
Fadil baru saja kembali dari Rumah Sakit memeriksakan kandungan Dewi yang sudah berusia tiga bulan.
Ia bersyukur atas kesehatan calon anak keduanya yang kuat walau kedua orang tuanya sedang tak baik-baik saja.
Walau hubungan Fadil dan Dewi masih belum baik-baik saja, tapi keduanya tetap memerhatikan kehamilan Dewi.
Fadil masih tetap membuatkan susu, memasakkan makanan sehat, dan menuruti ngidam nya Dewi.
"Mas. Maaf," kata Dewi dengan wajah sedih ketika Fadil hendak bangkit keluar kamar.
Fadil menghela nafas panjang kemudian duduk kembali di tepi ranjang. Digenggam tangan Dewi. "Gak perlu minta maaf. Aku lah yang salah."
"Apa mas menyesal telah menikahiku?"
"Tentu saja enggak. Tolong jangan bahas itu lagi. Aku hanya sedang memikirkan bagaimana cara memperbaiki hubunganku pada Mario. Aku meminta jangan bertindak gegabah lagi, Wi."
"Maaf," ucap Dewi lagi.
"Sudah. Jangan pikirkan itu lagi. Tugasmu hanya menjaga anak kita," Fadil mengecup punggung tangan Dewi.
Tidak tahu siapa yang memulai, kedua insan iyu telah dalam keadaan polos. Saling memberi kenikmatan, memuaskan dahaga kasih dan sayang dalam pergumulan panas bermandikan peluh.
Keduanya sadar, dalam berumah tangga bukan hanya persoalan cinta atau tidak. Tapi ada tanggung jawab yang diemban hingga akhir hidup.
Jika memang tak ada cinta ketika memulai pernikahan, bukankah cinta akan tumbuh seiring berjalan waktu?
Karena cinta akan datang karena terbiasa bersama. Apalagi jika sudah ada anak yang hendak dilahirkan, Fadil tak ingin anak keduanya mengalami apa yang dirasakan anak pertamanya.
Hingga puncak kenikmatan itu tercapai dan Fadil berguling ke sisi Dewi. Di peluk Dewi hingga keduanya terlelap.
...----------------...
Dua jam kemudian, Fadil dan Dewi telah bangun dan selesai membersihkan diri. Fadil berencana sore nanti mendatangi rumah Nadia kembali dengan membawa bekal makanan kesukaan Mario.
Dengan tangan nya sendiri, Fadil menyiapkan bahan makanan. Ia akan memasak rendang daging kesukaan Mario.
"Aku bantu, ya mas." kata Dewi baru saja tiba di dapur.
"Gak perlu. Kamu duduk saja, nanti kamu capek dan gak ingin menambah masalah lagi dengan Mario."
Dewi hanya diam karena tahu maksud penolakan Fadil. Itu karena Mario tidak suka dengan keberadaannya.
Dewi juga sudah menyadari kesalahannya. Tak seharusnya ia menguasai Fadil sementara suaminya itu memiliki sisi hidup yang harus menyertakan wanita lain dan juga seorang anak.
__ADS_1
Tetapi, jika boleh rasanya Dewi ingin perhatian Fadil hanya tertuju padanya. Bukankah ia istri sah?
Sah secara agama dan hukum negara.
Hingga kini, Dewi belum mengetahui bagaimana sifat Mario karena pemuda itu memang tertutup.
Dan ia mengagumi pemuda itu sudah di didik oleh keluarga Abraham sedari dini untuk menjadi asisten pribadi ahli waris Abraham group.
Siapa yang tak mengenal raja bisnis tersebut. Bahkan sebelum menjadi sekretaris Carlos, Dewi sangat ingin bisa bekerja disana. Tetapi memang sangat sulit bisa menjadi pegawai disana.
"Selesai," kata Fadil setelah selesai memasak dan menyajikan makanan itu.
"Aku pergi dulu," pamit Fadil lagi dan diangguki oleh Dewi.
Fadil mengendarai mobil menuju rumah Nadia dimana Mario masih berada disana selama liburan.
Ia berharap hubungannya dengan Mario kembali baik seperti dahulu. Sungguh, Fadil sangat takut bila masalah yang telah mereka alami membuat karakter Mario yang memang sudah tertutup semakin berbahaya.
Fadil takut bila Mario akan menilai seorang wanita murahan dan hanya bisa dibeli oleh uang.
Fadil takut bila Mario akan menilai wanita itu jahat.
Takut bila Mario tak ingin mengenal cinta dan takut berumah tangga. Parahnya, Mario tak mengenal setia.
...----------------...
"Mario. Aku muak harus bekerja begini. Sialan, apa gak ada kerjaan selain mendekatiku?" sentak Malvyn ketika baru saja keduanya tiba dirumah Nadia.
Malvyn dan Mario baru saja kembali setelah seharian berjualan kaos di stand pameran di pinggir kota.
Edzard melatih Malvyn sama seperti Opa Qenan. Agar kelak bisa menghargai jeri payah yang telah dicapai.
Bukan tanpa alasan, itu semua Edzard lakukan karena sifat Malvyn yang jauh berbeda darinya. Malvyn lebih mirip pada Daddy Qenan.
Hanya saja, Malvyn adalah bukan hanya dingin melainkan arogan.
"Salahkan wajah Bos yang bule," celetuk Mario.
Malvyn menunjang meja kayu di dekatnya mengarah pada Mario. "Itu sudah keturunan, aku hanya gak suka dikejar-kejar, apalagi sampai dengan sengaja serahin diri. Oh sial, betapa jelek tubuh mereka!" umpat Malvyn.
"Bos bisa membeli mereka sesuai apa yang diinginkan."
Malvyn mengangguk setuju. "Seenggaknya sebelum menikah, kita nikmati masa muda yang banyak uang."
__ADS_1
Mario mencebik. "Aku gak mau menikah."
Malvyn menghela nafas panjang. "Terserah. Yang penting kamu jangan jatuh cinta padaku, Mario."
Malvyn dan Mario menoleh ke arah pintu yang terbuka dan menampakkan Fadil masuk ke dalam rumah.
Mario melengos melihat sang ayah datang kembali. Rasa kecewa itu masih selalu ada, tak dapatkah Fadil memahaminya sebentar saja? pikir ya.
"Ayah bawa rendang daging kesukaanmu, Mario. Ayah sendiri yang memasaknya," ucap Fadil melihat Mario dan Malvyn bergantian.
Fadil selalu merasa bila berhadapan dengan Mario dan Malvyn seperti berhadapan pada patung.
Lebih tepatnya, Mario berubah menjadi seperti Malvyn yang bisa berdiam diri tanpa ekspresi dan hanya mata yang bergerak.
"Apa kalian mau?" tawar Fadil.
Malvyn melihat Mario enggan menjawab. "Om, biar nanti saat makan malam saja. Kami baru pulang bekerja," tolak Malvyn secara halus.
Satu keistimewaan Malvyn. Mario tahu sahabat sekaligus bos nya itu walau dingin dan arogan, pasti tetap akan sopan bila berhadapan dengan orang yang lebih tua.
Sekarang, tidak tahu jika setelah dewasa.
Fadil menarik nafas. Ditatap Mario yang enggan menatapnya. "Maafin, ayah. Ayah sangat bersalah disini. Andai ayah bisa mengulang waktu, Nak."
Tangan Mario terkepal kemudian menatap Fadil dengan tajam. "Mau menggunakan alat tercanggih di dunia sekalipun, Ibu gak akan pernah hidup lagi!" ucap Mario penuh penekanan.
"Yang terjadi adalah, ayah tetap memperistri wanita lai dan mengabaikan aku. Apakah ayah gak bisa menjadi ayah yang bertanggung jawab? kenapa ayah harus menjadi seperti ayah yang lain ketika sudah memiliki keluarga baru?"
Sekali lagi, Fadil berusaha mendengarkan isi hati Mario karena memang dirinyalah yang bersalah.
"Maaf."
Mario tersenyum miring mendengar kata maaf yang terlontar dari bibir Fadil. Tentu saja tahu ini adalah perlakuan yang salah, tetapi hati tak dapat di bohongi bila ia memang sangat kecewa.
Kecewa pada semua yang terjadi.
Ayah nya yang tak ingin menerima warisan.
Ibu nya yang nekad menikah lagi walau tetap mengurus sang ayah juga dirinya.
Ayah nya tergoda oleh daun muda dan menikah lagi sementara ibunya telah hamil dan kehamilan bermasalah berujung petaka.
Di tambah sang ayah tak lagi memiliki waktu untuknya karena lebih banyak menghabiskan waktu bersama istri baru dan anak-anak asuh sang ayah.
__ADS_1
"Pergilah. Dan jangan lupa memberiku uang jajan."