
"Ku mohon, bertahanlah Nadia!" gumam Fadil seraya menggenggam tangan Nadia yang tengah terkulai lemas diatas brankar tak sadarkan diri.
Dua jam lalu, Fadil di telepon pelayan rumah Nadia bila ibu dari anaknya tersebut jatuh dari kamar mandi.
Fadil begitu khawatir langsung menuju ke kediaman Nadia dan membawanya ke Rumah Sakit terdekat.
Nadia mengalami keguguran dan tak sadarkan diri. Fadil merasa sangat bersalah. Bagaimana pun perasaannya pada Nadia telah hilang, tetapi tidak bisa menghilangkan hubungan yang pernah mereka jalani.
Walau Nadia begitu kejam padanya, tetapi Fadil masih sadar bila dirinya yang bertahan dan rela di duakan.
Mario yang baru saja tiba hanya diam membisu menatap wajah pucat Nadia. "Ayah," panggilnya.
Fadil menoleh, melihat anak nya masih diam mematung. Tetapi, dapat dilihat bila anaknya sedang tak baik-baik saja. Fadil pun melambai tangan memberi isyarat aga Mario mendekat.
Mario mendekat dan duduk di sisi Nadia. "Ibu," ucapnya lirih.
Tiba-tiba parameter dilayar monitor EKG atau Elektrokardiogram berubah menjadi garis horizontal dan suara yang tercipta menjadi dengungan.
Saat itu pula Fadil dan Mario panik dan histeris. "Dokter!!"
"Dokter!!"
Seorang Dokter pun masuk dan mempersilahkan Fadil dan Mario menunggu diluar. Kemudian Dokter memeriksa Nadia.
Sedang diluar, Mario menjadi gusar begitu juga Fadil. Dewi tidak dapat ikut karena Fadil melarang sang istri untuk perjalanan jauh.
"Ayah," ucap Mario lirih membuat Fadil mendekati dan memeluk anak nya yang sudah beranjak dewasa itu.
Diusap punggung Mario mencoba menenangkan. "Tenanglah, Ibu mu pasti baik-baik saja."
Mario mengangguk dibahu Fadil. Tak lama kemudian Dokter keluar dari ruang rawat Nadia. Fadil dapat menebak dari raut wajah sang dokter seperti membawa kabar duka.
"Maaf, Pak. Kami tidak dapat menolong Ibu Nadia. Kami turut berduka cita, permisi."
Fadia dan Mario mematung mendengar kalimat yang tak ingin di dengar bagi siapapun jika ada orang terkasih dirawat di Rumah Sakit.
Sekuat tenaga Fadil mengontrol diri agar terlihat baik-baik saja. Fadil pun menyuruh Mario tetap berada disana dan ia mengurus jenazah Nadia kemudian mengabari Bimo dan yang lain kecuali Dewi.
Fadil ingin menyampaikan secara langsung pada Dewi agar tidak syok mendengar kabar duka. Mau bagaimanapun, selama ini hubungan Dewi dan Nadia mulai membaik. Hanya saja, Dewi selalu meminta Fadil harus bersamanya jika mengunjungi Nadia.
...----------------...
Jenazah Nadia sudah dibawa pulang ke kediamannya yang sekarang. Di dalam mobil ambulance ada Fadil dan Mario yang sedari tadi hanya diam.
__ADS_1
Begitu mereka turun dari mobil ambulance, Bimo dan yang lain telah lebih dahulu sampai disana. Hanya Carlos, Calista, dan Dewi belum ada disana.
Papi Edzard dan Mami Ivy beserta si kembal Malvyn dan Malya juga turut hadir. Para tetangga sudah turut hadir mengucapkan belasungkawa pada Fadil dan Mario.
"Kak. Bisa aku tinggal sebentar? aku harus menjemput Dewi," kata Fadil mulai gusar memikirkan sang istri sendirian di rumah.
Bimo yang dapat melihat kegusaran Fadil langsung mengangguk, memberikan kunci mobil, dan membiarkan pergi begitu saja.
Fadil menaiki mobil Bimo, langsung melaju menuju rumahnya. Sepanjang perjalanan, Fadil memikirkan ucapan apa agar Dewi tidak merasa sedih.
Satu jam kemudian, mobil yang dikendarai Fadil baru saja berhenti di depan rumahnya. Begitu turun, ia sudah disuguhkan sambutan hangat dari Dewi.
Kakinya melangkah mendekati Dewi lalu direngkuh tubuh istrinya tersebut. Cukup lama Fadil dalam posisi itu membuat Dewi merasa heran.
"Ada apa, mas?"
Di urai pelukan dan Fadil menggeleng. Di Tuntun sang istri untuk masuk ke dalam rumah dan duduk bersebelahan.
Digenggam tangan Dewi dan di cium cukup lama. Hingga tubuh Fadil bergetar dengan masih mencium punggung tangan Dewi.
Dewi terperanjat. "Mas kenapa?" tanya Dewi panik.
Fadil menegakkan tubuhnya. Dengan sigap Dewi menghapus air mata suaminya tersebut. Di genggam tangan Dewi kembali. "Jangan tinggalin aku seperti Nadia," ucap Fadil lirih membuat Dewi mematung.
...----------------...
Calista menatap layar ponsel nya yang berdering. Senyuman terbit kala melihat nama sang suami tertera disana.
"Sayang," panggil Carlos.
"Ya."
"Sudah pulang kuliah?'
Calista mengangguk walau Carlos tidak tahu. "Kenapa, Om?"
"Jangan memanggilku Om, sayang."
Calista terkekeh. Akhir-akhir ini Carlos begitu sensitif bila dirinya memanggil Om. Bahkan belakangan ini suami Calista itu bergaya seperti anak muda lagi.
"Baiklah, suamiku. Ada apa?" tanya Calista.
"Nah. Begitu lebih baik. Aku akan menjemputmu sekarang. Agus suruh pulang saja."
__ADS_1
Dahi Calista berkerut. "Kenapa begitu? apa Papi mau ketemu aku? kan aku bisa samperin ke Kantor."
"Bukan, sayang. Kita akan ke suatu tempat."
"Baiklah."
Calista pun akhirnya ke Parkiran dimana Agus sang sopir pribadi berada. Ia melakukan apa yang dikatakan Carlos tadi, barulah berjalan menuju halte terdekat dari Kampusnya.
Calista memasang airphone, mendengarkan lagu dengan mata terpejam di halte tersebut. Meta datang langsung melepas airphone Calista.
Calista mendongak menatap Meta yang juga sedang menatapnya dengan tatapan remeh. "Ada apa, Met?" tanya Calista.
Sebenarnya, Calista sudah jengah melihat tingkah Meta yang keterlaluan. Teman seangkatannya tersebut selalu mencari masalah padanya namun ia tak menggubris.
Hanya karena tak ingin menambah masalah dan membuatnya setres yang bisa berakibat pada kandungan nya.
Meta tersenyum miring. "Hai sugar baby. Ah, bukan lagi. Tapi, cewek murahan!" ucap Meta langsung tertawa sumbang.
Calista melirik sekitar yang masih di penuhi mahasiswa-mahasiswi lain melihat kearah mereka berdua.
Matanya memicing melihat mobil mewah yang sangat dikenalinya mendekat ke arah dimana ia berada.
"Kenapa kamu diam? kamu takut?" ejek Meta mencemooh.
Calista menghela nafas kemudian memilih bangkit ingin menjauh dari Meta. Tetapi justru itu membuat Meta tidak suka.
"Hei!!" di tarik jaket yang di pakai Calista dengan kasar.
Hal itu membuat Calista memekik. Beruntung tangan nya cepat berpegangan tiang halte semula.
...----------------...
Carlos memicing melihat kegaduhan di halte yang tak jauh dari jarak mobilnya. Jaket yang dikenakan gadis berambut pirang putih itu seperti dirinya.
Rahangnya mengeras ketika menyadari itu adalah istrinya. Carlos pun menambah kecepatan laju nya sampai dengan sengaja menabrakkan dua tong sampah tepat berada di sisi kanan halte.
Semua mata memandang ke arah mobilnya. Carlos membuka pintu dan menutupnya dengan keras.
Langkah lebarnya langsung menghampiri Calista dan merengkuh tubuh sang istri. Tetapi andai Calista tahu, matanya menatap dengan tajam ke arah Meta.
Calista sendiri tahu jika Carlos melihat saat dirinya di dorong tadi hingga berbuat seperti ini. "Aku gak kenapa-kenapa, Om. Jangan khawatir," kata Calista menenangkan.
"Gimana aku gak khawatir, sayang? aku melihat langsung kamu di dorong tadi. Kalau tadi kamu enggak pegangan tiang bagaimana? apa bisa menjamin atas keselamatan anak kita?" cerca Carlos, yang tak bisa menunjukkan amarah pada Calista.
__ADS_1
"Tapi..,"
"Enggak ada tapi-tapian. Aku akan menuntut dia."