
Sudah satu Minggu baik Fadil maupun Dewi tak ingin mengakhiri perang dingin diantara keduanya. Fadil masih tak percaya atas sifat Dewi yang belum diketahui nya.
Begitu juga Dewi. Ia masih merasa dirinyalah lebih berhak atas apa yang dimiliki oleh Fadil. Menjadi istri sah secara agama dan hukum negara membuatnya tamak, ingin memiliki segalanya.
Apalagi Mario, hasil pernikahan Fadil dengan Nadia. Tentu saja tak berhak apalagi Mario menggunakan nama belakang Bimo, bukanlah nama belakang Fadil.
Sedang Fadil memikirkan bagaimana membuat Dewi berubah menjadi lebih baik. Bagaimanapun, ada anak diantara mereka.
Siang itu, Fadil mendatangi Kantor Carlos dengan tujuan ingin bertemu Bimo. Dan ia sudah membuat janji sebelumnya, sehingga tak harus menunggu lama.
Bimo sendiri tahu bila sang adik tiri ingin membicarakan hal penting sehingga ia meminta izin pada Carlos menunda pekerjaan hari ini.
"Ada apa?" tanya Bimo seraya menjatuhkan bokong di sofa ruang kerjanya tepat berhadapan dengan Fadil.
"Semuanya menjadi rumit, kak!" ungkap Fadil lesu.
Bimo menghela nafas. "Semua sudah terjadi. Jangan sesali, jadikan pelajaran buat kedepannya."
Fadil mengangguk lemah. "Aku mau titip surat-surat penting yang aku punya dan deposit untuk Mario. Aku takut Dewi mengubah semuanya," Fadil menyerahkan semua yang dibawa dan diterima oleh Bimo.
Bimo membuka semua surat-surat penting berupa surat tanah warisan yang diberikan Bimo, surat kepemilikan tanah dan bangunan dua rumah yang ditempati Fadil dan Dewi, serta anak-anak asuh, surat kepemilikan mobil dan dua sepeda motor, dan deposit yang lumayan tinggi menurut Bimo.
"Persiapkan juga untuk kelahiran anakmu," tutur Bimo mengingatkan Fadil.
Fadil mengangguk cepat. "Iya, aku sudah mempersiapkan biaya nya kak."
"Aku baru tahu kalau Dewi begitu. Dia sama sekali gak ingin aku memberi uang pada Mario," ungkap Fadil yang memang selalu menceritakan kegundahan hati pada Bimo.
Bimo menghela nafas. "Semua keputusan ada padamu, Fad. Yang paling utama, perbaiki hubunganmu dengan Mario."
Fadil mengangguk mengerti. "Aku pulang dulu, kak."
...----------------...
"Oh Calista. Betapa menyebalkan Om kamu," pekik Anita geram.
Hari ini Anita sengaja izin cuti kerja karena William sedang berada dirumah. Gadis itu seperti menjadi haters seorang bintang idola.
"Sabar," ucap Calista membuat Anita melengos.
Calista sendiri merasa geli setiap kali Anita mengadu padanya tentang William yang notabane nya adalah paman nya sendiri.
"Jangan terlalu membenci. Benci dan cinta itu bedanya tipis banget," tutur Calista karena ia sendiri pernah mengalaminya.
__ADS_1
Anita mencebik seraya mengetuk-ngetuk kening kemudian mengetuk lantai. "Amit-amit, Calt."
Calista terkekeh. "Tapi kalian pantas loh. Jadi sugar baby itu, enak." Ia mengerlingkan mata pada Anita.
Anita melengos lagi. "Kamu mah enak. Sugar Baby yang dinikahi."
Keduanya tertawa dan mengobrol kan apa saja di ruang nonton tersebut. Cemilan bahkan sudah habis beberapa toples karena saking asyiknya bersenda gurau.
...----------------...
Carlos berdehem sebelum memasuki salah satu Restoran di Jakarta. Meminta pelayan mengantarkan ke ruang pribadi yang telah di reservasi sebelumnya.
Dengan wajah datar Carlos melangkahkan kaki ke arah yang ditunjukkan pelayan. "Jangan pernah mencoba berjalan beriringan dengan saya," tutur Carlos dingin pada sekretaris baru yang menggantikan Dewi, bernama Selly.
Bagi Carlos, tidak ada wanita yang boleh berjalan beriringan di sampingnya. Hanya Calista lah yang boleh.
Dan Carlos merutuki Bimo karena telah memilih Selly sebagai sekretaris nya. Tampilan yang selalu mengganggu iman mata pria.
Bukan tergoda, tetapi Carlos risih dengan tampilan seksi Selly setiap harinya.
Carlos duduk di ruangan itu berhadapan langsung dengan Edzard dan Wildan. Siang ini, mereka hendak membicarakan proyek pembangunan bangunan apartemen yang hendak dibeli Edzard dan di renovasi.
Bangunan apartemen tersebut dibeli dari Carlos dan akan di renovasi oleh pihak kontraktor yang akan ditangani perusahaan Wildan, lebih tepatnya
Sedang Selly tampak malu-malu.
Dan Wildan menatap penuh selidik pada Carlos.
"Dia hanya bawahan saya, Pak." Carlos berlaku profesional saat ini.
Edzard berdehem. "Saya ingin bangunan Apartemen yang lalu kita bahas, dan saya juga ingin merenovasi menjadi gaya modern dan aku ingin menggunakan komponen kayu yang lebih dominan."
Carlos dan Wildan mendengar dengan seksama sembari mengangguk-angguk kan kepala sebagai tanda bahwa mereka mendengarkan dengan serius.
"Cocok untuk hunian anak muda," tutur Carlos.
Edzard mengangguk setuju. "Iya, Kawasan bangunan apartemen ini sangat benar-benar sangat cocok. Saya ingin membuat desain yang modern namun tetap simpel ini menampilkan Kota Jakarta sebagai view utamanya."
Carlos dan Wilda paham dengan apa yang diminta Edzard. Selesai rapat, mereka berempat makan siang bersama.
Tidak ada yang aneh disana. Hanya saja, Wildan terus memerhatikan gelagat Selly yang terus curi-curi pandang pada Carlos.
Seusai makan siang bersama. Ketiga pria itu kembali terlibat obrolan dengan Wildan yang terus memerhatikan Selly.
__ADS_1
Seringai diwajah tampan Wildan kemudian merogoh sesuatu di balik celana bahan denim nya kemudian menaruh di atas meja dengan kasar.
Baik Carlos, Edzard, dan Selly terkejut sebuah benda berbahaya yang di keluarkan Wildan.
"Ada apa?" tanya Edzard.
Wildan menunjuk Selly dengan dagu nya. "Kamu tahu ini? Selangkah saja kamu berani bertindak menggoda Carlos, maka bersiaplah peluru di dalam nya menembus kepalamu."
"Ah.. Kamu mau bernasib sama seperti Brigadir yang sedang viral itu?" tanya Wildan membuat Carlos bertanya-tanya.
Carlos mencebik setelah menyadari apa yang dimaksud Wildan. "Kamu membuat bawahanku takut, Papa mertua. Aku gak akan tergoda oleh siapapun," kata Carlos tegas.
Bagaimana bisa ia tergoda wanita lain bila sang istri selalu menggoda nya?
Kedua mertua nya saja tidak tahu bila Calista selalu mengirim foto dengan pose menantang setiap hari nya.
...----------------...
Anita melangkah dengan malas memasuki rumah William. Baginya, pria tua itu bukan hanya memiliki dua karekter. Melainkan banyak karakter.
"Kemana saja kamu? kenapa terlambat dua jam?" cerocos William setiba Anita sudah berada di dalam rumah mewah itu.
"Maaf, Om. Tadi aku temani Calista belanja," sahut Anita lirih tetapi itu benar adanya.
"Hem," dehem William membiarkan Anita masuk ke dalam kamar.
William melengos mendapati perasaan aneh yang menjalar hatinya ketika berhadapan dengan Anita.
Sifat keibuan dan perhatian Anita terhadap Wilson membuat hatinya tergelitik. Selama ini, semenjak istrinya yaitu ibu Wilson meninggal, tak pernah ada yang dapat bertahan lama mengasuh ataupun ingin dekat dengan Wilson termasuk para wanita yang pernah ia bawa ke rumah.
Sebagai pria matang dan pernah merasakan jatuh cinta tentu saja William tahu perasaan apa yang tumbuh di hati buat Anita.
Tetapi ia terus saja menampik perasaan itu. *Aku bukan pedofil.
❤️
Assalamualaikum, gimana? sudah bahagia kan?
Yok klik favorit/❤️ ya..
terus kasih hadiah utk aku,
Like dan komen juga ya*
__ADS_1