Aku Bukan Rahim Pengganti

Aku Bukan Rahim Pengganti
72. Aku Bukan Rahim Pengganti


__ADS_3

Hujan turun sangat deras sore ini. Terpaan angin membawa percikan hujan membasahi wajah Fadil. Senyum terbit bersamaan mata terpejam menikmatinya.


Sekelebat bayang wajah Nadia yang tengah tersenyum bahagia membawa banyak paperbag turun dari mobil menghampirinya.


FLASHBACK ON


"Aku bawa banyak baju untuk anak-anak dan juga kamu," kata Nadia ketika sudah masuk ke dalam rumah sederhana nya.


Fadil tak langsung menjawab, ia memilih menghidupkan AC karena tidak ingin Nadia kepanasan berada di dalam rumahnya ketika berkunjung.


"Jangan repot-repot, Nad."


Nadia yang sedang mengeluarkan semua baju belanjaan nya menoleh ke arah Fadil dan cemberut tak suka atas apa yang dikatakannya.


"Aku suka berbelanja, Fadil. Dahulu saja saat kita bersama begitu kan? bedanya sekarang aku beli yang harga nya lebih mahal. Itu saja yang membedakan."


"Aku hanya gak mau Tuan Carlos curiga kalau kamu terlalu boros," kata Fadil yang sesungguhnya memendam sakit hati dan kecemburuan.


Nadia terkekeh lalu menghampiri dan mengecup pipi kanan Fadil. "Aku belanja ini semua menggunakan tabungan pribadiku. Sudah jangan pikirkan itu lagi. Aku lapar, Fad. Aku kangen masakan mu," rengek Nadia membuat Fadil tersenyum seraya memeluk pinggangnya.


"Kamu mau aku masakin apa?" tanya Fadil.


"Sayurnya hasil kebun saja dan aku ingin ikan nila asam pedas buatan kamu," tutur Nadia merangkul lengan Fadil, berjalan bersama menuju dapur.


Fadil tersenyum sambil mengecup pucuk kepala Nadia. Di dapur, Fadil mulai memasak apa yang diinginkan Nadia.


Memang sedari dahulu, Fadil lebih suka memasakkan Nadia. Tidak ada keterpaksaan disana karena Fadil melarang Nadia buat memasak.


"Aku juga ingin membantumu, Fad. Aku terkadang memasakkan Carlos di rumah," rajuk Nadia tetapi Fadil hanya tersenyum.


"Nanti ada saatnya aku ingin dimasakin sama kamu," seru Fadil.


Beberapa saat kemudian, masakan Fadil telah matang dan sudah tersaji di atas meja. "Mau makan sekarang atau malam nanti?" tanya Fadil lembut.


"Sekarang. Aku sudah sangat lapar," kata Nadia.


Nadia bangkit mengambil piring dan mkanan untuk Fadil barulah piring untuknya.


"Aku kangen kita yang dulu, kapan kamu pulang?" kata Fadil.


Nadia tampak menghela nafas. "Karena kamu gak mau ambil warisan itu, tunggu tabungan aku cukup, ya. Aku juga saat ini sedang merintis usaha perhiasan. Aku ingin saat Mario sudah tamat SMA, dia melanjutkan pendidikan di Universitas yang bagus di luar Negeri."


Fadil berhenti mengunyah dan menatap Nadia yang sedang asyik makan dengan lahap. "Maaf. Karena aku gak bisa penuhi kebutuhanmu jadi begini," kata Fadil.


Nadia tersenyum. "Aku yang seharusnya minta maaf. Tapi tenang saja, aku ingat semua yang kamu larang. Aku hanya ikut arisan perhiasan saja dan teman-teman sosialita aku beli perhiasan nya dari toko ku."


Fadil menggeleng. "Dari dulu kamu memang pandai mengambil peluang," pujinya membuat Nadia tertawa.

__ADS_1


"Aku mau nambah," Nadia menyodorkan piring nya yang sudah kosong.


"Gak takut gemuk?" tanya Fadil sambil memberi nasi dan ikan nila asam pedas di piring Nadia.


"Jangan katakan itu, Fad. Setiap aku pulang kesini pasti berat badan aku nambah," gerutu Nadia namun tetap makan lagi.


"Aku suka lihat kamu lebih berisi, Nad."


"Bilang saja aku gendut," gumam Nadia karena mulutnya masih penuh oleh makanan.


Fadil mengangkat tangan memberi isyarat tak ingin mengatakan itu tetapi ia juga tertawa.


"Menyebalkan. Aku gak jadi nginap kalau gitu," kata Nadia membuat tawa Fadil berhenti.


"Kamu mau menginap?" tanya Fadil terdapat binar bahagia dimatanya.


"Gak jadi," sahut Nadia seraya meminum segelas air.


Fadil bangkit langsung menangkup wajah Nadia. Ia membungkuk kan tubuhnya lalu mengecup seluruh wajah Nadia dan terakhir mencium dan memperdalam ciuman nya sekilas.


"Fadil. Aku masih makan."


Fadil tersenyum. "Oke baiklah, kamu teruskan makan nya. Setelah makan, biarkan piring kotor itu disini. Aku rapikan kamar kita dulu, setelah itu cuci piring."


Nadia terkekeh melihat tingkah Fadil. "Aku saja yang cuci piring," katanya.


Fadil menggeleng. "Nanti kuku kamu rusak. Kamu harus tetap tampil cantik."


"Baiklah."


Fadil benar-benar memperlakukan Nadia dengan lembut malam itu. Tidak ada barang sejengkal terlewat dari permukaan kulit Nadia yang lebih terawat.


Untuk sesaat Fadil melupakan rasa cemburunya bila tubuh wanita yang sangat dicintai dijamah pria lain.


Ia juga tahu, bila Nadia sangat kesepian disana karena Carlos hampir setiap hari pulang malam.


"Kamu berbeda malam ini," kata Nadia yang tidur tak berdaya di lengan Fadil setelah melakukan pergumulan sangat panas.


"Aku sangat merindukanmu. Akhirnya setelah sekian lama, ratu di rumah ku pulang."


"Aku hanya dua hari, Fad."


"Tak apa. Itu sudah lebih baik. Apa dia keluar kota lagi?" tanya Carlos dan diangguki oleh Nadia.


"Besok kita jemput Mario, ya. Pasti dia senang dijemput ayah dan ibu nya," kata Nadia sangat antusias. Sebagai seorang ibu, pasti sangat menanti waktu seperti ini.


Fadil mengangguk. "Aku juga ingin mengatakan itu padamu," ungkap Fadil membuat keduanya tertawa.

__ADS_1


"Aku kangen dan aku semakin mencintaimu, Nad," Fadil memeluk Nadia sangat erat.


"Gombal. Aku juga dan maafin aku harus begini. Aku janji, aku pasti pulang dan ku harap saat waktu itu tiba kamu gak pergi ninggalin aku!" kata Nadia kemudian terlelap.


Fadil melirik ke arah Nadia lalu mengecup keningnya. "Aku gak mungkin lakukan itu, Nad."


Flashback off


"Maaf," kata Fadil menatap kearah luar jendela yang masih hujan sangat deras.


Suaranya terdengar lirih dan bergetar. Sangat jelas bila Fadil begitu menyesali kelakuan nya.


"Maafin aku yang terbuai dengan yang baru, hingga melupakan kalian," diusap air mata yang menetes.


Setelah puas melihat hujan turun, Fadil menutup jendela kemudian membuka lemari mengambil satu set seprai berwarna ungu kesukaan Nadia yang selama ini selalu disimpan rapi olehnya.


Ia pun melepas seprei yang terpasang dan mengganti dengan seprei berwarna ungu tersebut. Seprei ungu dengan motif bunga tulip lah yang dipilihnya. Setelah selesai, Fadil rebahan di ranjang.


"Aku benar-benar merindukanmu, Nad. Rindu semua tentangmu. Baik itu hal yang membuatku merasa senang ataupun cemburu dan marah."


"Kamu mungkin saja jahat di mata mereka, tetapi kamu sangat baik dari sisi kehidupanku."


"Kesalahan kita adalah, aku yang membiarkanmu mendua dan kamu yang sanggup melayani kami berdua."


"Tapi jika mereka tahu kamu melakukan semua itu karena kebodohanku, pasti gak ada yang menilaimu buruk. Justru akulah suami yang tak bertanggung jawab."


"Nad. Tabunganmu dan tabunganku sudah cukup untuk kuliah kan Mario ke Luar negeri. Tapi Mario kita sedang marah padaku."


Setelah puas mengenang dan berbicara pada angan, Fadil tidur dengan memeluk guling berandai benda itu adalah Nadia.


❤️


Hai semua, selamat malam.


Ah aku mau bilang, khusus untuk yang komen kalau aku udah kehabisan ide jadi buat Nadia biar tetap wah.


Jadi gini ya kak, PERNAH ENGGAK MELIHAT SISI BAIK DARI ORANG LAIN YANG TERNILAI DIMATA ORANG ITU BURUK?


KALAU BELUM PERNAH, COBA DEH NILAI SESEORANG ITU.


ATAU PERNAH TAHU GAK? ADA ORANG YANG JAHAT ITU ADALAH ORANG BAIK YANG TAK DIHARGAI?


DI CERITA INI JUGA AKU UDAH SERTAKAN SEBAB DAN AKIBAT YANG DILALUI SETIAP TOKOH.


KENAPA NADIA MENDUA, KENAPA FADIL MENDUA, KENAPA MARIO KECEWA.


AKU BANYAKIN JUGA CERITA FADIL, NAFIA, DEWI, DAN MARIO KARENA AKAN ADA LANJUTAN NOVEL UNTUK MARIO SELANJUTNYA.

__ADS_1


MAKASIH YA


SALAM SEHAT DAN BAHAGIA UNTUK KITA.


__ADS_2