aku istrimu, bukan pembantumu

aku istrimu, bukan pembantumu
suami posesif


__ADS_3

juragan Wawan sampai di rumah sakit dengan wajah yang entah tak bisa di tebak.


pria itu sudah di pastikan sangat sedih saat ini karena pesta pernikahan Yuni yang menjadi impiannya pun sudah tak bisa dia ikuti.


terlebih dia tak bisa melihat wajah Bu Wiwit dan semua orang, karena dia merasa jadi pria paling bodoh.


"mas..." panggil Sari.


juragan Wawan mengusap air matanya, dan langsung menghampiri istrinya itu.


Sari mengulurkan tangannya untuk pria yang sudah sangat dia cintai itu, dan juragan Wawan memeluknya dengan erat.


"menangis lah sekarang, setelah itu tak boleh, karena mulai sekarang mas tak boleh sedih hanya boleh bahagia, terlebih sekarang ada dua disini, dia tak ingin melihat ayahnya sedih begitupun ibunya ini, tak mau pria yang di cintai sedih..." hidup Sari.


"baik sayang, aku janji aku akan bahagia sekarang bersama dengan mu dan calon anak-anak kita nanti," kata juragan Wawan.


"apa, anak-anak memang mau punya anak berapa?" tanya Sari.


"cukup lima atau tujuh," jawab juragan Wawan.


"apa?" kaget Sari dengan lemas.


"bapak setuju karena aku juga ingin punya banyak cucu," jawab pak Wasis.


"Allahuakbar..." kata Sari makin syok.


"berarti ini susah dari, setidaknya butuh empat lagi ya sayang," kata juragan Wawan menekuk istrinya.


"tapi kalau aku jadi gemuk dan jelek bagaimana?" tanya Sari takut akan hal itu.


"tidak apa-apa sayang, bagiku kamu adalah wanita yang cantik karena sudah mau tubuh ku rusak demi anak kita," kata juragan Wawan mencium pipi istrinya.


Sari pun tersenyum senang, sekarang dia baru merasakan menjadi istri yang sempurna.


karena suami yang begitu mencintainya, bahkan juragan Wawan selalu memanjakannya.


meski mereka sering sedikit bersitegang tapi Keduanya sangat mudah baikan karena mereka tak malu untuk minta maaf duluan.


selama tiga hari sari di rawat, juragan Wawan benar-benar menjadi suami yang berada di sampingnya.


bahkan semua pekerjaannya di pasrahkan pada orang-orang kepercayaannya.

__ADS_1


"sekarang kita kemana, jangan bilang kita tak punya tujuan," kata Sari pada suaminya yang sedang menyetir mobil.


"kamu tunggu saja, nanti juga tau, dan rumah kita tak jauh dari rumah orang tua mu," kata juragan Wawan.


"benarkah rumah yang mana ini, setahuku tidak ada yang menjual rumahnya deh mas," kata sari tak percaya.


"lihat saja, dan mas sudah merenovasi rumah itu untuk kita dan anak-anak kita nantinya," kata juragan Wawan.


mobil pun sampai di rumah berpagar besi tinggi dan rumah itu di kelilingi tembok tinggi.


belum lagi luas rumah yang entah berapa ratus meter persegi, Sari sedikit kaget karena rumah itu adalah rumah mantan lurah.


"mas rumah ini kan sangat mahal,"


"tidak ada yang mahal untuk istriku ini, jadi ini sekarang rumah mu sayang," kata pria itu.


mereka semua pun masuk kedalam rumah, dan suasana sangat mewah dan juga adem.


"oh ya nanti kamu akan di bantu mbak Jum dan mbak tunah ya, dan untuk yang jaga rumah ada Paiman dan Joko," kata juragan Wawan.


"iya mas,"jawab Sari.


"mbak Jum tolong biarkan minum buat semuanya ya,"


Sari tidak keberatan dengan memperkerjakan dua wanita itu, pasalnya Keduanya adalah wanita bersuami yang juga kerja disini yang juga sudah di kenal juragan Wawan.


Sari dan suami masuk kedalam kamar utama, Sari kaget melihat ruangan itu.


"mas ranjangnya kenapa begitu besar?" tanya Sari penasaran.


"biar kita bisa leluasa untuk bermain, dan coba di rasakan," ajak juragan Wawan yang mengajak sari duduk di ranjang.


"ada apa mas?"


"aku minta maaf, seharusnya kamu menikah dengan pria muda, bukan dengan pria tua seperti aku," kata juragan Wawan.


mendengar itu Sari menutup mulut suaminya itu dengan tangannya, "tidak, aku sudah bahagia seperti ini, aku tak ingin pria lain, dan aku mohon tetap di sisiku seratus tahun lagi," kata Sari sedih


"amiin ya sayang, semoga kita bisa melihat anak-anak kita dewasa dan bahagia ya,"


mereka pun berpelukan dengan erat, sore ini ada acara santunan anak yatim-piatu di rumah baru juragan Wawan.

__ADS_1


acara berjalan lancar, pasangan suami istri itu terlihat sangat bahagia dan terus mengumbar senyum


kini mereka pun makan bersama semua anak buah juragan Wawan, "juragan selamat ya, panen kita kali ini juga sangat banyak,"


"Alhamdulillah,oh ya jangan lupa di bagikan zakatnya, oh ya nanti kalau mau pulang baris ya, ada bonus nanti," kata juragan Wawan.


"pasti mau juragan," kata para orang kepercayaan itu.


akhirnya semua sudah pulang dari rumah itu, pasalnya hari mulai malam.


juragan Wawan duduk berdampingan dengan istrinya, "ada apa mas, kenapa kok sedih dih, itu kerutan nambah banyak loh," goda sari.


mendengar ucapan istrinya itu, dia hanya tertawa saja, "kamu baru tau ya kalau suamimu ini punya kerutan,"


"ih mas nyebelin, padahal aku cuma bercanda, tapi mas kenapa aku tiba-tiba lapar dan pingin makan kepala kambing di masak kecap ya," kata sari.


"hah... apa dek,sekarang banget gitu?" tanya juragan Wawan


"iya, habis tadi cuma ada sate kambing terus aku di perbolehkan makan cuma lima," kata Sari memohon.


"bisa di ganti ajak gak, daging sapi saja gitu misalnya, mas takut kambing itu tak baik untukmu," kata juragan Wawan bingung


"em kalau begitu daging sapinya harus ada gajih ya, supaya mirip dan maunya sekarang ya," kata Sari.


baiklah, sekarang ayo kita ke dapur," ajak juragan Wawan.


dia pun membuka kulkas dan beruntung Bu Menuk menyimpan daging rawonan kesukaan Sari.


juragan Wawan pun segera membuat bumbu dan memasak daging itu dengan panci presto agar lebih cepat empuk.


Sari tak percaya jika suaminya itu begitu cekatan, dan aroma dari masakan itu juga sangat enak.


benar saja tak butuh menunggu lama, cukup empat puluh menit masakan jadi.


"ya Allah mas, itu kenapa dagingnya tidak di potong, itu masih panjang dan besar," kata sari protes.


"biar jamu puas sayang, ayo sekarang makan, karena kamu tadi makan cuma sedikit, mas suapi..." kata pria itu dengan lembut.


saat sendok itu masuk kedalam mulut Sari, air mata wanita itu tak bisa terbendung lagi.


"hei kenapa menangis?"

__ADS_1


dia langsung memeluk pria itu dengan erat, "kenapa aku harus memiliki mu setelah semuanya, seandainya kita bisa bersama lebih dulu, mungkin aku akan jadi wanita paling bahagia di dunia ini memiliki suami seperti mu," kata sari sesenggukan.


"semua sudah jadi takdir Allah sayang, kita hanya perlu mengikuti jalan ceritanya saja, dan sekarang aku bahagia bisa menjadi suamimu," kata juragan Wawan


__ADS_2