kepalanya menengadah melihat beberapa jendela di lantai dua mencari dimana letak kamar istrinya.


Di buka jas nya, diserahkan pada Bimo, lalu menggulung kemeja hingga ke siku lengan. Ia tahu jika ke keluarga mertuanya telah mengetahui kedatangan nya.


Ia pun melangkahkan kaki menuju teras belakang rumah tersebut karena sudah tahu kebiasaan keluarga mertua nya jika sudah menjelang sore akan menghabiskan waktu bersama di sana.


Langkahnya terhenti ketika melihat sosok yang di rindukan sedang menyiram bunga Matahari dengan senyuman diwajahnya.


Ah, Mengapa jantung Carlos mendadak berdetak lebih kencang saat melihat Calista dari pada saat akan berhadapan dengan mertuanya?


Matanya beralih menatap perut Calista. "Papi merindukan kalian, sabar ya.. Papi akan menjemput kalian," ucap Carlos pada dirinya sendiri.


...****...


Calista sedang asyik menyiram bunga Matahari tak sengaja melihat sosok yang mirip seperti seseorang yang sangat dirindukan namun belum sepenuhnya dimaafkan.


Calista menoleh ke arah dimana orang tuanya sedang duduk menikmati sore berdua. Ia pun mendekati Carlos.


"Sayang," ucap Carlos ketika Calista sudah berada dihadapan nya.


Calista menatap Carlos seraya menggigit bibir bawahnya karena sangat ingin memeluk suaminya itu.


Begitu juga dengan Carlos merasa ingin sekali memeluk istri kecilnya. Tanpa berkata, Carlos langsung memeluk Calista.


"Akhirnya aku mengerti indahnya cinta, itu semua karena dirimu."


Calista mendongak, bibirnya manyun, lalu memukul dada bidang Carlos. "Bohong. Om jahat sama aku," keluh Calista meneteskan air mata


Percayalah, Calista merasa begitu cengeng bila di depan Carlos.


Carlos mengusap air mata Calista. Jujur saja, mungkin maksud Carlos waktu itu benar. Tetapi caranya yang salah dan melupakan kebiasaan Calista setelah perbuatan nya.


"Maaf, jangan ulangi untuk membahayakan kamu dan anak kita lagi. Kalau kamu marah, datangi aku dan hajar aku sesukamu. Aku begitu takut kehilanganmu dan anak kita," ucap Carlos tulus.


Carlos tahu jika Calista masih muda dan belum bisa sepenuhnya menerima status sebagai istri kedua yang disembunyikan dan mengandung diusia muda.


Calista hanya mengangguk dan menikmati pelukan hangat itu. Bimo hanya bisa diam mematung melihat adegan manis dihadapan nya.


Carlos mengeratkan pelukan seraya mengecup pucuk kepala Calista berulang kali. "Aku merindukan kalian," ucap Carlos membuat Calista mendongak menatapnya lagi.

__ADS_1


"Bohong. Buktinya gak pernah datang kesini," cibir Calista.


Carlos menangkup wajah Calista. "Aku mencintaimu."


Kedua bibir itu bertemu kembali setelah sekian lama. Saling berpagut, menyesap, menyalurkan kerinduan yang semakin menuntut.


Tanpa mereka sadari, sedari tadi Ivy telah melihat adegan itu. Masih ada rasa amarah di hati, tetapi tak mungkin membuatnya memisahkan sepasang suami-istri yang saling mencintai tanpa disadari kedua belah pihak.


Mungkin saja, Ivy bisa mengendalikan diri dari amarah. Tetapi tidak dengan suaminya. Itulah sebab nya sedari tadi Ivy tak membiarkan suaminya bergerak dari teras belakang.


...****...


Ciuman mereka semakin intens, bahkan saat kehabisan stok udara di dada dan melepas ciuman itu beberapa saat, kemudian melanjutkan ciuman itu.


Ivy berdiri di belakang Carlos dan menepuk-nepuk bahu pria yang sedang berciuman dengan Calista membuat sepasang suami-istri itu tersentak dengan cepat mengusap air liur menggunakan punggung tangan masing-masing.


Wajah keduanya memerah menahan malu apalagi saat Carlos melirik ke arah Bimo yang tengah berusaha menahan tawa.


"Ikut ke belakang," titah Ivy pergi begitu saja.


Carlos dan Calista menelan saliva dengan kasar menatap punggung Ivy.


Carlos menoleh ke arah Calista. "Kenapa? apa kamu gak mau pulang bersamaku?"


"Bu-bukan. Aku khawatir sama Om," cicit Calista membuat hati Carlos menghangat.


Jujur saja. Selama menikahi Nadia, tak pernah istri pertama nya itu memperlihatkan kekhawatiran untuknya.


Nadia hanya meminta pengertian nya tetapi tak pernah memberi pengertian. Nadia memang melayaninya, tetapi tak pernah memberi kenyamanan hati untuknya.


Carlos tersenyum sambil mengelus pipi Calista menggunakan ibu jari. "Kita harus hadapi, sayang. Kamu yang tenang, aku gak akan terluka."


Calista mengangguk. Keduanya berjalan menuju teras belakang dengan Carlos merangkul bahu istrinya diikuti Bimo di belakang.


"Kau," pekik Edzard bangkit ingin melayangkan bogeman pada Carlos.


"Papi," pekik Calista terkejut membuat Edzard urung.


"Kita bicarakan dengan kepala dingin. Sekarang, duduklah kak."


Semua orang duduk. Carlos merasa kikuk berhadapan dengan Edzard dan Ivy. Tidak seperti biasa, mungkin karena status yang berbeda.

__ADS_1


"Jangan panggil aku kak, Vy. Aneh dengarnya!" ucap Carlos lirih. Percayalah, Bimo rasanya sudah mulai tak kuat menahan tawa.


"Jadi? panggil nak Carlos gitu?"


"Itu lebih menggelikan, Carlos Martinez!" cebik Ivy membuat semua orang tertawa, tawa Bimo lah paling terkeras.


Wajah Carlos memerah apalagi melihat Calista juga menertawakan nya. Seketika merasa sangat tua bila bersanding dengan Calista.


"Sudah-sudah. Kamu pilih pistol atau panah?" tanya Edzard membuat tubuh Carlos menegang sedang Calista menatapnya pias.


"Pi," protes Calista namun Edzard tak menggubris.


"Ah, kenapa kau diam saja. Berarti kau memilih keduanya," ucap Edzard semakin membuat Carlos menegang.


Carlos di paksa untuk ikut ke tempat pelatihan yang ada di belakang rumah mereka.


"Sial. Kenapa harus diikat?" sentak Carlos membuat Edzard menyeringai.


Edzard menjitak kepala Carlos yang tengah diikat Bimo. "Kau diam saja. Atau peluru ini melesat di kepala mu yang pikiran nya hanya dua selang kangan saja," cibir Edzard.


Carlos melengos.


"Aku yakin pasti selang kangan anakku lebih nikmat 'kan?" tanya Edzard seraya mundur mengambil jarak untuk melakukan sesuatu yang di tunggu dan disuka nya.


Carlos yang duduk terikat dan buah nanas di atas kepala terus berontak. Kini, ia berada diantara hidup dan mati. Apalagi saat melirik ke arah Calista yang duduk bersama Ivy tengah menangis.


Tentu saja Carlos tahu jika Edzard tengah menahan amarah untuk nya tetapi di tahan karena masih berada dihadapan dua wanita itu.


"Ed. Kau terlalu jauh ambil jarak. Aku gak mau mati sebelum anakku lahir, heh!" sentak Carlos namun tetap duduk tegak agar nenas di atas kepala tidak jatuh.


Edzard sudah siap membidik buah di atas kepala Carlos. Semua orang ikut tegang.


Hingga peluru itu melesat tepat di buah nenas membuat semua bernafas lega.


Buah berganti menjadi buah apel dan Edzard mengulang kembali hingga buah terkecil, buah jeruk limau.


"Ed. Istriku sudah menangis," ucap Carlos lirih karena tubuhnya sudah lemas akibat ketakutan yang mendera.


Edzard tak menjawab, ia telah siap membidik buah limau yang tersembunyi di rambut Carlos.


"Papi, cukup!" teriak Calista berlari mendekati Carlos dan memeluknya dalam tangisan.

__ADS_1


__ADS_2