
"ah mbak jangan gitu dong, aku udah di marahin bapak habis-habisan karena ketahuan bolos," kata Tata merajuk.
"idih... salah sendiri, bukannya sekolah yang bener malah main ke tempat jauh begitu, dek bapak itu marah bukan karena tidak suka padamu,tapi bapak itu sangat khawatir,terlebih kalian berlima kemarin pergi baik sepeda motor karena pegunungan,kalau ya amit-amit sampai terjadi tanah longsor terus kalian ke timbun gak bisa pulang gimana, terus kamu gak kasihan melihat ibu sama bapak?" tanya Sari memberi pengertian pada Tata.
"iya mbak, aku dan temen-temen ku memang salah, jadi nanti aku akan minta maaf lagi," terang Tata yang sudah menyadari kesalahannya.
hari-hari sari pun terlewati dengan sangat baik, penjualan tanah miliknya juga susah di setujui dan sudah mendapatkan uangnya.
sekarang Sari mencoba membangun ruko di samping rumah ayahnya,dia ingin menjual sembako seperti dulu,dan jika dia sibuk atau sedang senam.
ibu Menuk dan adik-adiknya bisa menjaganya, terlebih modal dari ayah mertuanya sangat cukup.
di bawah toko dan di atas adalah kamar dan rumah untuknya tinggal agar tak merepotkan Tata terus, terlebih dewa juga semakin besar dan butuh kabar sendiri.
para warga mulai menyebar desas-desus tentang sari yang bisa membuat rumah tingkat setelah bercerai.
semua pun termakan gosip, tapi satu sebisa mungkin mengacuhkannya karena para warga tak tau saja.
jika Sari mendapatkan kompensasi besar dari ayah mertuanya yang tak ingin mantan menantunya itu kesulitan.
hari ini Sari sudah siap menghadiri Sidang talak yang akan di ucapkan oleh Nanang.
karena permintaan dari ayah mertuanya, Sari dan bapak Wasis menghadiri sidang terakhir itu.
mereka naik mobil sekalian nanti akan belanja untuk mengisi toko yang baru buka, karena sari membuka toko yang cukup lengkap dibanding dengan toko lainnya.
"ada apa pak?" tanya Sari saat melihat bapaknya itu terpaku seperti melihat sesuatu yang menjengkelkan.
Sari langsung menahan sang baik saat pria itu ingin menghampiri Nanang yang datang dengan juragan Wawan dan juga Bu Wiwit.
"tolong jangan pak, aku mohon... apapun yang mereka katakan, tolong jangan terpancing emosi," kata Sari.
"baiklah, kalau begitu ayo masuk," kata pak Wasis mengandeng tangan putrinya itu
Nanang dan keluarganya pun masuk ke dalam ruang tunggu sebelum di panggil masuk kedalam ruang sidang.
__ADS_1
terlihat satu tak tenang,sedang Bu Wiwit terus melihat kearah ponsel seperti sedang mengirimkan beberapa pesan.
Sari mendapatkan pesan dari Adelia yang sudah sampai di rumah orang tuanya dan menunjukkan foto putranya.
"ya Allah tampannya... ini putra ayah ya mbak?" tanya Sari
"iya sari, karena satu dan lain hal aku tak bisa membawanya tinggal bersama ku, itulah kenapa aku menitipkan pada orang tuaku, sudah ya, kami mau ke pasar dulu, kamu ku ucapkan duluan, selamat menjadi janda," pesan dari Adelia
"iya mbak terima kasih," jawab Sari membalas pesan itu.
akhirnya nama mereka di panggil untuk masuk ke ruang persidangan, hakim ketua langsung meminta Nanang untuk membacakan talak setelah beliau membacakan putusan.
terlihat Nanang marah saat membacakan talak pada Sari, sedang wanita itu tampak begitu bersyukur.
dan yang membuat kemarahan Nanang kembali terpancing saat mengambil akta cerai.
pasalnya salah satu pegawai pengadilan itu mengatakan sesuatu yang menyingung pria itu.
"aduh mas, punya istri seseger itu kok di sia-siakan, terlebih di siksa, kan seharusnya di sayang-sayang dong," kata pegawai pengadilan itu
Sari pun hanya bisa mengelus dada, pasalnya Nanang tak berubah sedikit pun.
"sekarang kamu puas,dasar wanita gatel, terus saja obral tubuhmu pada semua pria, cih lenjeh..." kata Nanang yang menghina Sari sebelum pergi.
"astaghfirullah... semoga kamu cepat sadar mas," kata Sari yang tak bisa bicara apapun lagi.
setelah mengambil akta cerai itu, dari menyimpannya dengan baik, "pak kita belanja di pasar gak papa tha?"
"ya gak papa dong, memang kenapa?" tanya pak Wasis tertawa mendengar pertanyaan putrinya.
mereka pun pergi dari kawasan pengadilan agama, sudah cukup siang, tapi sebuah telpon membuat senyum dari sari mengembang.
"siapa nduk?" tanya pak Wasis yang setelah menemani putrinya itu berbelanja.
mereka langsung menuju ke rumah, semua keluarga langsung membantu menata belanjaan untuk toko.
__ADS_1
tapi Sari heran mendengar ponselnya yang terus berdering, akhirnya dia pun melihatnya ternyata juragan Wawan.
"assalamualaikum ayah... ada apa?" tanya Sari dengan sopan.
"Sari... sekarang ayah sedang menuju ke rumahmu, tadi ayah mendapat pesan jika Adelia mendapatkan musibah, ayah ingin ke desanya tapi dia tak pernah mengatakan dimana rumahnya yang sesungguhnya," kata juragan Wawan yang panik.
"baiklah kalau begitu ayah, sekarang aku akan pergi dengan mu," jawab Sari tanpa pikir panjang.
"ada apa nduk? kenapa ayah mu mencariku?" tanya pak Wasis heran.
"mbak Adelia mengalami musibah jadi sari akan pergi ke desa mbak Sari dengan ayah, karena ayah belum pernah ke desa mbak Adelia, maaf Sari pergi dulu ya pak,ibu..." kata sari yang langsung pamit
"iya hati-hati ya, terus kabari kami ya nduk," kata pak Wasis.
"inggeh pak," jawab Sari yang langsung pergi sat melihat mobil mantan ayah mertuanya itu.
Sari membuka ponselnya dan mencari alamat Adelia dari foto yang tadi di kirimkan oleh Adelia, dan beruntungnya di foto ada keterangan lokasi dimana foto itu di ambil.
perjalanan menuju ke desa Adelia cukup jauh dan jalanan juga sangat rusak.
tapi beruntung meski tanah masih lebih mendingan di banding makadam yang tajam dan bisa merusak ban.
mobil juragan Wawan pun mulai masuk kedalam desa, dan satu juga bingung akhirnya memilih bertanya seseorang.
"sebentar ya ayah, biar aku tanya sama warga di sini, tapi kenapa ada keramaian begini?" kata sari yang memutuskan turun.
"maaf ibu, permisi.... saya mau tanya Bu, apa ibu tau rumah keluarga mbak Adelia, ini fotonya," kata Sari pada seorang ibu pemilik warung.
"ya Allah mbak, mbak pasti kenalan Adelia ya, tadi ada siaran di masjid semua juga sedang menunggu, kata pak RT sebentar lagi jenazah keluarga itu akan datang," kata ibu itu.
"apa? jenazah, apa maksudnya Bu, itu tidak mungkin,tadi pagi dia masih berkirim pesan dengan saya, katanya mbak Adelia mau ke pasar," kata Sari kaget.
"iya mbak, tadi kata pak RT mobil Adelia itu di tabrak truk tronton hingga ringsek dan keempat orang itu tak selamat," kata ibu penjaga warung.
Sari pun terduduk lemas,melihat itu juragan Wawan pun turun, "ada apa Sari..."
__ADS_1
juragan Wawan mendekat dan Sari langsung memeluknya, "ayah... mbak Adelia dan putra mu meninggal karena kecelakaan..." tangis sari pecah a