
Hari ini adalah hari ke tujuh Dewi di rawat dalam Rumah Sakit. Ia sudah mulai menerima keadaan bawah sang anak tak dapat di selamatkan.
Dewi juga sudah mengetahui bila rahim nya mengalami robek parah yang akan berbahaya jika hamil lagi dan tidak dalam pengawasan dokter.
Menyesal?
Sudah pasti.
Seharusnya hari itu, ia menunggu Fadil pulang dan membawakan makanan yang diinginkan. Tidak harus berangkat sendiri ke Kota karena tak sabar ingin memakan makanan Jepang.
Fadil dan Dewi baru saja tiba di rumah. Anak asuh mereka juga tampak sedih atas kejadian yang menimpa Dewi.
Fadil masuk ke dalam kamar setelah anak asuh mereka telah kembali ke rumah sebelah. Ia membawakan makan siang buat Dewi.
Ia duduk di tepi ranjang menghadap Dewi. "Kamu makan, setelah itu minum obat!" kata Fadil.
Dewi memaksa senyum seraya mengangguk.
Dengan telaten Fadil menyuapi Dewi. "Jangan menangis," kata Fadil.
"Apa mas akan menikah lagi?"
Fadil langsung menatap Dewi kemudian menggeleng lemah. "Aku gak mau mengulang kesalahan yang sama, Wi."
Fadil meletakkan piring di atas nakas, digenggam tangan Dewi. "Sayang. Jangan pernah berpikiran begitu. Sekarang kita harus perbaiki semua nya."
Dewi menunduk dengan tangis yang mulai sesegukan. Dengan sigap Fadil mendekap tubuh Dewi memberi ketenangan pada sang istri.
Setelah Dewi merasa tenang, Fadil memberi obat karena sang istri tak ingin melanjutkan makan siang nya.
Fadil menuruti tetapi ia meminta Dewi agar makan kembali sebelum petang tiba.
*
*
"Makasih, Calt."
Calista mengangguk kemudian menyesap jus alpukat dalam gelas yang sedari tadi dipegangnya.
Sepulang kuliah, Anita memaksa ingin berbicara dengan nya. Padahal ia sudah sangat menghindari sahabatnya itu.
"Jangan menghindar lagi, Calt. Aku sangat berharap, hubungan kita masih sama seperti dulu."
Calista menggeleng. "Kita gak akan sama. Kamu calon ibu ku," sahut Calista lirih masih terdengar oleh Anita.
Anita merasa sedih karena Calista menghindar semenjak mengetahui hubungan nya dengan Wildan.
__ADS_1
"Bukankah lebih bagus? aku bisa menjadi teman curhatmu ketika Om Carlos berbuat ulah," kata Anita.
Calista mencebik. "Dan kamu bisa bercerita masalahmu dengan suami mu yang tak lain papa ku?" tanya Calista sewot.
Calista bangkit dari duduk kemudian meraih tas selempang nya. "Kita pasti bakal seperti dulu. Tapi butuh waktu, An. Aku hanya meminta tolong jaga baik-baik papa ku."
Calista meninggalkan Anita yang duduk termangu. Bukan tidak suka atas pernikahan Anita dan Wildan. Hanya saja, ia butuh waktu untuk beradaptasi dengan keadaan.
Calista tersenyum ketika melihat Carlos sudah berada di Parkiran dan sedang bersandar di mobil.
Tetapi, senyuman nya surut karena banyak mahasiswi menatap Carlos dengan tatapan kagum.
Apalagi yang ia ketahui, banyak teman kuliah nya yang menjadi sugar baby atau sedang mencari sugar Daddy.
Dengan perut besar nya, Calista mencoba mempercepat langkah kaki mendekati Carlos.
Carlos melihat Calista berjalan lebih cepat menjadi khawatir. Ia langsung menyusul Calista. "Sayang. Jangan berjalan cepat begitu," kata Carlos khawatir seraya merangkul lengan Calista dan menuntun menuju mobil mereka.
Setelah Calista masuk ke dalam mobil dan memasangkan seat belt, Carlos menutup pintu lalu mengitari mobil dan masuk ke sisi penumpang sebelah sang istri.
Pak Agus menjalankan mobil setelah melihat dua majikan nya.
"Kenapa, hm?" tanya Carlos menyadari sang istri tidak seperti biasanya.
Calista semakin memanyunkan bibir lalu memalingkan muka ke jendela dengan tangan bersidekap di atas perut buncitnya.
"Om kalau jemput jangan keluar mobil," kata Calista merajuk.
Kepala Calista bersandar manja di dada Carlos. Pikiran nya melayang ke pernikahan sang ayah beberapa hari lagi.
Mobil mereka berhenti di sebuah butik terkenal. Hari ini, keduanya hendak fitting pakaian untuk acara syukuran kehamilan Calista beserta pernikahan Wildan dan Anita.
Gaun putih dan tuxedo berwarna senada dengan gaun Calista. Sebenarnya, sebulan sebelum hari ini sudah fitting pakaian, tetapi berat badan yang semakin bertambah membuat pakaian yang sudah selesai harus di ganti dengan yang baru.
*
*
William mengeratkan jaket tebal yang dikenakan nya. Di Inggris, sedang musim dingin.
Ia berencana kembali ke Indonesia bulan depan untuk menghadiri acara pernikahan Wildan dan Anita.
Sebenarnya, belum siap kembali ke sana karena masih sangat terlalu cepat dirasa mengasingkan diri agar bisa melupakan Anita.
Tetapi, ia tak ingin membuat Wildan semakin merasa bersalah padanya. Baginya, kebahagiaan sang kakak utama.
"Are you, okey?" tanya Wilson.
__ADS_1
William yang masih memandang salju turun di luar rumah langsung menunduk menatap Wilson.
Ia tersenyum dan mengangguk, kemudian melihat ke luar jendela lagi. "Kamu siap kembali ke Indonesia?"
Wilson mengedikkan bahu. "Aku hanya sudah gak sabar menunggu kak Calista melahirkan."
William menoleh ke arah Wilson sekejap lalu menatap ke arah semula. "Sama kak Anita?"
"Dia cerewet. Aku kurang nyaman, tapi aku juga ingin bertemu dengan nya. Dia baik," sahut Wilson.
Wilson sangat dekat dengan William karena hanya sang papa yang dipercayainya.
"Jangan terlalu diam kalau sama orang baru, Son. Kamu selalu saja dikatain sombong."
Wilson mencebik. "Aku hanya gak bisa berbasa-basi, pa. Dan gak suka basa-basi, juga."
William menghela nafas panjang. Di rangkul lengan atas Wilson agar merapat pada tubuhnya.
William sudah tak ingin lagi bermain wanita. Inginnya sekarang adalah fokus pada sang anak saja.
*
*
Hari berlalu begitu saja. Calista sudah cuti kuliah karena Carlos yang tak ingin membuatnya kelelahan.
Perut yang semakin membuncit membuat Calista malas untuk bepergian kemanapun. Termasuk ikut bekerja dengan Carlos.
Tetapi, entah mengapa hari ini Calista ingin sekali mengunjungi kantor sang suami.
Ia pun bersiap mengenakan dress hamil dan menenteng tas jinjing nya.
"Pak. Ke kantor suamiku, ya." Pinta Calista pada Pak Agus.
Pak Agus mengiyakan dan langsung melajukan mobil setelah Calista sudah bersiap di dalam mobil tersebut.
Satu jam kemudian, mobil mereka telah sampai dan Calista sudah berada di Lobby
Seperti biasa, setiap ia berkunjung ke kantor Carlos maka banyak karyawan dan karyawati yang menyapa dirinya.
Tak lupa ia menyapa balik atau mengobrol sebentar dengan mereka. Di sepanjang koridor kantor, Calista memikirkan bagaimana reaksi Carlos yang akan terkejut atas kedatangan nya.
Apalagi sekarang, suaminya itu sangat posesif yang sering membuat Calista pusing sendiri.
Calista meraih handle pintu ruang kerja Carlos. "CARLOS MARTINEZ!!!" Calista menjerit memanggil nama lengkap suaminya setelah apa yang di lihat nya barusan.
"Sayang. Kamu salah paham. Ini bukan seperti yang kamu lihat," Carlos mendekati Calista dengan raut wajah khawatir.
__ADS_1
Calista mengepalkan tangan dengan erat. Di tatap mata Carlos dengan tajam.
PLAK