
Calista terkejut atas permintaan Carlos. Bagaimana bisa satu rumah dengan istri pertama sang suami?
Sekali lagi sepasang suami istri beda usia itu berdebat dalam mobil. Sedang si Agus hanya bisa menghela nafas melihat kedua majikan nya yang tak ingin mengalah.
"Aku gak mau," tolak Calista kembali bersidekap dan pandangan mengarah ke luar jendela.
Carlos menghela nafas. "Baiklah, pulang ke Apartemen. Deal," ucapnya langsung disetujui Calista.
Carlos menarik tubuh Calista dan mengangkatnya untuk duduk di pangkuan. Di arahkan kepala istrinya agar bersandar pada dada dan ia sendiri menikmati aroma rambut Calista yang semakin membuatnya rindu.
"Perut kamu sudah mulai menonjol," kata Carlos seraya mengelus perut Calista.
Calista menunduk melihat tangan Carlos yang sudah berada di dalam jaket nya. "Iya, sekarang aku sering buang angin!" tutur Calista membuat Carlos terkekeh.
"Itu wajar sayang."
Calista cemberut. "Tapi aku malu, masa iya cantik-cantik tapi tukang kentut!"
Oh ya ampun. Ingin sekali Carlos mencium lalu menghisap bibir Calista yang sedang manyun itu.
Ah, Carlos baru mengingat bila sekarang mereka seperti tidak terjadi masalah. "Kentutlah sepuasnya, sayang. Enggak perlu malu," Carlos lebih memilih menenangkan Calista daripada harus membahas permasalahan mereka.
Mobil sampai di pusat perbelanjaan. Dengan senang hati Calista berbelanja bersama. Carlos sendiri tak kalah antusias memilih baju hamil untuk istri kecilnya.
Apalagi ini adalah pengalaman pertama baginya. Tanpa disadari, Carlos kembali melupakan Nadia bila sudah berada dekat Calista.
"Sayang. Lihat, ini bagus!"
Calista melotot lalu merebut pakaian itu dari tangan Carlos. "Ini bikini, Om." omel Calista.
"Iya tapi cocok. Perut nya terbuka jadi kamu gak bakal ngerasa sesak," terang Carlos membuat Calista merebut bikini yang diberi suaminya itu.
"Yang ada Om pingin mulu," gumam Calista masih terdengar jelas ditelinga Carlos.
"Emang boleh?" tanya Carlos membuat pandangan keduanya bertemu.
Calista berdecak kemudian kembali memilih baju hamil begitu juga Carlos. Di tengah-tengah itu, ponsel Calista berdering langsung di buka karena itu tanda dering pesan masuk.
Dilihat beberapa foto yang dikirim ke ponsel Calista lalu melirik Carlos. Helaan nafas panjang setelah itu.
"Kamu kenapa, hm?" tanya Carlos merasakan perubahan Calista tak seantusias tadi setelah menerima pesan di ponsel istri kecilnya.
Ya, setelah melihat foto-foto yang dikirim dari orang suruhannya membuat Calista tak tertarik dengan belanja lagi.
Bagaimana mungkin ia merasa senang sedangkan suaminya telah ditipu oleh istri pertama selama empat belas tahun.
__ADS_1
Hatinya bergejolak memikirkan bagaimana nasib Carlos bila kebusukan Nadia terbongkar dan rencana jahatnya juga dilakukan.
Bagaimana perasaan Carlos?
Kini, Calista merasa goyah atas rencana nya. Entah mengapa ada rasa tidak tega melihat Carlos terpuruk.
Di tatap Carlos dengan intens. Tidak tahu apakah ini termasuk hormon kehamilan atau dari hati nya. Air mata Calista mengalir membuat Carlos panik.
"Hei. Kenapa menangis?" tanya Carlos panik mendekati Calista lalu mengusap air mata itu dengan ibu jari kemudia memeluk tubuh sang istri.
Karena tak ada jawaban, Carlos melambai kearah penjaga Toko untuk menyusun belanjaan mereka tadi dan menyerahkan salah satu kartu sakti miliknya.
Carlos menuntun Calista keluar Toko menuju mobil. Kini, ia memahami jika suasana hati wanita hamil memang sangat mudah berubah-ubah.
"Ceritakan. Apa yang kamu rasakan, sekarang?" tanya Carlos masih memeluk dan mengusap rambut Calista.
Calista menggeleng merasa belum siap menceritakan semuanya. Kepalanya mendongak. "Aku mau ke suatu tempat di pinggiran kota."
Carlos menunduk menatap Calista dan mengangguk setuju. Usai belanjaan sudah di taruh di bagasi oleh Agus, mereka berangkat ke tempat yang diminta Calista.
Pinggiran kota Jakarta.
Sebenarnya ini adalah cara agar Carlos dapat melihat Nadia. Karena menurutnya, kakak madu nya itu begitu mulus jalani peran tanpa dicurigai Carlos.
Carlos hanya mengikuti kemauan Calista. Apalagi saat istri kecilnya meminta turun dari mobil dan duduk di lapangan bola.
Baginya, terpenting Calista selalu merasa bahagia. Carlos pun memotret Calista.
Penampilan Om Carl saat jemput Calista.
...****...
Carlos terus saja tersenyum melihat Calista merasa tenang sekarang. Menarik nafas panjang karena merasa sesak di dada akibat jantung nya terus saja berdebar ketika bersama Calista.
Aku ingat debaran jantung ini pernah aku rasakan disaat pertama kali bertemu dengan Ivy tapi kemudian hilang karena aku sadar kalau perasaanku salah. Dan debaran itu hadir saat melihat Calista umur dua tahun, dan aku merasa gila sampai harus ke Psikiater. Dan sekarang debaran jantung itu masih sama.
Disaat asyik memandang wajah Calista, matanya memicing melihat sebuah mobil yang dikenalnya melintas melewati mobilnya kearah menuju kota.
"Itu kayak mobil Nadia," gumam Carlos terus melihat mobil itu berjalan menjauhi tempat mereka.
Calista sendiri menyeringai dengan mata terpejam seolah sedang menikmati alunan musik. Padahal, inilah rencananya.
__ADS_1
Carlos mengambil ponsel untuk menghubungi Nadia.
"Kamu sedang dimana?"
"Itu.. A-aku di rumah."
Carlos merasakan kegugupan Nadia. Haruskah saat ini dirinya percaya?
Tanpa bicara lagi, Carlos mematikan sambungan telepon dan mengecek CCTV rumah mereka.
Gelengan kepala Carlos melihat jika Nadia tidak berada dirumah semenjak pagi. Mengapa ia baru tahu? karena selama dua Minggu ini Carlos pulang ke Apartemen bukan ke rumah.
"Om kenapa?" tanya Calista membuat Carlos terlonjat kaget lalu menyimpan ponselnya.
Calista cemberut, pura-pura merajuk melihat Carlos tak ingin cerita padanya. Padahal, Calista sudah melihat saat Carlos tengah sibuk menatap ponsel tadi.
"Ada masalah?" tanya Calista dan jawaban Carlos hanya gelengan kepala.
Bukan tak ingin cerita. Tapi, Carlos takut bila menjadi beban pikiran Calista dan membahayakan janin mereka lagi.
"Om, pulang yuk."
"Mau langsung pulang atau di antar ke rumah Mami Ivy dulu?"
"Ke Rumah Mami Ivy. Besok aku sama Anit, ya."
Carlos mengangguk. "Harus sama Agus. Jangan naik angkutan umum. Aku gak mau kamu desakan sama penumpang lain."
Calista mengecup pipi dan tersenyum. "Siap Om Bos," lalu mengerling mata.
Carlos terkekeh. "Kenapa masih panggil aku, Om?"
"Sudah terbiasa. Yang penting aku anggap Om itu suami aku," jelas Calista membuat Carlos menatapnya dengan intens.
Seketika Calista menjadi salah tingkah. Bagaimana bisa keceplosan begini? dan apakah benar penjelasannya tadi berasal dari hati atau termasuk dari niat jahatnya?
"Apa kamu sudah menganggapku adalah suamimu?" tanya Carlos penuh harap.
Calista berdehem. "Iya. Aku sadari, sekarang aku juga istri Om walau istri siri. Maaf kalau selama ini gak ngertiin Om yang harus adil."
Hati Carlos menghangat. Akhirnya Calista menerima nya. Tanpa menjawab, Carlos melabuhkan ciuman pada bibir Calista dan disambut baik oleh istri kecilnya.
...****...
Carlos sudah berada di rumah nya. Dan dilihat Nadia tengah berada di ruang keluarga sedang menonton televisi.
__ADS_1
"Darimana saja Nadia? capek habis perjalanan jau"