
Fendi memasang wajah yang tak bisa di terka reaksinya, "kalian sudah datang, ayo masuk," kata sari melepaskan genggaman tangan juragan Wawan.
dia mengajak Dewi masuk untuk mencicipi makanan yang sudah siap, tapi Dewi menolak jadi Sari memberikan bingkisan saja pada Dewi dan Fendi.
sedang di luar, terlihat Fendi yang menatap juragan Wawan dengan penuh arti, "kenapa anak muda,kamu marah padaku, kenapa?" tanya juragan Wawan dengan suara sedikit tengil.
"kamu dan putra mu itu sama saja, sama-sama pria tak tau malu," ledeknya.
"bung, jika kamu tak bisa memilikinya relakan, jika kamu tak melakukannya kamu sendiri yang akab rugi," kata juragan Wawan tersenyum sambil menepuk bahu Fendi.
dia tak mengira jika juragan Wawan dan putranya itu sama-sama pria menyebalkan.
Dewi sudah keluar dan menerima pembayaran secara full dari Sari, "terima kasih ya, kacang salutnya enak banget loh Wak, kapan-kapan aku pesen lagi ya,"
"di tunggu ya, oh ya tadi ada bonus permen ting-ting kacang, bukankah kamu suka itu?" tanya Dewi.
"ah itu dulu, sekarang aku sedikit menghindari gula, biar tak gila," kata Sari,
"ya sudah kami pamit ya,"
Sari berdiri di samping juragan Wawan, Fendi pun tersenyum ke arah Sari, dan gadis itu membalasnya.
tapi tanpa terduga juragan Wawan malah merangkul Sari dan tertawa bersama.
pukul empat sore sari meminta semua ibu-ibu yang dari pagi rewang untuk berganti baju.
karena nanti semua harus terlihat cantik, dan ada yang khusus bagi dapur juga mendapat seragam sesuai permintaan juragan Wawan.
Sari sedang memakai make-up di kamar Yuni, "ma.. kenapa tidak di kamar sebelah lebih luas loh," tegur gadis itu
"kau gila, jika aku di terkam ayah mu bagaimana, jangan bikin orang naik darah oke," kata sari yang masih memakai legging hitam tebal dan juga atasan batik.
"mbak masak pakai itu saja, gak pantes dong," kata tukang rias itu.
"tenang mbak, aku pakai ini karena belum selesai make up, nanti juga akan kain jarik kok," jawab mereka.
pukul lima sore Nanang sampai bersama Azila, keduanya datang membawa kado.
juragan Wawan nampak menyambut keduanya, "ayo masuk Yuni sedang di rias, dan kalian sudah menikah?" tanya juragan Wawan.
"sudah ayah," jawab Nanang.
__ADS_1
"tunggu setahuku suaminya bukannya baru meninggal empat bulan yang lalu," tanya juragan Wawan menunjuk Azila.
"ya setelah itu aku langsung menikahinya," jawab Nanang
"bocah bodoh, masa Iddah wanita ketika di tinggalkan suaminya jika hamil adalah sampai melahirkan, kenapa kamu sudah menikah, dan bayi ini, ya tuhan," kata juragan Wawan merasa Nanang begitu bodoh.
"ayah sia hamil anak ku yah,jadi tak masalah, buktinya kami juga bisa mendapatkan surat, jadi tolong jangan ikut campur, dan aku kemari ingin bertemu dengan Yuni."
"terserah padamu, kalau begitu ajak dia masuk," kata juragan Wawan yang terlanjur kesal.
"Sari... ada tamu jauh, apa Yuni sudah selesai?" tanya juragan Wawan mengetuk pintu kamar Yuni.
"sudah tunggu sebentar, ya Tuhan gadis ini bikin emosi,aku cekik kamu," kata sari yang sedang bercanda.
"ya Allah!! dua gadis ini bikin emosi kok dari tadi!" kata perias itu.
Sari keluar dengan setelah baju yang cukup mengejutkan,yaitu memakai baju batik sarimbit dengan juragan Wawan.
"oh mas Nanang, silahkan masuk minggir atuh ayah..."usir sari mendorong juragan Wawan.
"kenapa memangnya," goda juragan Wawan.
"itu sempit, kamar Yuni penuh, silahkan masuk oh ya mbak Azila minta bedak ya biar tidak sawan, habis Yuni itu cantik banget," kata sari dengan ramah.
mendengar itu, juragan Wawan menarik Sari, "sudah sapa adikmu,dia terus mencarimu,"
"kita urus dekorasi di luar," kata juragan Wawan.
ternyata Semuanya sudah siap dan tertata rapi, "mas Nanang..."
Yuni pun begitu bahagia memeluk kakaknya itu,Nanang juga tak mengira pertunangan Yuni bisa seperti ini.
"selamat ya dek,oh ya ini hadiah dari mbak mu," kata Nanang.
" terimakasih... kapan datang, sudah makan, lihatlah Sari yang menyiapkan semua ini, bahkan dia yang membantu ayah untuk bangkit dan aku juga," kata Yuni bahagia.
"itu bagus dek, itu bagus..." kata Nanang.
dia dan Azila menunggu di ruang tamu, setelah selesai bersiap, Yuni menemui kakaknya itu.
sedang di luar Sari masih melihat kesiapan, setelah selesai dia menyuruh juragan Wawan untuk masuk, "ayah duduk bersama mereka biar aku ambilkan makanan,"
__ADS_1
"tapi..."
"aku bilang duduk!" kata Sari dengan tegas.
"baiklah aku duduk," jawab juragan Wawan.
Sari keluar di bantu seorang ibu untuk menyediakan makanan untuk mereka, "Yuni makan juga kamu tadi belum makan, jangan sampai saat acara kamu pingsan,"
"gak mau ah, nanti lipstiknya luntur," kata Yuni tersenyum.
"aku suapi, dan mas Nanang serta mbak Azila sekecaaken," kata Sari.
Azila pun merasa geli melihat Sari, bagaimana wanita yang tak memiliki hubungan apapun bisa bersikap sebagai nyonya rumah.
"seharusnya bukan kamu yang menyiapkan acara ini bukan, seharusnya ini adalah tugas ayah mertua dan mas Nanang yang paling berhak," ejek Azila.
"berhenti membuat ulah, sudah ku peringatkan," kata Nanang tak suka.
"kenapa, bukankah itu benar, lihatlah dia begitu mengatur segalanya seperti dia pemilik semua ini," kata Azila.
"hei mbak yang tak di akui, aku sebenarnya dari awal tak menyukai mu, terlebih kamu sekarang hamil anak mas Nanang dan merasa jadi menantu keluarga ini,ngaca mbak," kata Yuni tak suka.
"Yuni..."
"memang benar aku istri Nanang,jadi aku menantu keluarga ini," kata Azila.
"tapi jamu batu saja menghina calon ibu mertua mu,dan aku tak akan segan mengusir mu," kata juragan Wawan.
"apa, calon ibu mertua?! wah hebat, setelah di buang putra keluarga ini,kamu menggoda ayah mertua, wah hebat," ejek Azila.
"setidaknya aku bukan perebut suami orang,hingga dengan bangga menunjukkan kehamilan ku di depan semua orang dan mengatakan itu anak mas Nanang,saat suami sah mu baru meninggal tiga bulan lalu,jadi sekarang itu anak siapa suamimu atau selingkuhan mu," kata Sari dengan senyuman.
Yuni dan juragan Wawan ingin sekali tertawa,sekarang Sari sekali bicara bikin orang diam.
"apa maksud mu," marah Azila.
"Nanang," tefir juragan Wawan.
"Azila tenangkan dirimu atau aku akan menyuruh seseorang mengantarkan mu pulang," marah Nanang mencengkram erat tangan istrinya itu.
pasalnya Azila tak bisa menjaga sikap,di depan juragan Wawan, padahal Nanang ingin bisa mendapatkan kepercayaan pria itu lagi.
__ADS_1
"sudah silahkan menikmati makanannya, pasti lapar kan ini tak ada obat perangsangnya kok, jadi aman," kata Sari yang sudah tau Semuanya.
Nanang kini baru melihat sosok Sari yang berbeda, bukan istrinya yang dulu, tapi wanita muda,kuat dan tegas,bahkan cantik.