
"kamu itu cuma pembantu, jangan berlagak ya," jawab Bu Wiwit.
"aku memang pembantu,tapi aku lebih baik dari pada kamu, cih..."
"maaf cepat pergi dari sini atau kami tak segan berbuat kasar, pergi!!" bentak pak Paiman.
Bu Wiwit pun merasa malu, kedua itu masuk kedalam rumah, Bu Wiwit tak mengira jika mantan suaminya itu membelikan rumah yang begitu besar pada Sari.
"seharusnya dulu aku membunuhnya juga bersama Adelia, dasar wanita sialan..."
diapun pergi dari rumah mewah itu, dia sampai di sebuah warung tempat Nanang berhenti ngopi.
"kamu kenapa mengajak ibu ketemu disini, lebih baik ayo pulang daripada disini," ajak Bu Wiwit.
"tidak Bu, aku ingin disini karena aku tak mengira ternyata Sari bisa hamil," kata Nanang tak terima.
tak sengaja pak lurah dan beberapa orang juga datang ke warung Mbak Susi itu.
"wah lihatlah, kedua orang yang tak tau malu setelah membuat kehebohan besar,mau apa ke desa ini,di sini anda sudah tak di terima," kata pak lurah.
"apa maksudnya pak lurah kami di sini takdir terima, ini bukan hanya desa milik mu, tapi ini tempat umum," saut Nanang.
"memang ini desa tempat umum, tapi kami semua setuju satu desa tak ingin melihat penjahat seperti kalian jadi silahkan pergi," usir pria itu.
"lihat saja nanti, kami pasti akan melakukan balas dendam dengan perlakuan kalian ini,"
sore itu keduanya pergi dari desa itu, sedang pak lurah heran kok masih ada wanita tak tau malu seperti mereka.
Sari melihat ketiga orang yang sekarang berada di depannya, "jadi kalian ini juga menjaga ku juga, atau bagaimana?"
"iya bik, sebenarnya karena juragan tak mau anda kesepian terus berurusan dengan mereka," jawab Mbak Tunah.
"baiklah terima kasih atas kejujurannya, oh ya mungkin besok akan mulai ada yang datang dan mulai produksi di sini?" kata Sari.
"loh ibuk belum tau ya, juragan sudah memberikan rumah produksi sendiri tak di rumah ini," jawab mbak Jum
"ow seperti itu, baiklah kalau begitu saya mau ke dalam dulu ya," pamit Sari yang ingin istirahat.
sedang ketiganya langsung kembali membersihkan rumah dan pak Paiman menunggu waktu pergantian penjaga.
juragan Wawan datang membawa kotak-kotak tempat makanan yang tadi di berikan oleh sari.
tak lupa sebelum masuk rumah, pria itu membersihkan rumah terlebih dahulu.
__ADS_1
"assalamualaikum..." salamnya langsung masuk rumah.
"waalaikum salam mas," jawab Sari memeluk suaminya dan mengambil kotak makan kotor itu.
."ya Allah... akhirnya di rumah, pekerjaan ku rasanya tak ada habisnya," kata juragan Wawan.
"kenapa kok gitu, memang mas kerjain sendiri kan tidak, memang ada apa, cerita dong," tanya Sari.
"sudahlah tak ada yang menarik, kamu sendiri bagaimana di rumah?"
"aku bosan mas, jadi bolehkah aku ke tempat produksi milik kita?" tanya Sari memohon
"maaf kamu tak boleh kalau mau ikut produsi, tapi kalau mengawasi boleh, besok ajak kedua mbak menemanimu, tapi bagaimana dengan makan siang ku, pasti kamu akan sangat sibuk kalau begitu," kata juragan Wawan yang mencoba membuat istrinya menyerah.
"iya juga ya mas, baiklah nanti lihat besok saja," jawab Sari.
"juragan kami ingin pamit pulang, tugas kami sudah selesai, tadi Bu Wiwit sempat kesini tapi saya usir," pamit mbak Tunah.
"bagus, karena saya tak mau mereka mendekati rumah ini," kata juragan Wawan.
keduanya pun pamit, kini giliran jaga adalah mang Joko, dia adalah suami mbak Tunah.
juragan Wawan mengatur mereka untuk berjaga saling bergantian, dua hari sekali berjaga malam.
malam ini mereka berdua memutuskan untuk pergi ke kota untuk belanja, kebetulan satu tak memiliki daster untuk hamil.
mereka memilih daster, tapi juragan Wawan malah menunjuk gaun malam.
"sayang beli itu ya,"
"apa? mas aku punya banyak di rumah, aku butuh daster untuk di gunakan kalau siang, aku sekarang sering merasa gerah dan tak nyaman," kata Sari.
"baiklah, tapi itu dua boleh," kata juragan Wawan yang tetap kekeh.
"baiklah terserah mas saja, wong yang bayar juga mas kok," jawab Lily tertawa.
setelah itu juragan Wawan membeli beberapa setelan untuk bekerja karena beberapa celana kempol sudah banyak yang sobek bagian bawah.
Sari mengambilkan daster untuk dua asisten rumah tangganya juga, setelah membayar mereka turun sekalian belanja bulanan.
Sari membeli semua jenis perbumbuan botol, bahkan dia juga mengambil berbagai jenis mie instan dan sarden kaleng, tak lupa makanan Frozen food juga.
"sudah atau mau kemana lagi?" tanya juragan Wawan.
__ADS_1
"sudah, sekarang ayo pulang mas, tapi sebelum itu ajak aku makan ya, aku laper nih," kata Sari tersenyum.
"baiklah ayo kita makan di restoran enak," jawab juragan Wawan.
Sari benar-benar di manjakan oleh suaminya itu. bahkan apapun permintaan dari Sari pasti langsung di turuti.
tapi hal ini berbanding terbalik dengan Azila,sekarang dia menempati posisi Sari.
pasalnya wanita itu sekarang persis seperti pembantu, selain mengurus putra semata wayangnya, dia juga harus membersihkan rumah.
"Azila ambilkan air untukku dan ibu!!" teriak Nanang.
Azila pun datang dengan air dingin, "dasar wanita lelet,kamu ini kemana saja," bentak Bu Wiwit.
"kalian itu yang kemana saja, kenapa baru pulang padahal pernikahan dari Yuni sudah berlalu beberapa hari yang lalu, kalian sudah bersenang-senang di sana? apa kamu mencari ***** lain disana!" marah Azila.
"tutup mulutmu Azila!" bentak Nanang menampar pipi Azila
"kamu berani memukulku, dasar pria mandul!!"
Azila pun pergi ke kamarnya, dia tak mengira pria yang dia idam-idam untuk menjadi suamimu, malah begitu kasar saat ini, bahkan pria itu tak segan menamparnya.
inilah yang dia dapatkan, dia dulu tak percaya dengan apa yang di katakan oleh Adelia.
"sekarang aku merasakan menjadi sari, ya Allah tolonglah aku, bagaimana aku harus bisa melarikan diri bersama putra ku, jika semua uang ku di kuasainya," gumam Azila.
akhirnya dia ingat ada obat tidur di laci meja kamarnya, dia pun memiliki ide gila saat ini, tapi dia akan melaksanakannya mungkin segera.
"jika aku tak bisa lepas, setidaknya aku harus membuat mereka tak bisa menyakiti anak ku," gumam azila melihat bayinya.
"lihat Nanang, istri mu itu makin berani, seharusnya kita membuatnya mati saja, toh bayi itu juga bukan milik mu karena ibu sudah muak melihatnya," kata Bu Wiwit.
"ibu diamlah, jangan mengatakan hal gila, bagaimana aku membunuhnya jika semua belum menjadi milikku karena semua harta yang kami bawa sedikit bermasalah," kata Nanang.
"dasar tak berguna, aku membesarkan mu bukan menjadi pria bodoh Nanang!"
"aku bilang cukup, lebih baik ibu di kamar dan jangan membuatku marah," kesal Nanang menyeret dan menarik ibunya ke kamar dan menguncinya.
Nanang pun langsung masuk kedalam kamar miliknya dan ternyata Azila tak ada di sana.
saat Nanang sedang berganti baju, Azila langsung memukul kepala Nanang dengan rolling pin yang terbuat dari kayu.
setelah itu menusuk dada kiri Nanang tepat di jantungnya dan dia mengulanginya berkali-kali.
__ADS_1
"mati kau binatang!!" teriak Azila dengan membabi buta.
Nanang pun akhirnya pasrah meregang nyawa di tangan istrinya yang sudah kerasukan setan.