Aku Bukan Rahim Pengganti

Aku Bukan Rahim Pengganti
87. Aku Bukan Rahim Pengganti


__ADS_3

Ini adalah hari kedua Dewi belum juga sadarkan diri. Fadil semakin khawatir dan takut kehilangan Dewi.


Karena selama dua bulan ini hubungan mereka semakin baik bahkan Fadil dan Dewi sudah dapat menerima masalalu dan menyatakan cinta mereka.


Fadil juga sudah mengabari Mario dan anak nya itu bisa mengunjungi hari ini.


*


*


Mario menenteng dua paperbag di kedua tangan yang berisi pakaian dan makanan untuk sang ayah.


Mario sekarang bukanlah Mario yang dulu. Ia menjadi semakin tertutup sama seperti Malvyn.


Hanya beberapa orang saja yang dekat dengan nya. Apalagi hatinya sudah membeku, seperti sekarang ini.


Ia hanya sedikit perduli dengan keadaan Fadil tetapi tidak dengan Dewi. Rasanya, memiliki keluarga pun percuma jika ia telah memiliki uang.


Ia tahu ini salah, bahkan Malvyn sudah sering menasihatinya. Tetapi, kekecewaan atas keadaan membuatnya tuli akan nasihat.


Baginya, kerja dan menghasilkan uang yang banyak adalah tujuan hidup. Masalah percintaan hanya omong kosong karena wanita bisa dibeli oleh uang.

__ADS_1


"Ini baju dan makanan buat ayah. Jangan jadi pria lemah. Aku pergi dulu," ucap Mario dingin merasa tak senang melihat penampilang Fadil sangat berantakan.


Fadil tertegun atas ucapan dari Mario, anaknya sendiri. Ia pun semakin meyakini bila ini adalah karma untuknya.


Fadil tak ingin mengejar, ia lebih memilih makan lebih dahulu karena lupa entah sejak kapan ia tak makan karena begitu khawatir atas keadaan Dewi.


Beberapa saat kemudian, Fadil selesai makan dan mandi di kamar mandi umum Rumah Sakit.


Ia langsung bersiap mengenakan seragam rumah sakit khusus menjenguk pasien. Dengan memakai peralatan medis, Fadil masuk ke ruangan dimana Dewi berbaring lemah.


"Dewi. Ini mas," bisik Fadil tepat di telinga Dewi.


Fadil duduk di samping brankar sang istri. Di genggam tangan Dewi yang bebas infus dan di kecup berulang kali.


Fadil tersentak ketika merasakan gerakan jemari Dewi. Ia segera bangkit lalu menekan tombol khusus buat memanggil Dokter.


Seorang dokter dan juga perawat masuk ke dalam dan meminta Fadil agar keluar karena hendak memeriksa Dewi.


Fadil meremas jemari, mondar-mandir di depan pintu merasa cemas yang tak terkira.


Pintu terbuka membuat Fadil dengan cekatan mendekati sang dokter yang baru saja keluar.

__ADS_1


"Ibu Dewi sudah melewati masa kritis dan segera di pindahkan ke ruang perawatan," kata dokter menjelaskan.


Fadil merasa lega dengan kabar yang diberikan sang Dokter. Ia pun mengikuti brankar yang membawa Dewi menuju ruang perawatan.


Di dalam ruang perawatan, Dewi baru saja sadar dan semakin membuat Fadil merasa senang.


"Mas," panggil Dewi terbata-bata dan meneteskan air mata.


Fadil berdiri mendekati Dewi. "Ya sayang. Jangan menangis," katanya seraya mengusap air mata sang istri.


"A-nak kita," kata Dewi dengan tangis yang tertahan karena perut bagian bawah terasa perih.


Fadil mengecup kening Dewi lama. Hatinya juga merasa sakit atas kehilangan calon anak merekam Tetapi baginya, keselamatan Dewi lebih penting.


"Gak apa sayang Mereka sudah gak merasakan sakit. Sekarang, fokuslah pada kesehatanmu."


"Anakku, mas."


Fadil memeluk Dewi karena merasa tangisan sang istri semakin pecah. Segera ia pencet kembali tombol khusus memanggil dokter.


Tak berapa lama, Dokter kembali masuk dan menyuntikkan cairan yang membuat Dewi kembali tenang.

__ADS_1


__ADS_2