
Sari dan juragan Wawan kini sedang berada di kafe yang cukup bagus, terlihat suasana juga sangat santai.
"jangan merokok sayang, kamu ingin mati muda," bisik Sari.
tapi juragan Wawan malah tertawa, sari pun hanya tersenyum saja melihatnya.
dia pun melihat pertunjukan dari sebuah band, dan dia batu sadar jika nama kafe itu adalah Fajar subuh.
"ah ini kafe pria aneh tadi," batin Sari.
makanan yang di pesan pun datang, dan rasanya sangat enak dan cocok untuknya meski baru cemilannya.
tapi dari kejauhan dia kaget melihat seseorang, "sayang bukankah itu Dian dan siapa pria itu?"
juragan Wawan menoleh dan mengangkat tangannya, "Japar!!" panggil pria itu.
Sari kaget karena suaminya itu, dan kedua orang itu pun menghampiri meja mereka.
"kalian disini, ada pekerjaan," kata juragan Wawan.
"ya ada sedikit pekerjaan dan karena foam ingin membuka cabang cafe jadi aku membantunya untuk mencari orang yang tepat," kata pria itu dengan ramah.
"sekarang kamu terlihat lebih bahagia ya," puji Sari yang memang tau jika temannya itu juga baru saja mengalami perpisahan
"kita harus survive kan, lihat sekarang kamu juga bisa bahagia dengan suami baru," kata Dian menggoda temannya itu
"hei nona, jangan membuat ku malu, kamu juga harus bahagia dengan mencari orang yang tepat untuk jadi teman hidup mu bukan," tanya dari.
"iya, tapi untuk sekarang tidak dulu karena aku ingin fokus mengerjakan usaha milik ku," jawab gadis itu.
"baiklah sekarang pesanan kita datang bersamaan, silagkan makan dan Japar aku ingin membahas sesuatu dengan mu, jadi kita nanti keliling bersama saja ya," kata juragan Wawan.
"boleh pak, lumayan aku bisa dapat investor gratis ini," jawab Japar.
saat mereka berempat makan, Fajar mengenali wanita yang tadi dia ajak bicara di mini market, tapi dia hanya melihatnya dari jauh
bagaimana pun sekarang Sari sedang bersama seorang pria dan mereka terlihat mesra.
__ADS_1
"dia kelihatan sangat bahagia dengan suaminya," gumam pria itu.
setelah makan mereka pun pergi bersama, mereka menuju ke daerah taman kota dan memilih ngopi di pinggir jalan.
"jadi aku dengar kamu butuh bantuan dana untuk usaha mu, aku bisa memberikan berapa pun yang kamu minta, tapi dengan syarat kamu harus jadi rekan bisnis istriku," kata juragan Wawan
"tak masalah, tapi juragan kan tau jika saya itu cuma pabrik tahu coklat, memang usaha dari mbak juragan ini apa?" tanya Japar heran.
"saya mau buka waralaba tahu ranjau dan tahu bakso, lumayan sudah ada tiga orang yang siap menjadi pegawai, jadi nanti sampean kirim tahu ke rumah untuk di buat tahu ranjau," kata Sari.
"baiklah, itu sih beres," jawab Japar.
akhirnya karena sudah cukup malam mereka berpisah, beruntung hotel yang mereka tempati tak jauh dari taman kota jadi mereka memilih berjalan kaki.
di rumah juragan Wawan, Yuni kaget melihat mbok Jum yang ada di rumah, "loh mbok kok gak pulang, memang ayah dan mama belum pulang juga?" tanya Yuni
'yafi juragan telpon anak mbok, beliau bilang jika mereka sedang liburan berdua, jadi mbok di minta untuk menemani neng Yuni," jawab wanita itu.
"apa, mereka sedang liburan, kenapa bisa seperti itu, setelah apa yang terjadi," gumam Yuni yang merasa kesal.
"apa maksudmu aku tak mengerti," kata Yuni.
"kamu tak mengerti atau tak mau mengerti, tadi memaksa ayah yang dari awal tak mau bertemu ibu mu, bahkan sampai ada kejadian pelukan itu, jika kamu di posisi mana Sari apa yang akan kamu lakukan, jangan lupa perbuatan apa yang sudah di lakukan oleh ibu mu Yuni," kata Farid
"jadi sekarang kamu menyalahkan aku dan ibu ku bukan pembunuh," marah Yuni.
"lebih baik kamu tidur, dan aku tak akan menghubungimu sebelum kamu sadar atas butanya dirimu dengan apa yang di katakan oleh ibu mu dan kakak mu itu," kata Farid yang memilih pergi.
Yuni pun marah kenapa harus seperti ini, sedang Farid merasa jika sikap Yuni sangat keterlaluan setelah semuanya.
padahal dia seharusnya tau jika semua yang dilakukan oleh Nanang dan Bu Wiwit semua itu palsu.
dia sadar saat melihat sari yang bertengkar dengan juragan Wawan, Nanang mengulas senyum tipis, itu menunjukkan bahwa semuanya itu benar.
sedang untuk Bu Wiwit yang di katakan sedang sakit, tapi seperti orang sehat, bahkan wanita itu sempat marah saat melihat Sari pergi bersama juragan Wawan.
"ah... keluarga Yuni sangat ribet, dan gadis itu selalu saja keras kepala," gumam Farid.
__ADS_1
sedang Yuni lun ketiduran karena dia juga sudah lelah, di kamar hotel dia pasangan itu sedang menikmati waktu mereka.
sekarang Juragan Wawan sedang menikmati servis terbaik istrinya. bahkan dia sampai tak tahan melihatnya dan memutuskan memacu dengan cepat.
mereka pun tidur berdampingan setelah puas, sari pun memiringkan tubuhnya dan memeluk suaminya itu.
"ada apa sayang, wah... kali ini rasanya bisa bebas, terlebih suaramu itu membuatku bersemangat,"
"setidaknya kamar ini kedap suara, dan kita tak harus menyembunyikan dan tak enak dengan seseorang." jawab Sari yang tersenyum saja.
"sekarang kita tidur dan besok mau pulang atau pindah ke Bali?" tawar juragan Wawan.
"pulang saja, karena aku ada beberapa seminar besok bersama ibu-ibu PKK di balai desa karena Dewi yang mengundang ku," kata Sari.
"baiklah kalau begitu besok kita pulang pagi-pagi ya," jawab juragan Wawan.
mereka pun beristirahat, benar saja pukul empat pagi mereka sudah berada di perjalanan pulang mrngunakan jasa travel hotel.
sesampainya di rumah pukul setengah enam pagi karena tadi sempat berhenti beberapa kali untuk belanja dan membeli sarapan.
juragan Wawan kembali tidur, sedang Sari membuat contoh beberapa produk olahan dari ikan lele.
beruntung mbok Jum membantunya hingga dia tak kesulitan, bahkan tulang dari ikan itu bisa di buat kerupuk.
semua produk sudah jadi, dan nanti jam sembilan dia akan menuju ke kantor balai desa.
Dewi sebagai pelaksana acara mengirimkan pesan pada Sari agar temannya itu tak lupa.
Sari masuk kedalam kamar dan melihat suaminya yang masih bergulung dengan selimut.
"bangun mas ku sayang, ini sudah jam setengah delapan, mau sampai kapan mas tidur," tanya Sari mengecup bibir suaminya.
juragan Wawan langsung menahan tengkuk istrinya itu dan mulai ******* bibir wanita itu.
"hentikan kamu bisa bablas lagi, sudah nanti makin siang ke gudangnya," kata sari yang sudah selesai memasak.
"baiklah nyonya," jawab pria itu.
__ADS_1