
"Ah.. Kamu masih sama nikmatnya, Nadia. Aku begitu merindukanmu," ucap Fadil kemudian berguling ke samping Nadia.
"Kau berengsek, Fadil."
Fadil terkekeh, memilih menutupi tubuh keduanya menggunakan selimut lalu memeluk Nadia dari belakang.
"Jangan membuat kesabaranku habis, Nad. Aku bisa saja meninggalkanmu, tapi Mario begitu menyayangimu. Jadi, menurutlah sebelum semuanya terlambat."
"Tidurlah," ucap Fadil berubah menjadi lembut kembali.
...****...
Pagi harinya. Di rumah kediaman Abraham, dua pasang suami istri itu tengah sarapan bersama.
Carlos lebih dulu menyelesaikan sarapan, tangan nya terulur mengambil bungkusan vitamin untuk Calista.
"Kapan kau akan melegalkan pernikahan kalian?" tanya Edzard memecahkan keheningan.
Calista mendengar itu menjadi tegang. Tetapi agaknya Carlos terlihat santai.
"Secepatnya, sebelum anak kami lahir."
"Bagaimana dengan istri pertamamu?"
Carlos berdehem. "Gak baik mertua ikut campur urusan rumah tangga anaknya," cibir Carlos langsung mendapat timpukan dari Edzard di kepala. Kebetulan duduk mereka berdekatan.
"Aku begini demi anakku, kalau kamu lupa. Menantu sialan," umpat Edzard.
Entah mengapa, dua pria dewasa itu tak pernah akur sedari dahulu. Selalu saja ada pertengkarang setiap pertemuan.
"Gini, Papi mertua. Aku gak akan sembunyikan lagi pernikahanku dengan Calista. Nadia biar itu menjadi urusanku."
"Terserah."
__ADS_1
Carlos berangkat kerja bersama Calista yang hendak berangkat kuliah. Hari ini adalah hari pertama Calista kuliah setelah dalam satu Minggu kemarin menjalani ospek.
"Kamu hati-hati."
Calista mengangguk. "Om juga kerja yang semangat."
Carlos membuka sabuk pengaman lalu memeluk Calista dengan erat. Kecupan demi kecupan dilayangkan keseluruh wajah sang istri.
"Tetaplah bersamaku," ucap Carlos lirih.
Calista termangu. Hatinya mendadak terasa sakit kembali. "Aku akan tetap bersama Om. Aku akan pergi atas keinginan, Om!"
"Kamu baik-baik belajarnya. Jangan makan sembarangan dan tetap hati-hati."
Calista mengangguk lalu mengecup pipi Carlos barulah keluar dari mobil.
Ternyata Anita telah menunggunya. Carlos meninggalkan tempat itu setelah Calista masuk ke pekarangan Universitas dimana Calista melanjutkan pendidikan.
"Tuan. Ini ada CV khusus anda baca," ucap Bimo santai saat sudah masuk ke ruang kerja Carlos.
"Kenapa harus aku yang baca, Bim. Bukankah pihak Managemen SDM?"
"Sudah saya bilang khusus untuk anda," sahut Bimo setengah formal.
Carlos pun menerima beberapa map dari Bimo. Tanpa rasa curiga, membaca isi map tersebut.
Matanya terbelalak. "Astaga. Sejak kapan aku membuka lowongan jadi istri ketiga?"
Bukan nya menjawab, justru Bimo tertawa tidak menunjukkan rasa takut pada Carlos.
...****...
Calista dan Anita berjalan menuju Kantin. Seperti biasa, keduanya pasti memesan makanan tak cukup satu porsi.
__ADS_1
"Aku kangen main bareng kamu," rengek Calista pada Anita.
Anita berdecak. "Nanti kalau aku off kerja kita nonton bareng, ya."
Calista mengangguk seraya tepuk tangan kecil karena sangat senang.
❤️
TBC
Assalamualaikum
Selamat tahun baru Hijriyah kesayangan..
Gimana kabar nya hari ini?
Udah bahagia kan?
Sehat kan?
Jangan lupa tersenyum sayang.
Oh iya, ada kabar baik loh..
Tanggal 1 Agustus aku rilis novel baru.
Lebih tepatnya cerita anak pertama Fadia (Novel Jodoh KEDUA, lebih baik cerita cinta ibunya dulu ya)
Cerita Gadhing yang sudah memiliki istri harus menikah dengan sepupu tirinya atas permintaan sang Bunda.
Siapa sangka, dibalik pernikahan itu justru ajang balas dendam antara istri pertama dan istri keduanya.
__ADS_1