Aku Bukan Rahim Pengganti

Aku Bukan Rahim Pengganti
80. Aku Bukan Rahim Pengganti


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu. Fadil sudah mulai belajar mengenal karakter Dewi yang memang keras kepala.


Ia juga masih tetap menyimpan aset-aset berharganya pada Bimo. Hanya Bimo yang dapat dipercaya sedari dulu.


"Aku harus mengunjungi Mario, Wi."


"Apa aku boleh ikut?" tanya Dewi membuat Fadil menghentikan langkah.


Ia tak lantas langsung menjawab karena merasa bingung memikirkan bagaimana reaksi Mario jika tahu Dewi ikut bersamanya.


"Mas," rengek Dewi.


"Aku juga ingin dekat dengan Mario."


"Benarkah?" tanya Fadil merasa senang dan ragu sekaligus.


Dewi mengangguk.


Fadil tersenyum kemudian mengangguk. "Bersiaplah, aku menunggu disini."


Dewi mengangguk lalu masuk ke kamar agar bersiap. Senyuman nya terus mengembang karena merasa senang diperlakukan sangat manis oleh Fadil.


Ia pun merasa senang karena Fadil memberikan uang belanja dua kali lipat dari kemarin saat mereka berseteru.


Dewi sudah selesai bersiap dan keduanya berangkat ke rumah Nadia. Ada perasaan tak karuan di hati Fadil karena Dewi ikut mengunjungi Mario.


Tapi, ia bingung harus bagaimana. Bila menolak Dewi, itu berarti akan menyakiti istri. Tetapi mengajak Dewi juga bukan ide yang bagus.


Setiba mobil mereka sudah sampai di rumah Nadia, Fadil turun lebih dahulu. Ia mengitari mobil ke sisi lain dan membuka pintu mobil buat Dewi.


Keduanya berjalan bersama menuju pintu utama. Bel terus dipencet tetapi belum juga ada yang membuka pintu. Hingga tak berapa lama, seorang pelayan membuka pintu bagi mereka.


"Mario ada, Bi?" tanya Fadil sopan.


"Den Mario ke rumah sakit bersama den Malvyn, tadi."


Fadil dan Dewi kaget mendengar itu. "Siapa yang sakit, Bi?" tanya Fadil lagi.


Bibi Nur tampak bingung. "Itu, suami kakak nya den Malvyn."


Fadil dan Dewi tentu tahu siapa suami dari kakak Malvyn. Mereka permisi pergi dari sana. Sebelum pergi, Fadil menanyakan rumah sakit mana Carlos di rawat.


Fadil dan Dewi masuk ke dalam mobil dan segera meninggalkan rumah menuju rumah sakit. Di tengah perjalanan, Fadil mampir ke toko roti dan membeli beberapa roti disana buat buah tangan.


*


*


Sesampainya di Rumah Sakit, Fadil dan Dewi bertanya ke resepsionis dimana ruang rawat inap Carlos berada.


"Makasih ya, mbak!"


Keduanya jalan beriringan menuju ruang rawat inap Carlos yang berada di ruang VIP. Bukan hal baru jika bagi mereka yang memiliki uang banyak untuk menempati ruang mewah itu.

__ADS_1


Fadil mengetuk pintu dan pintu terbuka. Ternyata, ada banyak orang yang sedang menjenguk Carlos.


Ada Edzard dan Ivy, Bimo dan istri, Malvyn dan Mario.


Kedatangan Fadil dan Dewi mengubah suasana menjadi lebih canggung.


Calista yang menyadari itu segera bangkit dan menerima bingkisan yang diberikan Dewi juga mempersilahkan mereka duduk.


Fadil mendekat ke brankar Carlos dan menanyakan keadaan mantan suami dari istri pertamanya.


"Ini hanya luka kecil tapi istriku meminta agar aku di rawat lebih lama. Sebelumnya, terimakasih telah menjenguk!" kata Carlos.


"Semoga lekas pulih, Tuan."


Carlos mengangguk.


Edzard dan Ivy juga mendekat ke brankar Carlos buat pamit kembali pulang. "Calista, Papi dan Mami pulang, ya. Kamu jangan kelelahan," kata Ivy memeluk Calista lalu mengelus perut buncit anak angkat nya itu.


Calista mengangguk. "Makasih, Mi."


Edzard juga memeluk Calista cukup lama.


Carlos menimpuk lengan Edzard. "Jangan memeluk istriku lama-lama," cicit Carlos tak suka.


"Aku peluk anakku, kalau kamu lupa."


Sekali lagi ayah mertua dan menantu berseteru tak kenal tempat dan semua orang yang menyaksikan hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Sini aku peluk. Bilang saja kamu juga minta dipeluk ayah mertua," kata Edzard membalikkan bada ke arah Carlos langsung mendekap menantu nya itu.


Semua orang terkekeh melihat itu. Akhirnya perseteruan mereka berhenti karena para istri memberi peringatan.


Ivy mendekat pada Carlos. "Jangan aneh-aneh lagi kalau naik mobil. Ingat, Calista sebentar lagi melahirkan."


Carlos mengangguk. "Aku mengerti. Boleh aku memelukmu? rasanya sudah sangat lama enggak peluk adikku," gumam Carlos.


"Enggak boleh," kata Calista dan Edzard nyaris bersamaan.


Kembali lagi semua orang terkekeh melihat tingkah mereka.


"Awas saja kalau Om berani peluk wanita lain. Bakalan ku pastika, detik itu juga aku bermalam dengan pria lain."


Calista benar-benar mengancam Carlos karena tak ingin ada wanita lain diantara mereka.


Carlos mematung mendengar ancaman Calista. Mendadak mimik wajahnya berubah pias. "Sayang. Ampun!"


Di pojokan ruang rawat Carlos, dua pemuda beranjak dewasa itu hanya diam tanpa menggambarkan ekspresi apapun.


Tetapi, dalam hati kedua nya berharap semoga semua nya baik-baik saja.


"Rio, aku bosan."


Mario menoleh saat Malvyn mengeluarkan kata yang sebenarnya juga ingin ia katakan.

__ADS_1


Tanpa berkata apapun lagi, keduanya keluar dari ruangan itu tanpa pamit karena tak ingin mengganggu momentum dan juga menghindari Fadil dan Dewi.


Fadil yang menyadari Mario telah keluar, memilih mengikuti dan meninggalkan Dewi di ruang rawat Carlos.


Fadil berjalan cepat karena jarak antara ia dan Mario cukup jauh. "Mario," panggil Fadil membuat langkah dua pemuda dihadapan nya berhenti.


Malvyn berbalik lebih dahulu melihat siapa yang telah memanggil Mario. Setelah tahu siapa sang pemanggil, Malvyn menepuk pundak Mario. "Selesaikan urusanmu. Aku gak mau karena masalah begini, pekerjaan kita terganggu. Aku tunggu di mobil," Malvyn mengangkat lengan lalu menaikkan sedikit kemeja nya agar jam tangan di pergelangan tangan terlihat.


"Tiga puluh menit. Aku tunggu di asrama," imbuh Malvyn lalu dengan nada tegas.


Bagi Malvyn, sikap profesional dalam bekerja itu adalah hal penting. Bukan berarti ia tak simpati pada Mario, tetapi karena masalah keluarga itu semakin larut tak terselesaikan membuat pekerjaan Mario terbengkalai belakangan ini.


Itulah sebabnya Malvyn berkata demikian.


*


*


Mario mengangguk mengerti kemudian mengajak Fadil ke kafe tak jauh dari Rumah Sakit.


"Mau naik mobil bersama, ayah?" tanya Fadil ketika sudah berada di parkiran rumah sakit.


Mario menggeleng. "Aku bawa motor," tolaknya kemudian mendekati motor gede berwarna merah yang baru saja di beli kan Malvyn.


Fadil tertegun melihat motor gede yang di dekati Mario. Ia tidak menyangka bila sang anak telah memiliki benda mahal itu.


Fadil mengikuti Mario dari belakang menuju kafe terdekat. Setelah sampai pada area kafe, ia memarkirkan mobil lalu keluar dari mobil kembali mengikuti Mario.


Mario memilih meja paling pojok bersebelahan dengan dinding kafe berbahan kaca.


Fadil duduk berhadapan dengan Mario. Pelayan Kafe membawa dua gelas berisi kopi hitam dan capuccino dingin ke meja mereka.


Fadil tersenyum karena Mario sudah lebih dulu memesan minuman kesukaan nya.


"Aku yang traktir," ucap Mario membuat Fadil tersenyum.


"Ini adalah kali pertama kamu mentraktir ayah. Kamu anak hebat," puji Fadil.


Mario tidak menanggapi. "Apa yang mau dibicarakan lagi?"


Fadil memperbaiki cara duduknya, menyesap kopi kemudian berdehem sebelum berbicara. "Mario. Ayah sadar dan sangat menyesali perbuatan ayah terhadap Ibu. Ayah yang mudah terbuai oleh godaan wanita lain membuat ayah berkhianat. Ayah sudah tua, nak. Gak mungkin papa memilih diantara kamu dan istri ayah. Ayah ingin merangkul kalian berdua. Hidup dengan damai."


Fadil menjeda ucapan nya ingin melihat reaksi Mario yang ternyata hanya diam memasang wajah datar.


"Ayah harap, setelah kamu menikah nanti enggak seperti ayah."


"Aku gak ingin menikah," sela Mario membuat Fadil terkejut.


Apakah ketakutan Fadil menjadi nyata?


Benarkah anaknya menjadi trauma?


❤️

__ADS_1


Semangat Senin.


Jangan bosan-bosan mengikuti cerita emak ya..


__ADS_2