Aku Bukan Rahim Pengganti

Aku Bukan Rahim Pengganti
38. Aku Bukan Rahim Pengganti


__ADS_3

Saat Calista sedang menikmati makan siang, ia harus dikejutkan dengan Anita yang datang tergesa-gesa kepadanya.


"Kamu kenapa sih?" sungut Calista kesal karena harus menunda makan nya.


Anita menaikkan telapak tangan ke udara pertanda Calista harus menunggu karena ia sendiri sedang mengatur nafas yang memburu.


Setelah dirasa mulai tenang, Anita menyodorkan ponsel pada Calista. "Baca."


Calista menerima ponsel itu dan membacanya. Sebuah judul artikel.


Carlos Martinez Mengumumkan Pernikahan Kedua nya ke Publik. Tetapi, Tidak Memberi Tahu Siapa yang Menjadi Istri Kedua seorang Carlos Martinez.


Mata Calista terbelalak membaca judul artikel tersebut. Bagaimana Carlos mengumumkan pernikahan mereka?


"Kenapa Om Carlos melakukan ini?" gumamnya.


Anita mengedikkan bahu.


"Tadi pagi mereka baik-baik saja, loh."


Calista mencoba menghubungi Carlos namun tidak terhubung. "Gimana ini?"


...****...


Setelah sampai Kantor, Carlos langsung menghubungi Bimo agar datang keruang kerjanya.


"Jangan lagi membohongi ku, Bim!" sentaknya saat Bimo baru saja masuk ke ruang kerjanya.


"Bohong apalagi, Tuan?" sebenarnya Bimo sudah tahu kemana pertanyaan itu mengarah.


Carlos menatap tajam ke arah Bimo. "Aku tahu Fadil adalah adikmu, Bim. Dan ada hubungan apa dia dengan Nadia?"


Bimo terperanjat namun segera menetralkan diri kembali. Masih dengan menutup rapat mulut, ia memberikan ponselnya menunjukkan sesuatu.


Carlos menerima ponsel itu kemudian melihat sebuah foto usang di ponsel tersebut. Ia mengenali sepasang manusia di gambar itu.


"Kenapa Nadia dan Fadil foto bersama? dan siapa anak laki-laki itu, Bim?"


"Itu anak Fadil dan Nadia. Mario namanya," sahut Bimo santai namun tetap waspada.


"A-apa maksudmu? bukan kah Nadia gak bisa hamil?" Carlos terkejut hingga membuatnya bertanya tergagap.


Bimo akhirnya menceritakan semua yang terjadi. Reaksi Carlos sendiri menjadi marah. Matanya memerah dengan tangan terkepal.

__ADS_1


"Aku telah merebut Nadia dari Fadil, Bim!" terbersit rasa bersalah.


"Sekali lagi maafkan saya, Tuan. Saya sudah mencoba berulang kali menghentikan niat Nadia, tetapi istri Tuan tak pernah ingin berubah."


Cukup lama keduanya berdiam di ruangan itu. Hingga rencana Carlos membuat Bimo terkejut.


"Aku gak akan sebut Calista, Bim. Tapi tolong segera lakukan apa yang aku bilang. Aku harus segera melegalkan pernikahan ku dengan Calista," ungkap Carlos.


Pikiran nya menerawang bagaimana rumah tangganya dengan Nadia. Bagaimana bisa ia tertipu begitu lama oleh istrinya sendiri?


Hatinya begitu kecewa setelah mengetahui bila Nadia bisa memiliki anak.


...****...


Calista sudah berada di Lobby Kantor Carlos. Sepulang kuliah, ia langsung meminta Agus untuk mengantarnya kesini.


"Kira-kira siapa ya yang sudah menjadi istri kedua Tuan Carlos?"


"Entahlah, bukankah awalnya hanya mencari rahim pengganti? kenapa sekarang justru dinikahi?"


"Apa istri kedua Tuan lebih cantik dan seksi dari Nyonya Nadia?"


Samar-samar Calista mendengar percakapan resepsionis membicarakan berita yang tengah booming saat ini.


Ia sengaja tak membaca artikel itu karena para komentar begitu menyudutkan dirinya yang telah tega merebut Carlos dari Nadia.


Calista diam saja dengan wajah cemberut. Sadar bila sang istri diam tak bereaksi membuatnya bangkit dari kursi kebesaran lalu memencet tombol penutup tirai


Dihampiri Calista yang masih diam berdiri. Didekap erat justru membuat Calista terisak. Ia membelai rambut dan memberikan kecupan berulang kali di pucuk kepala istrinya.


"Kenapa Om lakuin ini? apa Om gak pikirin perasaan aku? aku sama sekali gak ada niat rebut Om dari Tante Nadia, kenapa mereka berpikir begitu? Aku bukan cewek murahan kayak yang dibilang mereka," cerocos Calista kemudian kembali memeluk Carlos, terisak begitu pilu.


"Aku sudah tahu semuanya," jelas Carlos membuat Calista mengurai pelukan.


Tatapan mereka bertemu. Calista belum ingin berkomentar karena ingin melihat sejauh mana Carlos mengetahui yang mereka sembunyikan.


Carlos mengatakan apa yang diketahuinya tentang Nadia, Fadil, dan Mario. Tadi juga sempat marah dan memberi bogeman pada Bimo karena telah menyimpan banyak rahasia tentang Nadia padanya.


"Dan termasuk rencanamu untuk meninggalkan aku sendiri setelah membuatku jatuh cinta padamu," ungkap Carlos lirih membuat Calista terkejut.


"Om,-"


Melegalkan dan mempublikasikan pernikahan kita juga caraku agar kamu terus terikat denganku. Aku gak ingin kamu pergi ninggalin aku. Maafkan kesalahan, Calt. Tapi jujur saja, aku gak pernah menyesali perbuatan ku karena telah membuat kita bersatu sayang. Aku, kamu, dan anak kita!"

__ADS_1


Calista mendongak menatap mata Carlos yang juga berkaca-kaca. "Maaf," gumam Calista.


Carlos menangkup wajah Calista seraya menggeleng. "Tetaplah bersamaku, aku tahu akan banyak rintangan di depan sana. Tapi ku mohon tetaplah bersamaku," pinta Carlos semakin membuat Calista terisak.


Diusap air mata Calista menggunakan ibu jari kemudian dikecup kedua mata yang masih basah akibat menangis itu.


"Aku mencintaimu."


"Aku juga mencintaimu, Om!"


Betapa bahagia Carlos saat ini setelah mendengar kalimat pengutara cinta dari Calista. Tidak menyangka akan merasakan cinta dari gadis kecil yang membuatnya menjadi gila.


Perasaan yang tengah berbunga, kedua insan itu menikmati indahnya memadu kasih.


Kalimat cinta yang terus didengungkan membuat permainan mereka semakin terasa nikmat. Hingga akhir puncak arwana akan tercapai, erangan melabuhkan nama keduanya menjadi akhir permainan.


"Terimakasih, sayang!" ungkap Carlos lalu menutup dengan kecupan diseluruh wajah Calista dan diakhiri luma tan pada bibir ranum istrinya.


"Mau tidur dulu atau mandi, yang?" tanya Carlos setelah berguling disebelah Calista.


"Tidur. Nanti bangunin kalau mau pulang, ya."


"Baiklah. Aku mandi dulu, sebentar lagi ada rapat. Kamu, aku tinggal gak apa?"


Calista yang semula terpejam, kembali membuka mata menatap Carlos. Tangan nya terulur mengelus pipi pria itu.


"Aku gak apa-apa, Om. Pergilah," ucap Calista.


Carlos tersenyum lalu menggapai tangan Calista yang berada di pipinya. Dikecup telapak tangan istrinya itu dengan sayang.


"Rasanya aku gak mau jauh darimu," ungkap Carlos.


Calista terkekeh. "Om kayak anak ABG tahu."


Carlos berdecak seraya menarik hidung Calista yang mancung. "Harus dong, sayang. Aku gak mau ABG lain deketi kamu. Oh iya, apa kamu sudah makan? sudah minum vitamin? gimana keadaan kalian? apa ada yang sakit saat aku melakukan nya tadi?" cerocos Carlos semakin membuat Calista terkekeh.


Dikecup bibir Carlos. "Kami baik. Semua aman terkendali. Aku terus memastikan nutrisi cukup untuk kami. Jangan khawatir," terang Calista membuat Carlos lega.


Setelah paksaan dari Calista, akhirnya Carlos bangkit dan membersihkan diri juga. Ia tersenyum saat melihat Carlos keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggang.


Sangat tampan.


Calista bangkit dengan gulungan selimut menutupi tubuh polosnya. Dengan senyum merekah, tangan nya lincah membantu Carlos mengenakan pakaian nya.

__ADS_1


"Jangan cium-cium, Om."


Carlos terkekeh, tak tahan melihat bibir Calista yang menganggur.


__ADS_2