aku istrimu, bukan pembantumu

aku istrimu, bukan pembantumu
kondangan manten


__ADS_3

sorenya Sari membuka toko di ganti Nanang setelah siang tadi berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan.


Sari selesai membersihkan rumah dan menyiapkan untuk dagangan gorengan besok.


beberapa hari ini Sari terus melayani suaminya dengan sangat baik, dia tak pernah menolak atau bahkan membantah Nanang.


hari ini adalah hari dimana mereka harus pergi kondangan ke tempat Azila, Sari sudah memasukkan uang untuk salam tempel.


Nanang juga sudah siap dengan kemeja polos berwarna merah maroon, sedang Sari memakai gamis berwarna merah maroon juga.


"sudah siap dek?" tanya Nanang yang sudah selesai merokok.


"iya mas, aku kasih dua ratus ribu untuk amplopnya kurang tidak ya," tanya Sari takut.


"sudah banyak itu, di desa ini paling banyak orang kondangan paling cuma lima puluh ribu, ingat pernikahan kita saja," kata Nanang.


"baiklah mas kalau sudah banyak," jawab Sari.


mereka pun mengendarai mobil yang sengaja di berikan oleh juragan Wawan untuk akomodasi dari menantunya.


ya sari sudah di minta untuk belajar naik mobil dan sepeda motor secara mandiri, terlebih Nanang mungkin akan mengantikan ayahnya untuk sering ke Manado.


mereka pun berangkat menuju ke rumah Fendi dulu, terlebih semua tadi janji akan berkumpul di sana.


bukan apa jika tidak begitu Fendi tidak akan mau ikut kondangan bersama mereka.


Ripin dan Arip juga hanya mengajak istri-istri mereka, "tunggu ini kenapa tidak ada yang bawa anak ya? ini sengaja apa gimana?" tanya Nanang saat turun dari mobil.


Sari juga ikut turun dan tersenyum menyapa mbak Lulu dan mbak Wati yang sudah cantik.


"anak-anak hari ini di ungsikan ke rumah embah mereka masing-masing, agar gak ganggu ibu dan bapaknya," jawab mbak Lulu.


"sama, anak ku juga di bawa mertuaku, katanya mereka kangen jadi kami di suruh buat lagi deh," jawab Ripin tertawa.


"dasar kalian ini, sudah ayo berangkat sudah makin malam, dek kamu duduk di tengah ya sama Wati dan Lulu, biar Fendi di depan bersamaku ya," kata Nanang.


"iya mas," jawab Sari sangat patuh.


mbak Lulu dan mbak Wati selalu mendengar Sari berkata iya pada Nanang.


gadis itu bahkan tak pernah sekalipun terdengar membantah suaminya.

__ADS_1


atau berkata dengan suara lebih tinggi di banding pria itu.


mereka semua pun berangkat ke tempat kondangan, ternyata banyak orang berjualan di sepanjang jalan menuju ke rumah Azila.


ternyata ada hiburan orkes dangdut lesehan, jadi mobil pun tak bisa mendekat jadi mereka parkir cukup jauh.


mereka semua pun bergandengan tangan bersama pasangan masing-masing.


sedang Fendi menjadi pemimpin untuk mereka bertiga, sesampainya di tenda sudah terdengar suara yang ramai.


Adelia menyapa mereka semua, dan gadis itu langsung mengandeng tangan Fendi yang memang tak punya pasangan.


"ayo masuk semuanya, atau langsung mengucapkan selamat pada pengantin, atau mau ngumpul dulu," tanya Adelia.


"kita ngucapin selamat dulu pada pengantin yuk, mana nih suami Azila?" tanya Nanang penasaran.


"ya Allah... itu bapaknya Azila yang duduk bareng dia?" kaget Arip yang kaget melihat suami dari gadis itu.


ternyata Azila di jodohkan dengan pria yang lebih tua, mungkin sepantaran dengan bapak Sari.


"sudah jangan ngomong dulu, cepat maju dan mengucapkan selamat pada pengantin," kata Nanang yang tak ingin membuat antrian makin panjang.


mereka pun naik ke atas pelaminan untuk mengucapkan selamat, bahkan ikut foto bersama.


Azila yang mendengar ucapan dari sari pun kaget, dia tak mengira jika istri dari pria yang dia sukai sudah peka.


"kamu juga ya adek, semoga bisa membahagiakan suamimu hingga dia tak mencari yang lain ya," kata Azila.


"tentu bisa, karena aku orangnya cepat belajar kok," jawab Sari yang kemudian bergegas turun.


dia dan Nanang bahkan tak terpisahkan, tapi Azila ingin melihat Sari malu.


dia tak ingin gadis itu bisa bahagia, terlebih setelah mengatakan hal tadi padanya.


sari memanggil salah satu adiknya, dia membisikkan sesuatu dan gadis itu langsung menuju ke area panggung orkes.


"baiklah, ini ada request dari pengantin, mbak Azila ingin meminta maaf pada mas Nanang dan istri untuk menyumbangkan sebuah lagu romantis untuk para tamu, jadi Monggo di persilahkan naik ke atas panggung," kata MC orkes itu


Nanang pun mengajak istrinya, "mas yakin aku boleh naik dan bernyanyi?"


"tentu, tapi jangan membuatku malu ya, jika tidak aku akan membencimu, jadi sekarang kamu pilih deh," bisik Nanang.

__ADS_1


Sari pun memilih duduk, "tapi maaf daripada aku mempermalukan mas, lebih baik aku tak bernyanyi," jawab Sari cari aman.


"Monggo mas Nanang dan istri, apa perlu saya jemput," tanya MC.


Nanang pun berdiri dan langsung naik panggung sendirian,"loh kok sendiri mas Nanang, mana istrinya?"


"maaf dia pemalu jadi saya sendiri yang akan menyanyi," jawab Nanang.


"Sari, bolehkah aku menemaninya menyanyi?" tanya Adelia


"silahkan mbak," jawab Sari dengan enteng pada Adelia.


gadis itu mengangguk dan langsung naik ke atas panggung untuk menemani temannya itu bernyanyi itu.


sebelum Azila yang datang menemani Nanang dan bisa ada perang dunia ketiga dan masih membuatnya tak percaya.


mereka pun mulai menyanyikan lagu dari Rhoma irama dan Soneta, yaitu mandul.


semua orang heran dengan pilihan lagi dari keduanya, tapi masalahnya Adelia hanya bisa lagi itu.


setelah menyelesaikan satu lagu itu, mereka berdua pun turun, "kok udahan, satu lagu lagi dong kalau boleh,"


"maaf ini saja sudah berlebihan, saya tak suka," jawab Nanang dingin.


mereka pun menuju ke meja lagi untuk berkumpul bersama yang lain,dari terlihat tertawa bersama Fendi.


"kalian membicarakan apa?" tanya Nanang yang penasaran dengan apa yang mereka perbincangkan.


"hanya tentang lagu pilihan kalian tadi, kenapa memilih lagi itu, ini pernikahan kok lagunya belum-belum sudah mandul saja," kata Fendi.


"ya mau bagaimana dong, kamu kan tau jika lagu lama, aku cuma hapal lagu itu jadi mohon maklum ya," jawab Adelia tertawa.


sedang Nanang merangkul pundak istrinya dan membisikkan sesuatu, Sari pun langsung menunduk sedih.


Fendi pun merasa ada yang aneh dengan Sari, benar saja tak lama Nanang mengajak mereka semua pulang.


"eh kenapa sih kok buru-buru pulang?" tanya Arip.


"aku ingin mengajak kalian ngopi saja lah di alun-alun,lumayan daripada di pesta berisik," kata Nanang.


"eh neng Sari kok diem saja, sakit?" tanya Ripin.

__ADS_1


"tidak ada kok, cuma aku pusing saat di tempat ramai seperti tadi, maklum saya kurang suka hal seperti itu," jawab Sari tersenyum menjawab pertanyaan itu.


__ADS_2