Aku Bukan Rahim Pengganti

Aku Bukan Rahim Pengganti
Extra part 1


__ADS_3

"Apa kamu lelah?" tanya William khawatir melihat Anita yang lesu.


Setelah dari Rumah Sakit, Anita harus memasak makan malam buat mereka, terkhusus untuk Wilson karena pemuda kecil itu rindu masakannya.


"Gak terlalu," sahut Anita lirih.


Anita merasa gugup setelah ditanya seperti itu oleh William. Bagaimanapun tahu bila malam ini adalah malam pengantin mereka.


"Aku mau mandi dulu," kata Anita gugup.


William beranjak semakin membuat Anita gugup. "Om mau ngapain?"


"Om mau sediain air hangat untukmu."


Mata Anita terbelalak langsung berdiri dan menyusul William ke kamar mandi. Ia tidak ingin di layani seperti itu. Masih ada rasa segan di hatinya.


"Aku bisa sendiri, Om."


"Aaahhh..."


"Anitaaa ."


*


*


Anita keluar kamar mandi dengan malu-malu karena terus teringat dengan apa yang terjadi beberapa saat lalu.


Yang mana saat William hendak keluar kamar mandi justru tersandung kakinya sendiri dan membuat tubuhnya menabrak Anita.

__ADS_1


Keduanya terjatuh dengan William berada diatas tubuh Anita. Lebih parahnya lagi, bibir William tepat beradu pada bibir Anita.


Anita menggeleng saat pikiran nya melayang pada saat bibir William yang lembab tepat beradu pada bibirnya.


Ini memalukan.


Anita langsung naik ke atas tempat tidur dan kedua kakinya menuyusup masuk dala selimut.


Sementara William langsung menoleh ke belakang mendengar pergerakan Anita naik ke atas ranjang.


Kepala William menggeleng karena masih merasa malu akibat kejadian tadi.


William mematikan api rokok yang dikapit kedua jemarinya, kemudian masuk ke dalam kamar. Tak lupa ia tutup pintu balkon lebih dahulu.


"Balik badan, An. Aku tahu kamu belum tidur," tutur William setelah sudah duduk di tempat tidur dengan sisi berbeda.


Anita memejamkan mata setelah mendengar penuturan William. Selain masih malu atas kejadian tadi, ia merasa gugup di depan pria matang yang sudah menjadi suaminya itu.


"Balik badan sendiri atau aku yang harus membalikkan badan kamu?" ancam William langsung membuat Anita membalikkan badan. Dan itu membuatnya sekuat tenaga agar tidak tersenyum melihat tingkah istri kecilnya.


Anita bukan hanya berbalik badan, ia juga sudah duduk di hadapan William. Keduanya duduk di atas tempat tidur.


"An. Aku mau ngomong serius," kata William membuat Anita memberanikan diri menatap pria itu.


"Aku bukan lagi pria muda yang harus menunggumu agar menerimaku sebagai suami. Aku ingin ini adalah pernikahan terakhirku penuh cinta dan keharmonisan."


Anita menelan saliva mendengar itu.


"Termasuk kebutuhan biologis. Jujur saja, sebelum menikah dengan mu tadi, aku masih melakukan hubungan badan dengan wanita bayaran walau hatiku diam-diam jatuh cinta padamu."

__ADS_1


Anita melotot mendengar itu. "Om."


"Jadi jangan larang jika aku menginginkanmu sekarang juga," kata William pelan tapi masih terdengar oleh Anita.


"Tunggu dulu, Om."


William menggeleng. "Jangan tolak aku, An."


William tak memberi kesempatan Anita untuk bicara lagi karena pria itu sudah membungkam mulut Anita dengan bibirnya.


"Kamu tahu, aku akan melakukan ini setiap hari setiap bangun tidur, siang hari, dan sebelum tidur."


"Sudah seperti minum obat saja, aahh."


*


*


"Cobalah bicara pelan-pelan setelah Calista merasa lebih baik. Untuk saat ini jangan dulu karena aku takut istriku menangis sementara luka operasinya masih basah," ucap Carlos pada wildan setelah menceritakan kejadian yang sebenarnya.


"Dan makasih sudah menyelamatkan pernikahan kami, Wil."


Wildan tersenyum mendengar ucapan terimakasih dari Carlos. Segera ia mengangguk kan kepala. "Sudah tugasku menyelamatkan kebahagiaan putriku, Carl. Mungkin dengan begini aku bisa melupakan rasa bersalahku kepada Anabella."


Carlos hanya mengangguk memahami.


*


*

__ADS_1



__ADS_2