
BUGH
BUGH
BUGH
Edzard melayangkan bogeman di perut Carlos. Amarahnya semakin membuncah ketika melihat Calista begitu histeris saat dirinya hendak memberi hukuman pada Carlos.
Ayah siapa yang tak marah bila anak gadisnya yang sudah dirawat penuh cinta akan mengalami nasib seperti Calista?
Hukuman tadi hanya sebagai pelampiasan amarahnya saja.
Saat Calista menghalangi dan menangis memeluk Carlos yang masih terikat tadi semakin membuat Edzard merasa sakit. Bagaimana bisa putrinya menjadi istri kedua dan sangat jelas jika Calista telah jatuh hati pada Carlos.
Dan malam ini, setelah Carlos menenangkan Calista dan menemani tidur. Edzard mengajak Carlos ke gudang untuk memberi pelajaran pada menantunya itu.
"Kamu sengaja menunggu Calista, kan?" tanya Edzard duduk dengan dada naik turun.
Sedang Carlos masih meringkuk menahan sakit di perut akibat bogeman Edzard hanya menggeleng.
Edzard berdecih. "Aku bersumpah akan memisahkan kalian jika kau mempermainkan Calista, lagi!" ucap Edzard dingin.
"Jangan pisahkan kami lagi, Ed."
...****...
Susah payah Carlos berjalan menuju kamar Calista dengan perut yang begitu sakit akibat bogeman Edzard tadi.
Malam ini Calista meminta untuk dirinya menginap. Dibuka kaos kaki lalu merebahkan diri dan masuk ke dalam selimut yang sama dengan Calista.
Di peluk tubuh Calista dari belakang. Matanya terpejam menikmati aroma rambut Calista yang sudah dirindukan.
Sayang... Andai aku tahu di masa kini kita dipersatukan, aku gak akan pernah menikahi Nadia. Aku bodoh, Calt. Seharusnya biarkan saja aku menikmati kegilaanku dan menunggumu hingga kini.
Carlos kembali mengingat bagaimana keputusan nya menikahi Nadia hanya agar Edzard percaya bahwa tak lagi menggilai Calista kecil kala itu.
Ia pun berjanji pada dirinya tak akan membiarkan Calista sendirian. Seringai tercetak di wajah tampan nya.
Aku akan memastikan semua nya baik-baik saja.
...****...
"Selamat pagi, Om!" ucap Calista ceria membangunkan Carlos.
Tetapi tak membuat Carlos bangun, bahkan semakin meringkuk di dalam selimut. Apalagi perutnya masih terasa sakit.
Calista yang masih merindukan Carlos pun melabuhkan banyak kecupan di pipi suaminya itu.
"Sayang," bisik Calista membuat mata Carlos terbuka seketika.
Carlos menatap Calista dengan intens. "Apa kamu memanggilku dengan sebutan sayang?" tanya Carlos masih terkejut.
__ADS_1
Calista mengulum senyum sambil menggeleng. Tetapi Carlos tak percaya hingga menggelitik istri kecilnya.
Keduanya tertawa bersama.
"Ampun, Om!"
"Berarti itu kamu kan?"
Calista mengangguk dengan nafas memburu. dan tanpa sadar jika posisi keduanya begitu intim. Carlos berada di atas Calista.
"Sayang."
"Om."
Mendadak suasana menjadi hening. Tatapan keduanya bertemu.
"Sayang, maafin aku!" ucap Carlos tulus.
Calista mengangguk. "Aku juga minta maaf, Om. Berlakulah adil, Om kan tahu aku hamil mau nya dekat sama Om terus," ucap Calista dengan nada manja.
Carlos tersenyum seraya mengelus pipi Calista. Dilabuhkan kecupan pada bibir istri kecilnya itu.
Calista terbelalak langsung menutup bibirnya. "Aku belum gosok gigi, ih. Kalau mau cium, pipi saja!"
Carlos tertawa kemudian mencium bibir Calista tanpa berbicara lagi. Saat ciuman itu bersambut, tangannya mulai menggerayangi tubuh Calista.
"Jangan lakukan yang membahayakan kamu dan anak kita lagi, ya. Jika ada yang mengganggu pikiran, datanglah padaku. Katakan apa yang kamu rasakan," ucap Carlos pelan dengan mata keduanya saling memandang.
"Kita buka lembaran baru, mulailah saling terbuka."
"Hatiku sepenuhnya milikmu."
Tak adalagi obrolan lain selain kenikmatan yang diberikan oleh Carlos. Pria dewasa yang sudah lama tak merasakan nikmat surga dunia, kini sedang menikmati lembah yang ditumbuhi semak belukar yang belum terlalu semak menutupi inti kenikmatan.
Sedang Calista hanya bisa terpejam dan mengeluarkan suarah mendayu yang begitu merdu di pendangaran Carlos.
Baru saja Carlos melakukan pemanasan tetapi Calista sudah dua kali merasakan pelepasan hingga terkulai lemah.
"Kamu siap, sayang?" tanya Carlos sudah memposisikan diri bertumpu di depan milik Calista.
"Atau kita melakukan di tempat lain sesuai fantasimu, yang?" sambung Carlos lagi membuat Calista tersenyum.
"Ini sudah pagi, Om. Cepat masukin," rengek Calista.
Carlos sudah mengarahkan Junior ke goa kenikmatan milik Calista. Dengan perlahan Junior masuk dan kedua pasang mata keduanya terpejam menikmati itu.
Calista memeluk erat punggung Carlos dengan kedua kaki melingkar di pinggang suaminya itu.
Carlos mulai menggerakkan pinggul seraya diiringi suara desah, lenguhan, dan erangan di kamar yang tak kedap suara itu.
Hingga suara desah dan erangan panjang untuk pelepasan Carlos yang pertama. Ia labuhkan kecupan di kening, kedua mata, dan bibir Calista.
__ADS_1
"Makasih sayang. Aku mencintaimu," ucap Carlos sebelum menggulingkan tubuh ke samping Calista.
"Aku akan siapin air hangat untukmu," ucap Carlos hendak bangkit namun tangan nya di cekal Calista.
"Ikut, gendong ya." Calista merentangkan tangan dan disambut Carlos dengan senang hati.
Akhirnya keduanya melakukan lagi di dalam kamar mandi.
...****...
Sedang di lantai dasar. Edzard berulang kali melengos karena sangat terganggu dengan suara laknat anak dan menantunya.
Ternyata hanya kita yang mengkhawatirkan hubungan mereka, Sumo!" ucap Edzard dan diangguki Ivy.
"Ngamar, yuk!"
"No, aku masih datang tamu!" tolak Ivy membuat Edzard mencebik.
Cukup lama keduanya menunggu anak dan menantu mereka.
...****...
Carlos turun dari tangga secara perlahan karena tengah menggendong Calista. Ia tahu perbuatan nya tadi telah membuat istri kecilnya kelelahan.
Tadi juga Nadia sempat menelepon saat di dalam kamar. Istri pertamanya itu mencarinya di Kantor.
Sempat ada waktu Calista terlihat murung karena dirinya sedang bertelepon dengan Nadia.
Memiliki istri masih sangat muda dan hamil membuat Carlos harus memiliki stok sabar seluas samudera.
Membujuk dan merayu itulah yang dilakukan Carlos dan akan berakhir dengan Calista yang semakin manja.
Ini adalah pengalaman baru untuknya dan ini sangat menyenangkan. Carlos merasa lebih dibutuhkan dan merasa lebih berharga.
Jika bersama Nadia, bila sedang marah padanya maka akan menangis dan berakhir berbelanja.
Carlos teringat dengan ucapan Nadia kala itu saat bertanya mengapa membeli barang yang kamu inginkan? bukankah lebih baik membeli yang kamu butuhkan?
"Berbelanja adalah hal yang paling disukai wanita. Jadi kamu harus semangat kerja biar bisa buat aku bahagia dengan berbelanja."
Tapi melihat Calista justru lebih suka perhatian nya. Mengingat saat berbelanja baju hamil juga Calista lebih banyak menerima pilihan nya daripada memilih baju hamil sendiri.
"Ini dia yang dari tadi di tunggu."
Suara Edzard yang menggelegar mengagetkan Carlos dan Calista. Sekali lagi keduanya menjadi kikuk dan langsung duduk setelah Carlos menurunkan Calista tadi.
Calista dengan sigap mengambil piring Carlos dan mengisi dengan makanan yang sudah tersaji.
"Manja. Mau makan saja minta dilayani anakku," cibir Edzard.
"Anakmu ini sudah sah menjadi istriku, kalau kamu lupa Papi Ed," cibir Carlos tak mau kalah.
__ADS_1
"Papi."
"Om."