
Nanang memercikkan air ke wajah Azila, "woy bangun, bukannya bikin makanan malah tidur, cepat buatkan aku makanan," suara Nanang yang terdengar sedikit tenang.
Azila bangun dan merasa bodoh, ternyata itu tadi cuma mimpinya. dia tak mungkin melakukan itu, karena jika dia di penjara siapa yang akan merawat anaknya.
dia pun bangun dan membuatkan nasi goreng untuk Nanang, "kamu masih marah?"
"menurut mu," jawab Azila ketus
"ayolah Azila jangan marah seperti ini, kamu tau jika aku memang memiliki temperamen yang buruk,dan kamu malah memancingnya seperti tadi, kamu kan tau aku paling gak bisa di bantah,"
"tapi itu memang benar kan, setelah kamu mengambil semuanya dariku, dan tau jika anakku bukan milik mu, kamu ingin membuang kami, kamu itu biadab," marah Azila.
"apa yang kamu bicarakan, jika aku membuang mu lalu siapa yang akan menemaniku sampai tua, dan untuk masalah anak,meski dia bukan anak ku,aku akan mencoba menerima, dan tolong sebisa mungkin jangan seperti ini lagi ya," mohon Nanang.
"aku tak bisa janji, kamu itu terus berubah pikiran, apalagi ibu mu terus menyakitiku dan menghasut mu," kesal Azila.
Nanang pun berdiri dan memeluk istrinya itu, dia sedikit mulai sadar dan berpikir, jika dia tak berubah dan menerima Azila dan anaknya.
dia mungkin akan jadi sebatang kara saat tua nantinya, terlebih dengan kelakuan ibunya saat ini bisa saja dia mengalami hal buruk.
karena Nanang sudah dapat teguran dari juragan Wawan dengan uang yang kembali tak bisa di ambil dari rekeningnya.
ya karena Nanang membiarkan ibunya itu berkeliaran, juragan Wawan kembali menutup rekening pria itu.
dan jika Azila meninggalkan dirinya dan mengambil semua uang yang dia bawa Duki, mungkin Nanang akan jadi gelandangan, dan dengan kondisinya.
sudah di pastikan dia akan jadi gelandangan dan mungkin akan terlunta-lunta di jalanan.
"aku akan memaafkan mu tapi dengan satu syarat, aku tak mau melihat ibumu si sini, dan terserah kamu mau pilih aku atau ibumu, karena dari ibumu semua masalah ini berawal," marah Azila.
Nanang pun mengangguk, "baiklah biar aku akan pikirkan nantinya," jawab pria itu.
__ADS_1
Azila juga tak langsung percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Nanang.
karena pria itu juga sering bersikap berubah-ubah dan itu sering membuatnya bingung.
juragan Wawan mampir ke rumah mertuanya, ya bisa di bilang begitu meski mereka dulu tumbuh bersama.
a"wah mbak dari mana kok rapi banget," tanya Tata
"dari jalan-jalan dong,kamu gak pergi padahal Sabtu malam Minggu loh, kemana calon mu itu?" tanya Sari meledek Tata.
"dia mah lembut, katanya buat tabungan setelah nikah, biar kami tak merepotkan keluarga, jadi kami akan langsung membangun rumah sambil berjalan perlahan," jawab Tata
"pemikiran yang bagus, kamu nanti kalau sudah siap, mas sumbang semen lima puluh sak ya, apa mau uang saja," tawar juragan Wawan.
"apa? tapi itu sangat banyak loh mas, gak papa?" tanya pak Wasis
"dia itu juga adikku loh mas Wasis, jadi tak salah untuk ku menyumbang bukan,"
"apa, kenapa kalian repot begini, tapi ya terima kasih," kata Tata.
"memang rencananya kalian mau buat dimana, kalau dekat mertua mu lebih baik jangan karena di sana sulit kalau mobil masuk, lebih baik cari tanah di pinggir jalan, kamu bisa membuka toko dan mbak mu bisa meminjami modal awal," kata juragan Wawan.
"Alhamdulillah tanah yang di beli oleh calon suamiku di pinggir jalan max, terlebih bagian tanah untuknya juga tak banyak, jadi di beli oleh kakak perempuannya, dan kami akan bangun rumah dan tak jauh dari sini,"
"memang dimana itu?" tanya juragan Wawan yang memang tak pernah dengar ada yang menjual tanah di sekitar sana.
"itu loh mas, yang dekat dengan balai desa, itu kan ada jalan paving cukup luas muat truk, dan di belakang rumah swadaya, itu kan tanah milik pak Susno kan, jadi calon suami Tata membelinya dari orang itu," kata sari menerangkan.
"apa ada sertifikatnya, jangan membeli tanah yang tak jelas, kalian bisa minta tolong aku seharusnya, ya Tuhan... Susno itu pria paling suka nilep uang," kata juragan Wawan.
"tunggu sebentar kalau begitu biar Tata minta Andri kesini dan mas bisa bertanya sendiri," kata gadis itu panik.
__ADS_1
pasalnya dia taunya hari ini ada penyerahan uang dan penandatanganan akta jual beli.
untung ponsel pria itu langsung di angkat, "mas Andri sudah di rumah pak Susno?" tanya Tata dengan panik.
"iya hampir sampai, ada apa dek?" tanya pria itu bingung.
"sekarang datang ke rumah, ada sesuatu yang mas harus dengar, ya Allah jangan sampai mas ketipu..." kata Tata.
mendengar itu Andri pun kaget, "baiklah aku ke rumah mu sekarang," kata pria itu langsung putar balik.
pria itu sampai di rumah pak Wasis dan melihat mobil dari suami kakak iparnya itu.
"assalamualaikum pak.. mas juragan dan mbak Sari..." sapa Andri dengan sopan.
"duduk le, mas ipar mu mau bicara," kata pak Wasis.
"kamu beli tanah berapa luasnya, dan dengan harga berapa?" tanya juragan Wawan langsung.
"satu meternya dia minta lima ratus ribu, dan luas tanah itu ada sekitar lima puluh meter persegi mas," jawab Andri.
"berarti harganya di kisaran dua puluh lima juta, dan seingat ku dulu lurah pernah bilang jika tanah di belakang rumah serba guna itu cukup luas ada seratus meter lebih, kenapa hanya di jual tak sampai separuhnya, apa ada sertifikatnya?" tanya juragan Wawan.
"katanya masih petok mas, dan belum ada jadi nanti dia meminta kami membuat sertifikat sendiri," kata Andri.
"kalau begitu urusan e Karo lurah, sekarang aku ikut dengan mu, dan aku akan panggil lurah sama polo, setidaknya mereka yang tau ukuran tanah disana," kata juragan Wawan yang tak ingin adik iparnya itu tertipu.
Sari pun hanya bisa duduk di rumah orang tuanya, dan dia sedikit tenang karena suaminya itu juga sangat peduli pada keluarganya.
"kamu bahagia nduk?" tanya Bu Menuk yang melihat wajah sari terus bersinar cerah dan sangat sehat sekarang.
"sangat Bu, lihatlah bagaimana aku tak bahagia saat punya suami yang peduli pada keluarga ku seperti ini," jawab Sari.
__ADS_1