Aku Bukan Rahim Pengganti

Aku Bukan Rahim Pengganti
45. Aku Bukan Rahim Pengganti


__ADS_3

Calista menenangkan Dewi yang sedari tadi menangis. Malam yang seharusnya adalah malam yang bersejarah untuknya memadu kasih bersama Fadil kini berubah menjadi malam yang begitu menyakitkan dengan kenyataan bahwa Fadil masih menjadi suami dari istri Pimpinan dimana ia bekerja.


Astaga, hubungan yang rumit.


"A-aku gak tahu kalau wanita itu masih istri, mas Fadil!" ucap Dewi sesegukan.


Calista mengusap-usap lengan Dewi yang masih saja menangis. "Tante yang tenang," ucapnya berusaha menghibur Dewi.


"Tapi dia hamil," tangisan itu kembali terdengar pilu.


"Tapi Tante dengar sendiri kalau Om Fadil sudah menceraikan dia kan? sekarang Tante harus belajar menganggap anak itu juga."


Ya. Saat Nadia mengamuk, Fadil dengan lantang menceraikan Nadia. Mario juga sempat kecewa melihat aksi ibu kandung nya.


Pemuda itu masih sangat kecewa pada Nadia karena perlakuan buruk padanya. Teringat saat Mario sangat merindukan Nadia, ia mendatangi rumah Carlos bermaksud menemui ibu kandung nya dan meminta izin pada Carlos agar ibunya tak bekerja beberapa hari.


Tetapi, Nadia menolak kedatangan Mario dan mengusirnya. Mario yang tahu hanyalah Nadia bekerja dengan Carlos hanya bisa diam. Tetapi, setelah Malvyn mengatakan yang sebenarnya tentang siapa Nadia di kehidupan Carlos dan Calista adalah istri kedua Carlos yang sedang mengandung begitu kecewa melihat Nadia.


...----------------...


Fadil meraup wajahnya gusar. Tak menyangka bila Nadia hamil dan justru kembali padanya.


Carlos datang membawa sebotol minuman dan dua gelas. "Mau minum?" tanyanya duduk di hadapan Fadil.


Fadil menegakkan badan lalu mengangguk dan menerima gelas yang sudah dituang minuman.


"Sudah sangat lama aku gak minum beginian," gumam Fadil mengangkat gelas dan memandangi gelas kecil yang masih berisi sedikit minuman keras itu lalu menggoyang perlahan.


Carlos meneguk segelas minuman keras tersebut.


"Jangan ikut minum, Tuan. Istri anda sedang hamil, gak baik."


"Benarkah? aku gak pernah tahu," Carlos langsung menghentikan minum nya. Selama memperistri Calista, belum pernah menyentuh minuman keras itu lagi karena ketika berdebat dengan Nadia pasti Carlos segera mendatangi Calista karena istri kecilnya itu adalah obat dari segala obat.


"Dimana kak Bimo?"


"Dia sedang mengurus istrimu," sahut Carlos.


"Istri Tuan juga," imbuh Fadil kemudian keduanya tertawa.


"Pria bodoh."


"Begitu juga Tuan."


...----------------...


"Lepasin aku, Bim."


"Pergilah menjauh, Nadia."

__ADS_1


"Enggak. Aku gak akan biarin kalian hidup senang sementara aku terlantar disini," sentak Nadia.


Tetapi Bimo tak perduli. Ia meninggalkan Nadia sendiri di rumah yang sudah dipersiapkan Carlos untuk tempat tinggal wanita itu sebagai harta gono-gini.


Nadia sendiri berteriak memakai nama siapa saja yang telah membuatnya seperti ini. Barang-barang di rumah itu menjadi pelampiasan amarahnya.


...----------------...


Carlos, Calista, dan Bimo telah kembali ke kediaman masing-masing. Calista yang kelelahan tak sanggup lagi untuk berjalan hingga Carlos membopong nya.


"Kita ke kamar utama?"


Calista menggeleng lemah. "Ke kamar ku saja. Besok aku akan mengganti semua barang-barang disana. Aku gak mau ada jejak-jejak percintaan kalian disana yang akan mengingatkan Om dengan Tante Nadia," gumam Calista dengan wajah tertutup dan tangan masih melingkar dileher Carlos.


"Baiklah. Sekarang kita tidur. Besok waktunya periksa kandungan. Tapi tidurnya sebentar setelah aku buatkan susu dulu," ucap Carlos merebahkan Calista kemudian membukakan sepatu istrinya lalu membuatkan susu hamil.


Carlos membawa segelas susu hamil ke kamar lalu menyuruh Calista meminumnya dan kembali membantu istrinya baring, memperbaiki selimut barulah mengecup kening dan bibir Calista yang sudah menjadi kebiasaan nya.


...****...


"Dewi," ucap Fadil yang sudah setengah mabuk masuk ke dalam kamar mencari wanita yang sudah menjadi istri sah nya.


Dewi melihat Fadil masuk kamar sempoyongan langsung menghampiri karena panik.


"Mas. Kenapa mabuk?" tanya Dewi menuntun Fadil duduk di tepi ranjang, membantu membuka sepatu suaminya.


"Ah. Maaf, aku hanya minum sedikit."


Dewi menghela nafas panjang. "Tentu saja aku marah."


"Apa kamu akan pergi meninggalkan ku juga karena miskin? apalagi kamu kerja Kantoran, banyak pria kaya disana."


Fadil tertunduk. "Dulu Dewi juga seperti itu. Saat mendapat kerja dengan jabatan tinggi dan tertarik dengan Tuan Carlos. Dia pergi meninggalkan aku dan Mario. Karena cinta ku yang buta mengijinkan dia menikah lagi."


Dewi memiliki hati yang lembut tentu saja tersentuh dan merasa iba. Diusah punggung Fadil. " Aku gak mungkin begitu, mas. Mau ditaruh mana muka ku bila berhadapan ayah dan ibu? Aku ini orang susah, mas. ayah dan ibu angkatku di kampung juga seorang petani dan buruh cuci. Aku di sekolah kan tinggi-tinggi dengan biaya pinjam disana sini mana mungkin aku berani membuat malu mereka."


"Menurutku, pernikahan itu sekali seumur hidup. Makanya di usia tiga puluh tahun ini aku baru menikah karena takut salah pilih pasangan," ungkap Dewi.


Fadil berdecak. "Jangan bahas umur. Jarak kita sepuluh tahun. Aku merasa tua," desis Fadil.


Dewi terkekeh. "Lebih jauh lagi Tuan Carlos dan Calista. Mereka seperti ayah dan anak."


"Tapi mereka saling mencintai. Apalagi Tuan Carlos nampak sangat bahagia atas kehamilan Nyonya Calista."


Wajah Dewi berubah menjadi muram dan itu disadari oleh Fadil. "Dengar. Aku melakukan itu saat kita masih berteman."


Dewi mengangguk mengerti.


"Ayo. Ini malam pertama kita," ajak Fadil.

__ADS_1


"Enggak boleh. Mas mabuk."


...----------------...


Pagi-pagi sekali Calista sudah bangun. Pertama kali dilihatnya adalah wajah Carlos sedang tidur dengan wajah polos dan damai.


Tangan nya terulur menyentuh pipi Carlos. Jari telunjuk bergerak menyerupai garis dari kening, turun ke mata, hidung lalu bibir.


"Awwh," cicit Calista saat jemarinya hendak menyentuh bibir namun Carlos langsung melahap jemari itu dengan mata yang masih terpejam.


"Iihh .. Om," rengek Calista apalagi Carlos mengeratkan pelukan hingga tubuh mereka menempel sempurna.


"Kenapa sudah bangun, hm?" tanya Carlos dengan suara berat khas bangun tidur.


"Aku pingin masak," sahut Calista.


Mata Carlos terbuka menatap Calista. "Kamu mau masak? gak capek?"


Calista menggeleng. "Ayo sama Om juga."


Carlos menuruti permintaan Calista. Sesuatu yang tak pernah dilakukan saat masih bersama Nadia.


Carlos memeluk Calista dari belakang saat istri kecilnya itu masih fokus pada sayur yang dimasak.


"Jangan tinggalkan aku, Calt."


Calista tersenyum lalu mengelus rambut Carlos yang masih bersandar di bahunya. "Kemana lagi aku akan pergi meninggalkan mu kalau kita sudah sejauh ini melangkah?"


Carlos membalikkan tubuh Calista. "Mungkin aku akan benar-benar gila bila kamu meninggalkan ku."


Calista tersenyum lalu mengecup bibir Carlos. Usai sarapan, keduanya bersiap untuk pergi ke Kantor dan Kampus. Sebelum ke tujuan utama, keduanya lebih dahulu memeriksakan kandungan Calista.


...----------------...


Dokter Kandungan tersebut memeriksa dan menerangkan apa saja yang harus di perhatikan saat usia kandungan sudah empat bulan.


"Biasanya di periode trimester kedua ini, masa ngidam mereda."


"Benar, Dok. Saya sudah tidak muntah-muntah lagi," ucap Carlos.


Dokter tersebut tersenyum. "Bayi memiliki panjang 12 cm, dengan berat mencapai 120 gram."


"Di periode waktu ini, bayi juga mungkin memiliki beberapa rambut yang tumbuh. Organ reproduksinya berkembang dengan cepat dan mulai memiliki kekuatan otot.


Yang terpenting, mata dan telinga bayi sudah berkembang dan kini ia dapat mendengar suara Bunda dari dalam rahim. Maka dari itu, Bunda mulai dapat berbicara dan bernyanyi untuk si Kecil agar ia mengenal suara Bunda. Ini juga cara yang bagus untuk menjalin ikatan dengan bayi, lho."


"Benarkah?" tanya Calista antusias.


"Benar, Nyonya."

__ADS_1


Carlos menggoyang lengan Calista. Setelah istrinya itu menoleh kearahnya, ia pun bertanya. "Sayang, apa aku boleh bercerita juga dengan anak kita?" tanyanya polos.


Calista tercengang dengan pertanyaan Carlos barusan.


__ADS_2