
Jefry pun tak mengira jika juragan Wawan sudah tau semuanya, "ada apa mas, apa yang kamu katakan," kata pria itu.
"tutup mulutmu, jika tidak aku pastikan kamu akan menjadi gelandangan," ancam juragan Wawan.
Sari tak mengira jika mantan ayah mertuanya itu sangat peduli padanya dan keluarganya.
Jefry langsung pergi karena sudah terlalu malu, dan dia benar-benar kehilangan Semuanya.
terlebih orang yang paling kuat sudah membela pak Wasis, karena itu dia tak bisa berbuat apa-apa.
"tunggu dulu Jefry, kamu harus mengembalikan uang seratus juta yang dulu kamu pinjam dari ayah kita, dan jika hari ini kamu tak mengembalikan uang itu, aku akan membuat mu menyesal, antar dia pulang, dan tunggu dia sampai memberikan uang itu sekarang!" kata juragan Wawan.
"baik juragan kami mengerti," kata para anak buah juragan Wawan.
Jefry pun pulang, Sari memeluk pak Wasis, "bagaimana kamu bisa menemukan semua sertifikat milik kakek mu?"
"tentu rahasia dong," kata Sari yang tersenyum senang.
setelah menyentuh kepala sari, juragan Wawan ingin pergi tapi tangannya di tahan oleh Sari.
"ayo mampir ke rumah kakek dulu, sejujurnya tadi sari sudah masak banyak karena tau pasti bapak dan mantan ayah mertua datang," kata wanita itu.
"kamu bisa tetap memanggilku ayah, seperti halnya Yuni," kata juragan Wawan.
"benarkah, terima kasih..." kata sari tersenyum di depan juragan Wawan.
entah apa yang dia rasakan, melihat senyuman sari yang begitu cerah, membuatnya jantungnya berdegup kencang.
"apa aku semudah ini jatuh cinta, istriku saja belum setahun meninggal tapi aku sudah kesepian begini," batin juragan Wawan kesal.
mereka menuju ke rumah itu cukup berjalan kaki, Sari terlihat sangat bahagia.
juragan Wawan yang berjalan di belakang terus melihat kearah Sari, tapi pak RT datang dan langsung menyapa pak Wasis.
"bapak ke sana dulu ya, kamu pulang dulu bareng mas Wawan," kata pak Wasis.
"iya pak," jawab Sari.
__ADS_1
juragan Wawan sedang bengong sambil berjalan, Sari berhenti dan melihat pria itu.
"ayah sedang memikirkan apa?" kata Sari yang sepertinya tak di dengar pria itu.
hingga tubuh juragan Wawan menabrak tubuh Sari, karena hal itu dari hampir jatuh.
tapi beruntung juragan Wawan menangkap tubuh Sari dan memeluknya.
"ayah sedang melamun apa, sampai sari sebesar ini tak terlihat?" tanyanya dengan heran.
"maaf, ada beberapa pekerjaan yang harus ayah lakukan, tapi karena telpon pria menyebalkan itu, jadi aku dan bapak mu jadi buru-buru kesini," kata juragan Wawan melepaskan pelukannya.
"apa... ayah jahat banget, ya sudah pergi saja kalau memang ayah tak mau makan bersama ku, nanti biar bapak pulang dengan ojek," kata Sari dengan sedih.
"apa, jangan bicara seperti itu Sari, ayah cuma bercanda, padahal ayah ingin bicara banyak hal dengan mu, tapi aku takut kamu terluka karena ingat kejadian buruk yang aku lakukan padamu," kata juragan Wawan.
"tenang saja, aku bukan pendendam kok ayah, lagi pula aku sudah memaafkan ayah, jadi biasa saja seperti biasanya," kata Yuni.
mereka sampai di rumah yang masih beralaskan semen tapi terlihat sangat nyaman.
"loh ini siapa neng?" tanya Bu Kokom.
juragan Wawan pun mengerti, jika sari sudah benar-benar memaafkannya, bahkan gadis itu bisa seceria ini.
"apa kamu bahagia di sini?"
Sari menoleh, "aku senang di sini, tapi aku lebih senang berkumpul dengan keluarga dan orang yang aku sayangi."
"kalau begitu mau kembali bersamaku, Yuni terus mencari mu," kata juragan Wawan mengulurkan tangannya.
"untuk apa Yuni terus mencariku, aku bukan kakak iparnya lagi, dia akan segera bahagia dengan calon suaminya, pria itu baik dan selalu mengutamakan Yuni," jawab Sari.
"karena aku ingin sering melihat mu, aku takut kamu terluka saat jauh dariku," kata juragan Wawan.
pak Wasis dan pak RT yang Atang kaget melihat adegan itu, "dalam semalam, tak mungkin kan bisa melupakan segalanya,"
"memang benar, tapi kalian memiliki tempat sendiri-sendiri, aku tak harus menghapusnya, karena kamu sudah punya tempat sendiri dengan cara mu," kata juragan Wawan.
__ADS_1
"aku tak mengira mantan ayah mertua ku bisa mengatakan hal semanis itu," kata sari yang hanya tersenyum saja.
"maaf kalian berdua membuat orang berpikir aneh, jadi berhenti melakukan drama seperti ini, kita bisa masuk," kata pak Wasis.
"tentu pak, masuk dulu, Bu Kokom tolong antar mereka ke ruang tengah," kata Sari.
tapi juragan Wawan tetap melihat sari dengan tatapan dalam, "kalau itu yang anda inginkan, tunggu sampai aku yakin dengan ucapan anda, karena mungkin akan banyak orang yang mencaci maki kita karena hubungan yang pernah kita lalui," terang dari yang menyentuh tangan pria itu dan menggenggamnya.
doa pun menarik pria yang telah menjaganya selama ini, bahkan pria yang berdiri paling depan untuknya.
bahkan bisa meninggalkan semua keluarganya yang melakukan kesalahan demi mendukungnya.
mereka pun makan bersama dengan sangat hangat dan penuh keakraban.
setelah itu juragan Wawan dan pak Wasis melihat apa yang di temukan oleh sari, mereka tak mengira kotak yang berisi barang sederhana bisa menyimpan begitu banyak harta.
"ini milik mu mas Wasis, kamu bisa menyimpannya, karena apa yang sudah di berikan oleh bapak dulu sudah terlalu banyak," kata juragan Wawan.
"baiklah kalau begitu, Sari kamu yang harus menyimpan semua ini, karena kamu cucu pertama beliau," kata pak Wasis yang merasa sedih.
"bisa kita adakan acara kirim doa masal dan pengajian untuk kakek, setidaknya hanya itu yang bisa di lakukan karena tak mungkin kita bisa melakukan apapun untuk orang yang sudah meninggal kecuali kirim doa," kata Sari.
"tentu, dan kamu bisa mendirikan usaha kue mu atau mungkin toko mu agar semakin besar," kata juragan Wawan.
"tapi kalau seperti itu aku akan butuh banyak orang untuk membantu," jawab Sari tertawa.
akhirnya pak RT di minta tolong untuk mempersiapkan segalanya, juragan Wawan juga sudah menerima uang yang di berikan Jefry.
Sari memimpin semua ibu-ibu untuk kelancaran pengajian itu, bahkan makam keduanya juga di pindah agar semakin dekat dan mudah untuk berziarah.
Sari tak menyangka jika kakeknya memiliki anak asuh yang cukup banyak.
semua datang dan berkumpul, bahkan beberapa ada yang terang-terangan meminta Sari untuk jadi menantunya.
"apa keterlaluan ya, memikirkan untuk menikahi gadis yang pantas aku panggil putriku, terlebih itu putri saudara angkat ku," gumam juragan Wawan.
tanpa di duga pak Wasis sedang di belakang tubuh pria itu, "mas Wawan mencintai sari,"
__ADS_1
mendengar suara itu, juragan Wawan menoleh dan kaget, dia bingung mau jawab apa, karena mungkin pak Wasis akan sangat menentangnya.