aku istrimu, bukan pembantumu

aku istrimu, bukan pembantumu
senyum manis


__ADS_3

Sari dari pagi duduk di toko, di tempatnya hari ini cukup ramai ibu-ibu belanja.


beruntung Sari bisa beristirahat saat sepi, bukan apa dia merasa jika tubuhnya mudah lelah hari ini.


"ya Allah... kenapa hari ini begitu malas ya, rasanya aku masih ingin tidur," gumamnya.


sedang di tempat peternakan sapi dan kambing milik keluarga juragan Wawan.


mantri memastikan jika semua hewan sehat dan tak ada yang perlu di khawatirkan tentang kondisinya.


"baiklah mas kalau begitu saya pamit dulu," kata mantri itu.


"iya pak mantri," jawab Nanang.


pria itu tersenyum saja saat ini, "wah ada apa ini, kok tumben sekali kamu senyum-senyum sendiri Nanang? habis kolean ya?" tanya Arip.


"kolean mata mu cok, gak Kenapa-kenapa sih, memang gak boleh aku senyum, oh ya ngomong-ngomong dulu istri kalian aktif gak sih pas pertama melakukan hubungan badan?" tanya Nanang.


"maksudnya pas malam pertama? ya gak lah," jawab Ripin tertawa.


"owh begitu, terus kalau sekarang?" tanya Nanang.


"kalau istriku aktif sekali soalnya aku yang minta dan aku ajari, ya maklum koleksi VCD milikku banyak bro, kamu lupa jika aku kolektor," kata Arip.


"kampret lu, muka paling alim tapi kelakuan paling bobrok diantara kita semua," kata Nanang merasa kesal mendengar ucapan Arip.


"he-he-he, memang kenapa sih orang aku gak ngerepotin orang kan beres," jawab pria itu.


omongan mereka makin melenceng jauh, terlebih Arip dan Ripin memang paling semangat kalau ngomongin begituan.


saat Sari sedang suntuk di toko, kebetulan ada mbak Wati yang lewat sedang jualan jamu.


"jamu seger... ibu ibu jamu...." teriak wanita itu.


"mbak Wati jamu!" panggil Sari yang keluar dari toko miliknya.


"aduh mbak Sari, mau jamu apa ini, sehat wanita lagi sama bersih darah?" tanya mbak Wati


"gak mbak, minta jamu kunyit asem sama gepyok ya," kata sari.


"loh tumben kok jamu adem-ademan mbak, biar makin subur ya?" tanya mbak Wati heran


"iya mbak ... itu mumpung mas Nanang sudah pulang jadi sekarang harus merawat tubuh," jawab Sari malu.

__ADS_1


"walah gitu ya, gak mau coba jamu Jambe muda atau jamu macan kerah mbak, biar rapet dan makin di cinta suaminya," kata mbak Wati menawarkan.


"gak berani mbak, soalnya kata ibu dulu, jamu itu boleh di minum kalau sudah punya anak," jawab Sari


"ha-ha-ha iya, kan masih manten baru,jadi mau beli berapa botol mbak?"


"satu botol sedang saja mbak," jawab Sari tersenyum.


saat Sari dan mbak Wati masih berbincang, Mbak Lulu istri dari Arip datang mau belanja.


"makanya di tunggu belum lewat, ternyata nyangsang di sini, jamu macam kerah neng, bawa kan?" tanya mbak Lulu.


"ya bawa dong, biar suaminya makin nempel ya?" ledek mbak Wati.


"itu sudah tau, mbak Sari saya mau beli sabun dai* yang satu kilo sama telurnya setengah kilo ya neng," kata Mbak Lulu.


"iya mbak, tunggu saya ambilkan," jawab Sari dengan sopan.


"wah tumben nih, para istri dari teman ku ngumpul semua, mbak Sari kopi hitam satu dong," kata Fendi yang kebetulan baru mengurus tanah yang kemarin Sari beli.


"loh mas Fendi, sini gak mau beli jamu saja tha," kata mbak Wati menawarkan.


"terus kalau sudah kuat buat apa, orang gak ada yang di kelonin ini, masak arep jajan ya gak deh kotor tau hih..." kata Fendi tertawa menanggapi kedua wanita itu.


"habis dari keempat teman sejawat ini cuma mas Fendi loh yang belum menikah, apa perlu saya bantu Carikan gadis yang cantik dan pintar goyang?" tanya mbak Lulu.


"mas Fendi mah suka ngelawak, memang siapa sih yang di tunggu, orang banyak gadis desa yang suka dengan mas loh," kata mbak Wati.


"saya loh masih belum ingin menikah, masih umur dua lima ini, lagian saya belum siap ngempanin anak orang, wong pekerjaan saja masih Luntang-lantung gini," kata Fendi.


"mas Fendi terlalu merendah, bukannya sekarang sudah jadi makelar yang sukses," kata Sari yang membawa kopi dan belanjaan dari Mbak Lulu.


"makelar kalau sedang ada job neng, kalau sepi ya pengangguran," jawab Fendi.


"kenapa tidak ikut juragan Wawan saja, lumayan loh, lihat mas Ripin sekarang bisa buat rumah dan beli motor meski bekas," kata mbak Wati.


"saya suka begini, eh tadi aku dengar kalian bahas apa sih kok rame sekali?" tanya Fendi penasaran.


"bahas urusan dapur, mas Fendi mana ngerti, makanya nikah dulu biar tau dan merasakan goyangan maut," kata mbak Lulu semangat.


"kalau maut, baru nikah aku mati dong, ha-ha-ha," saut Fendi yang membuat mereka semua tertawa.


"eh iya, mbak Sari Lusa ikut kondangan apa tidak? soalnya yang saya dengar mbak Azila yang nikah ini itu mantan mas Nanang loh," tanya mbak Lulu.

__ADS_1


"mantan apa, mantan juragan, orang Nanang dan Azila tidak pacaran, cuma..." kata Fendi yang menyeruput kopi.


"cuma?" tanya Sari penasaran.


"ih kepo... cuma teman biasa atuh neng, sudah kalau repot gak usah datang, orang aku saja males kok," kata pria itu.


"alah mas sih emang orangnya saja males ke kondangan, takut di jodohkan oleh teman-temannya karena dari satu angkatan cuma mas Fendi yang belum menikah bukan," kata mbak Wati.


"kok tempe sih, ah... gemes deh," kata Fendi dengan gaya kemayu


"ih geli..."


semuanya pun tertawa senang. Fendi pun selalu bisa mencairkan suasana.


terlebih ada tujuan utama dalam tingkahnya yang jail, untuk melihat sesuatu.


pukul dua belas siang, sari sudah menutup tokonya sementara untuk istirahat sholat dan makan.


kebetulan Nanang juga sudah pulang dari kandang sapi, Sari batu selesai sholat.


sedang Nanang terdengar masih mandi, dia pun bergegas menyiapkan makan siang.


"kamu sudah sholat?"


"sudah mas," jawab Sari.


Nanang pun bergegas ke area kamar khusus untuk sholat, setelah itu dia pun makan siang bersama istrinya.


selepas makan, Sari sedang menghitung dan melihat buku catatan apa yang habis dan harus di beli.


Nanang duduk di belakang Sari dan memeluknya, bahkan pria itu sudah mengecup tengkuk Sari.


"mas masih siang..." lirih Sari yang tak bisa menolak suaminya.


"tapi aku ingin dek, tapi kita lakukan seperti yang di film ya, biar kamu juga bisa dan pintar," kata Nanang berbisik.


Nanang merebut buku catatan Sari dan membuangnya asal, dan dia meminta istrinya itu fokus untuk menonton film yang sedang di putar.


melihat adegan di depannya, dari malah berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya.


Nanang pun kaget melihat reaksi dari istrinya itu, terlebih biasanya wanita akan terbawa suasana.


ini malah kebalikannya, dari malah seperti orang jijik, "kamu tak apa-apa dek?" tanya Nanang khawatir.

__ADS_1


"maaf mas, aku jijik melihat gambar tadi," kata Sari.


Nanang hanya bisa tersenyum, sepertinya keinginannya untuk bisa berbagai gaya pun kandas.


__ADS_2