
Anita sudah menunggu kehadiran Wildan. Sudah hampir satu jam menunggu padahal acara pernikahan mereka segera dilaksanakan.
"Aku harus menyusul papa mu, Calt!" ucap Anita. Ia bangkit menaikkan gaun nya yang terjuntai ke lantai.
Calista juga merasa geram terhadap papa nya ikut bangkit dan mengikuti Anita.
Anita jalan dengan cepat dan tidak tahu bila Calista mengikutinya. Ia hendak menyusul Wildan di kamar hotel yang berbeda.
Di pertengahan jalan, William melihat Anita jalan tergesa-gesa. Ia mengejar dan mencekal pergelangan tangan gadis itu.
"Mau kemana, An?"
"Aku mau lihat om Wildan ke kamarnya, Om."
"Aku temani," ucap William.
Kamar Wildan dan William berada di lantai yang sama yaitu satu tingkat setelah kamar Anita.
Calista kesal karena Anita dan William sudah lebih dahulu masuk ke dalam lift. Ia pun menelepon Carlos untuk segera menyusulnya.
Tak berapa lama, Carlos tiba dengan senyuman menggoda. "Ada apa, sayang? apa kamu sudah merindukan aku lagi?"
Calista mencebik. "Ikut aku, om."
*
*
Anita dan William berdiri terpaku menyaksikan yang seharusnya tidak disaksikan mereka.
Dengan sigap William menutup mata Anita tetapi ditepis gadis itu. "Aku sudah melihat semuanya, Om. Dan aku sudah cukup umur melihat adegan menjijikkan itu," cicit Anita menekan rasa sakitnya.
Anita melihat arloji William. Masih ada waktu sebentar lagi untuk acara pernikahan mereka. Anita menatap mata William kemudian menarik tangan pria itu menuju tempat acara pernikahan mereka.
Anita tidak memperdulikan Calista dan Carlos juga mematung menyaksikan apa yang mereka lihat barusan.
"Kita mau kemana, An?" tanya William menyembunyikan amarah setelah melihat adegan yang baru saja mereka lihat.
"Menikah!" sahut Anita tegas dan tidak ada air mata sama sekali keluar dari mata indah gadis tersebut.
__ADS_1
William tersentak. "Jangan gila kamu, An. Kamu calon istri kakak ku."
Anita menatap William dengan tajam. "Setelah apa yang kita lihat barusan, Om masih saja diam dan gak merebut ku dari Om Wildan?" sentak Anita berang.
"A-apa maksudmu, An?" William tergagap mendengar pertanyaan Anita. Tentu saja ingin merebut gadis itu, tetapi ia takut sang kakak marah.
"Nikahi aku, Om. Buktikan kalau om memang benar-benar cinta sama aku," ucap Anita dengan mata berkaca-kaca.
William bertambah terkejut. "Kamu tahu dari mana soal perasaanku?"
"Gak penting," Anita kesal karena setelah kejadian William mabuk dan menyatakan cinta, tak pernah lagi pria itu mendekatinya karena mengalah untuk Wildan.
"Tapi kamu mencintai kakakku, An!"
"Sudah enggak lagi dan mulai sekarang aku akan mencintai dan menyerahkan hidupku hanya untuk Om, Wilson, dan anak kita."
William menatap dalam ke mata Anita. Ia mencari kesungguhan dari tatapan gadis yang telah membuatnya jatuh cinta lagi.
Ada kesungguhan dan luka disana.
William meraih kedua tangan Anita lalu mengecupnya bergantian. "Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku. Dan aku akan menjadikanmu wanita satu-satunya dihidupku sebelum ada wanita baru lagi nantinya," ungkap William membuat Anita melotot.
"Sudah aku yang melamar, tapi Om malah berniat selingkuh!" geram Anita.
Anita tersenyum dan mengangguk mendengar penjelasan William.
Lift terbuka dan Anita menarik tangan William lagi dan langsung melaksanakan pernikahan di saksikan Edzard dan Ivy beserta para tamu yang memasang wajah bingung karena pengantin pria berbeda dengan nama yang tertera diundangan.
*
*
Calista mengepalkan tangan berjalan mendekati Wildan dan Selly yang baru saja selesai berciuman panas.
Calista menarik tangan Selly dengan kasar dan melayangkan dua kali tamparan di pipi wanita tersebut.
PLAK
PLAK
__ADS_1
"Wanita mura han," Calista teriak bersamaan air matanya menetes.
"Sayang," kata Wildan mencoba menyentuh Calista.
"Apa maksudnya ini, pa?" tanya Calista mengusap air matanya dengan kasar.
Wildan membantu Selly untuk bangun sedang Carlos sudah merangkul Calista.
"Papa bisa jelasin semuanya. Tadi yang kamu lihat gak seperti penilaian kamu."
Tangan Calista mengudara memberi isyarat untuk Wildan berhenti bicara. Calista masih merasa geram langsung menjambak rambut Selly.
"Calista. Apa yang kamu lakukan?" bentak Wildan tanpa sengaja mendorong Calista, beruntung Carlos sigap menangkap Calista jika tidak maka akan terjatuh.
"Aah.."
"Kurang ajar bajingan!" sentak Carlos yang sedari tadi hanya diam.
Saat Calista sudah bisa menyeimbangkan diri, Carlos mendekati Wildan dan memberi bogeman pada pria yang berstatus ayah mertuanya.
"Papa gak bermaksud mendorong kamu, nak. Papa khawatir pada Selly karena sedang hamil anak papa," ucap Wildan lirih seraya meringis menahan sakit karena akibat bogeman Carlos.
Calista semakin sakit mendengar perkataan Wildan. Ia memang kurang setuju jika Anita menjadi ibu sambungnya, tetapi bukan seperti ini.
"Aku menyesal telah bertemu dengan mu, Wildan Aletta. Mulai saat ini jangan lagi menemui ku karena orang tuaku hanya papi Ed dan mami Ivy."
Calista berjalan meninggalkan Wildan dan Selly dengan derai air mata. Ia tak menyangka papa nya tega mendorong dirinya.
Calista menoleh melihat Carlos sudah merangkul lengan nya kemudian masuk ke dalam lift.
Di dalam lift, Calista menangis dalam dekapan Carlos tanpa mengatakan apapun. Setelah lift terbuka, keduanya berjalan menuju ballroom dimana pernikahan Anita dan William dilaksanakan.
Mereka berniat menyampaikan acara pernikahan batal. Tetapi keduanya terkejut melihat Anita dan William baru saja melaksanakan pernikahan dan selesai memasangkan cincin di jemari mereka.
"Kok bisa?"
❤️
Hai..
__ADS_1
Maaf ya emak lama update disini karena sudah bab-bab menuju tamat.
Salam sayang dari emak❤️❤️