
"Sayang. Aku masih tampan kan?" tanya Carlos.
Carlos dan Calista tengah berada dalam kamar, dikediaman Edzard. Calista dengan telaten menyisir rambut Carlos karena sudah berantakan akibat ulah tadi.
Calista terkekeh lalu mengecup kening Carlos. "Kamu sangat tampan, Om."
Carlos memeluk Calista yang berdiri. Ia bersandar di perut Calista yang sudah buncit. "Apa kamu sudah siap untuk besok?" tanya Carlos seraya mengecup perut Calista.
"Siap sih, tapi aku takut bakal di bully."
Carlos mendongak. "Aku akan melindungi mu, sayang. Gak akan ada yang berani mengusik mu. Kamulah Nyonya Carlos Martinez yang sesungguhnya."
"Aku tahu," kata Calista.
...----------------...
Keesokan hari. Carlos lebih dahulu hadir ke Kantor bersama Bimo. Hari ini, tepatnya pada siang hari sebelum jam istirahat, Carlos akan mengadakan konferensi pers buat mengenalkan Calista kepada publik sebagai istri seorang Carlos Martinez.
Carlos masuk ke ruang dimana tempat konferensi pers diadakan dan diikuti Bimo dibelakangnya.
Carlos duduk di kursi yang telah disediakan, terdapat meja dihadapan nya yang dipenuhi oleh microphone di meja tersebut.
Carlos berdehem lalu mengucapkan salam dan pidato pembuka. "Sebelumnya pasti kalian banyak yang penasaran dengan siapa istri muda saya. Benarkan?"
"Benar, Tuan!" seru salah satu reporter.
"Siapa wanita itu, Tuan?"
Carlos tersenyum. "Dia adalah wanita cantik dan sempurna. Dia adalah cinta pertamaku sebelum bertemu dengan mantan istriku," Carlos mengatakan itu dengan tatapan penuh cinta membayangkan Calista.
"Apa mendiang mantan istri anda tahu jika anda menikah lagi?"
"Tahu. Saya mengatakan yang sejujurnya dan perlu kalian ingat, istri kedua ku bukan perebut suami orang seperti kalian bicarakan. Akulah yang menikahinya, akulah yang membuat istriku masuk ke dalam rumah tangga kami."
Para awak media terus saja bertanya atas apa yang membuat mereka penasaran. Merekam, memvideo, mencatat, dan memotret. Itulah yang mereka kerjakan karena tak ingin tertinggal berita.
Carlos tersenyum melihat kearah pintu masuk. Disana ada Calista dan kedua mertua nya. Ia pun beranjak menyusul Calista.
Gerakan dan perlakuan Carlos tak luput dari kamera yang mengarah padanya.
Carlos merangkul pundak dan mencium pucuk kepala Calista dengan sayang tanpa melihat tempat dan waktu. Sebelah tangannya lagi menggenggam tangan Calista.
"Jangan begini, Om. Aku malu," cicit Calista.
"Gak perlu malu. Mereka harus tahu kalau kamulah Nyonya Carlos Martinez sesungguhnya."
Keduanya berjalan diikuti Edzard dan Wildan dibelakang menatap jengah kearah pasangan dihadapan mereka.
__ADS_1
"Punya menantu kok ya seumuran," celetuk Wildan.
"Ya. Lagi puber kedua juga," keluh Edzard.
"Sobat. Cepatlah kamu duduk. Jaga kesehatanmu," nasihat Edzard.
Wildan menoleh kearah Edzard sambil tersenyum. "Aku baru berdiri hari ini setelah semalam menghajar menantu kita."
...----------------...
"Perkenalkan, ini adalah istri saya. Nyonya Carlos Martinez sesungguhnya."
Pengakuan Carlos membuat para wartawan heboh. Cahaya kamera memenuhi ruangan mengambil potret Calista.
Pertanyaan-pertanyaan yang menyinggung hati pun terlontar. Dan itu membuat Carlos, Edzard, dan Wildan emosi.
"Kalian bisa menilai aku sesuka hati. Tapi, yang terpenting adalah suamiku sangat mencintaiku."
"Apa benar anda mau menjadi istri kedua karena harta dan sebagai rahim pengganti?"
Calista tersenyum. "Bukan karena harta. Pasti kalian tahu keluarga angkatku juga kaya raya. Sebagai rahim pengganti? mungkin awalnya aku merasa begitu. Kalian lihat sendiri bukan? bagaimana romantisnya suamiku kepada istrinya," Calista terkekeh mencairkan suasana tetapi Carlos protes.
"Aku akan menghukummu, sayang!" bisik Carlos.
"Tapi aku salah. Aku juga dicintai suamiku dan hari ini aku juga mau kasih tahu siapa papa kandungku," Calista menoleh kearah Wildan dengan senyum manisnya.
"Beliau adalah Wildan Aletta, kakak kandung dari Om aku, William Aletta."
...----------------...
Dewi menonton televisi pemberitaan Calista sebagai istri kedua Carlos Martinez yang selama ini disembunyikan.
Pemberitaan itu menjadi trending topik di berbagai media sosial. Bahkan setelah mengadakan konferensi pers tersebut, Calista sering diundang ke beberapa acara talk show.
Pernikahan beda usia, keadaan ayah kandung dan ayah angkat menerima pernikahan mereka juga tak luput dipertanyakan.
Dewi terkekeh melihat Calista menceritakan bagaimana bila Carlos bertemu dengan kedua ayahnya.
"Mas. Calista lucu, ya. Pantas saja Tuan Carlos cepat move on."
Fadil mengiyakan seraya memainkan ponsel mencoba menghubungi Mario.
Hubungan Fadil dan Mario belum juga membaik. Karena belum dapat memaafkan ayahnya tersebut.
Fadil juga sudah menyadari mengapa begitu mudah terbuai akan kehadiran wanita lain. Padahal, selama empat belas tahun dapat setia menanti kepulangan Nadia.
Apalagi ucapan Mario mengatakan jika Fadil menjadi lalai mengurus Nadia yang hamil dan lalai memberi perhatian pada Mario.
__ADS_1
"Andai saat itu aku tahu ayah melakukan hubungan suami istri terakhir kali agar membuat ibu hamil dan akhirnya meninggal. Lebih baik aku dobrak pintu kamar kalian dan menggagalkan rencanamu, ayah. Kamu telah membunuh ibu ku."
Itulah ucapan Mario terakhir kali saat Fadil mengunjungi rumah Nadia, berharap anak nya itu memaafkan kesalahannya.
Dan Fadil mulai merasakan perubahan sikap Mario kepada orang lain. Mario sudah berubah menjadi anak yang dingin kepada siapa pun kecuali pada Malvyn.
...----------------...
"Bagaimana perasaanmu, sayang?" tanya Carlos setelah berada di rumah.
Keduanya baru saja kembali dari undangan salah satu acara talk show yang di bawa oleh artis.
Calista tersenyum. "Aku malu terus tersorot kamera. Di Kampus juga begitu, banyak yang mendekatiku."
Carlos mengerutkan dahi. "Tapi bukan cowok kan?" ia berubah menjadi mode cemburu dan mulai insecure pada yang lebih muda.
"Ya cowok ada juga. Tapi cuma teman, Om."
"Apa mereka tampan?" tanya Carlson lagi.
Calista bangkit lalu memeluk Carlos yang duduk di tepi ranjang sama seperti dirinya tadi. "Om lebih tampan, mapan, dan sangat memuaskan ku."
Calista menunduk memandang wajah Carlos yang mendingan menatap ke arahnya juga. "Sayang. Apa kamu capek?" tanya Carlos dengan suara beratnya.
Calista tersenyum. "Kenapa? pingin?"
Carlos mengangguk. ""Sudah tiga hari aku libur," sahut Carlos.
"Ya sudah, satu kali saja ya."
Carlos yang hendak mengecup bibir Calista langsung urung mendengar sahutan istrinya. "Mana enak satu kali, sayang. Tiga, ya."
Tanpa protes Calista pasrah apa yang hendak dilakukan Carlos. Ia pun mencurahkan cinta dan memuaskan Carlos.
Bagaimana Carlos merindukan menyentuh Calista, begitu pula Calista merindukan sentuhan Carlos.
Suara mendayu terus tercipta disetiap permainan yang diciptakan oleh Carlos. Hentakan demi hentakan mengantarkan cinta dari keduanya.
Saling memuaskan, saling menciptakan percikan percikan gelora cinta yang membara. Kasih dan sayang terus mengalir bersamaan darah yang berdesir.
Peluh telah membasahi tubuh keduanya yang terus saling beradu. Mencari kenikmatan disetiap sentuhan, erangan pun tak terelakkan lagi.
Carlos mengusap dahi Calista yang sudah dibasahi oleh keringat. Hentakan nya menjadi semakin kencang karena sudah hampir mencapai puncak nirwana.
Suara keduanya pun saling beradu hingga erangan panjang dari Carlos tercipta ketika semburan cairan masa depan itu telah memenuhi rahim Calista.
"Terimakasih, sayang." ungkap Carlos mengecup kening dan bibir Calista.
__ADS_1
Calista yang masih terpejam hanya mengangguk. "Kenapa masih nyatu?" tanya Calista sebenarnya tahu bila Carlos belum puas hanya sekali.
"Lagi," rengek Carlos.