Aku Bukan Rahim Pengganti

Aku Bukan Rahim Pengganti
43. Aku Bukan Rahim Pengganti


__ADS_3

Carlos melongo melihat Calista pergi melewatinya tanpa berkata apapun. Bahkan masih memandangi tubuh mungil sang istri sampai hilang dibalik pintu.


"Baiklah. Aku pamit dulu," ucap William membuat Carlos kembali mengarah ke pria itu.


"Kemana kau culik istriku, Will?" cerca Carlos sengit.


"Ck. Kau salah bertanya itu padaku. Seharusnya aku yang bertanya, kemana kau saat istri yang sedang mengandung menangis di samping pusaran ibu nya? sibuk ngurus istri tua hamil juga?" sindir William pergi begitu saja semakin membuat Carlos kesal.


"Cari tahu apa saja yang mereka lewati hari ini. Aku gak mau Calista tergoda dengan casanova tua buntung itu," ucap Carlos pada Bimo dan dua bodyguard babak belur tersebut.


Carlos pergi menyusul Calista ke dalam kamar. Sedang Bimo mencebik karena merasa Carlos tak sadar diri bila sudah tua.


Bimo memerintahkan anak buah dan pelayan rumah itu untuk membereskan kekacauan yang diciptakan oleh sang empu rumah.


"Selesai membereskan ini semua, sebaiknya kalian siapkan makan malam untuk Tuan Carlos."


"Baik. Tuan," sahut salah satu pelayan rumah Carlos.


...****************...


Calista masuk ke kamar langsung menuju kamar mandi karena sudah merasa gerah. Bukan hanya badan, hati juga mulai gerah merasakan peliknya masalah rumah tangganya.


...****************...


Carlos masuk ke dalam kamar. Tidak ada Calista di dalam sana, akhirnya memilih duduk di tepi ranjang menunggu disana.


Lagi-lagi Carlos mendengus manakala Calista merasa tak terganggu dengan kehadiran nya. "Sayang," panggilnya merasa gemas melihat istrinya yang menganggap dirinya patung.


Calista menoleh menatap Carlos dengan tatapan tajam. Sengaja sedari tadi tak pedulikan Carlos karena suasana hatinya masih belum baik-baik saja.


Carlos melihat tatapan tajam Calista menelan saliva dengan kasar. Ia pun bangkit, melangkah mendekati istrinya itu.


"Jangan mendekat, Carlos Martinez!" sentak Calista membuat Carlos memundurkan beberapa langkah.


"Dengar penjelasan ku dulu, Calt!" ucap Carlos tetapi matanya fokus pada tubuh Calista yang hanya mengenakan celana segitiga dan pelindung payu dara.


"Penjelasan apalagi? kamu mau bilang kalau harus adil? bukankah sudah ku bilang, jangan sentuh aku kalau kamu masih sentuh istrimu. Ah.. Selamat atas kehamilan istri pertama mu," Calista berbicara dengan mata berkaca-kaca.


Carlos menghela nafas panjang. Di dekap erat tubuh sang istri, baginya saat Calista banyak bicara justru semakin menggemaskan, cantik, dan seksi. Dan itu semakin menyiksa baginya.


"Dengarkan aku dulu sayang. Hanya kamu istriku satu-satunya yang akan menjadi ibu dari anak-anakku."

__ADS_1


"Tapi..,"


"Janin itu anak pria lain."


"Om Fadil?"


Carlos mengangguk lalu mengecup pucuk kepala Calista dengan sayang. "Aku sudah mengajukan gugatan cerai. Setelah kami resmi bercerai, aku akan katakan pada publik kalau kamu lah istri kedua ku."


"Jangan takut. Aku takut semua orang menyalahkan kehadiran ku, Om. Mau bagaimanapun, aku telah merebut suami orang."


"Aku yang salah karena kejadian itu. Sayang, kenapa kamu semakin membangunkan Junior?"


Calista terkekeh. Sebenarnya, ketika Carlos memeluknya tadi sudah merasakan sesuatu mengganjal dari balik celana kerja suaminya. Tetapi karena Carlos sedang bicara serius, membuat Calista hanya diam saja.


Karena hormon kehamilan membuat Calista lebih agresif akhirnya mengelus junior yang sudah meminta disayang-sayang oleh Calista.


"Aku gemas, Om."


"Baiklah. Mulai sekarang, kalau ada masalah harus dibicarakan langsung dan selanjutnya kita bersenang-senang di kamar. Gimana?"


Calista mendongak dan mencebik. "Enak di Om, capek di aku."


Carlos menarik hidung Calista dengan gemas. "Kamu juga menikmatinya, kan?"


Carlos merebahkan tubuh Calista dengan perlahan. "Sekarang kamu nakal, sayang."


"Aku tahu."


"Setelah ini, aku akan membuatkan mu susu. Sekarang waktunya kamu menikmati gempuran ombak berskala besar dariku."


...****************...


Usai pergulatan panas, Carlos dan Calista mandi bersama dan ke dapur bersama pula. Dengan telaten membuatkan segelas susu rasa cokelat untuk Calista.


Bersamaan itu pula Nadia pulang ke rumah Carlos. Duduk di seberang Carlos dan Calista.


"Barang-barang mu sudah dikemasi. Cepatlah angkat kaki dari Rumah ku," ucap Carlos tanpa mengalihkan pandangan dari Calista yang sedang minum susu.


"Aku gak mau."


"Tempatmu bukan disini, Nadia. Kembalilah pada suami dan anak-anak mu."

__ADS_1


"Calista. Tolong bujuk Om kamu agar mau memaafkan Tante," Isak tangis mulai terdengar disana.


Calista tersentak karena mendengar permintaan Nadia. "Tan. Aku gak bisa," ucap Calista lirih.


Bagaimana bisa ia membujuk Carlos? sementara dirinyalah yang harus diperjuangkan.


"Kenapa? apa kamu ingin anak Tante hidup tanpa ayah nya?"


"Aku bukan ayah dari janin yang kamu kandung, Nadia. Aku adalah ayah dari janin yang di kandung istri kedua ku."


Nadia meradang. "Siapa wanita itu, Carl? siapa wanita yang sudah merebutmu dariku?"


Calista menunduk.


"Dia wanita jauh lebih baik darimu. Dia wanita terhormat yang bisa menjaga kesucian nya."


"Jika dia wanita terhormat, gak akan pernah merebut kebahagiaan wanita lain."


Calista semakin memperdalam kepalanya menunduk. Ia membenarkan ucapan Nadia barusan.


Amarah Carlos tersulut. Bangkit dengan kasar hendak mendekati Nadia tetapi urung karena tangan nya dicekal oleh Calista yang menggeleng saat dirinya menatap ke arah istri kedua nya itu.


Carlos mengacungkan jemari telunjuk nya ke arah Nadia. "Dengar Nadia. Kamu harus tahu kenyataan nya. Sebelum aku menikahi mu empat belas tahu lalu, aku sudah tergila-gila dengan istri kedua ku. Aku hanya menikahi karena untuk menutupi kegilaan ku, makanya aku gak pernah menyelidiki siapa kamu."


Hening.


Calista semakin takut jika Carlos mengungkapkan siapa dirinya sebenarnya.


Sedang Nadia mematung mendengar kebenaran yang baru diketahuinya.


"Siapa wanita itu?" tanya Nadia dengan suara bergetar.


"Kamu gak perlu tahu dan jangan cari tahu apalagi ada niatmu untuk mencelakai istri keduaku. Satu yang harus kamu tahu, dia bukan wanita biasa yang haus akan hartaku seperti dirimu. Dia sama dengan ku."


Di seka air mata Nadia. "Sampaikan pada istrimu. Aku gak perduli istrimu mau sebaik apa, secantik apa, sesuci apa dia dariku. Tapi kalau dia sudah berani merebut milik wanita lain, menghancurkan kebahagiaan wanita lain itu berarti dia jauh dibawahku. Dia gak lebih dari seorang ja lang."


Deg


Ucapan Nadia begitu menusuk hati Calista. Benar kata Nadia, ia adalah seorang ja lang.


"Bukankah gak jauh berbeda dengan mu, Tan? apa yang pantas dikatakan untuk seorang istri, meninggalkan suami dan anak kandung nya hanya demi menikah dengan pria kaya raya? apa cinta mu begitu rendah hingga mampu dibeli dengan uang?" cerca Calista menjadi geram.

__ADS_1


Nadia mengerutkan dahi mendengar ucapan Calista. "Kenapa kamu sepertinya marah aku berkata seperti itu untuk istri kedua, Om kamu? Apa kamu tahu siapa wanita ja lang itu?"


__ADS_2