aku istrimu, bukan pembantumu

aku istrimu, bukan pembantumu
bukan mimpi


__ADS_3

juragan Wawan kembali menenggak minuman yang dia bawa hingga habis.


dan alkohol itu memang sangat baik dalam bekerja, dia yang melihat Adelia di sampingnya kembali mencumbu wanita itu.


akhirnya dia melakukannya lagi dan lagi, bahkan entah berapa kali dia menumpahkan benihnya.


setelah itu dia pun tertidur pulas dengan nyaman, dan merasa tubuhnya sangat kelelahan.


dering ponsel membangunkan juragan Wawan, dia mencari asal suara itu, dan mengambil ponselnya yang ada di sampingnya.


"iya halo, ini siapa?" tanya juragan Wawan.


"ayah kemana, kenapa sudah jam sembilan malam, ayah tak pulang sih, aku sendirian," kata Yuni yang di sebrang telpon.


padahal Yuni sedang berada di rumah Farid kekasihnya, tapi dia sadar karena juragan Wawan yang tak menelponnya.


"ah maaf, sepertinya ayah akan tidur di tempat Adelia, kamu tak apa-apa kan?" tanya juragan Wawan.


"baiklah, aku akan meminta mbok Jum tidur di rumah kalau begitu," kata yuni yang langsung menutup telponnya.


sedang juragan Wawan menoleh dan tak mendapati siapa pun di sampingnya,bahkan rumah itu gelap gulita.


dia pun bangkit dan menyalakan lampu, dia melihat ranjang yang berantakan.


dan dirinya yang hanya mengenakan ****** *****, "apa aku bermimpi, apa aku melakukannya dengan setan tadi, ah sialan... aku tak ingat apapun karena minuman keras itu," kesal juragan Wawan yang kembali memilih tidur.


mungkin dia hanya halusinasi karena terlalu merindukan sosok Adelia, jadilah otaknya bekerja dengan aneh.


Yuni merayakan hari ulang tahun Farid di rumah pria itu, tadi Yuni datang membawa kue.


dan beruntung gadis itu sangat di terima baik oleh keluarga Farid, "terima kasih ya nduk, kamu sampai serepot ini hanya untuk ulang tahun pria yang sudah tua ini," kata ibu Farid.


"tidak apa-apa Bu, karena saya hanya ingin merayakan hari baik ini bersama keluarga ini," kata Yuni.


"baiklah, aku antar ya?" tawar Farid dengan lembut.


"ah tapi aku membawa mobil, masak iya kita jadi kayak pawai karena saling mengikuti?" kata Yuni tak enak.


"tapi aku tak ingin jika kamu akan sendirian menuju rumah, terlebih di jalanan sekarang cukup menghawatirkan."


"baiklah kalau begitu, aku akan menurut pada mu mas," jawab Yuni.

__ADS_1


"kalau begitu, ibu saya pamit ya," kata Yuni mencium tangan wanita itu.


"iya nduk, titip salam untuk ayah mu juga ya," kata ibu Farid.


"ibu jangan gitu, aku marah loh," kata Farid.


Yuni hanya tersenyum, pasalnya semenjak juragan Wawan menduda, memang banyak orang yang ingin mendekatinya.


bahkan tak hanya wanita matang, bahkan anak SMA yang mungkin hanya demi uang.


tapi sepertinya Yuni akan tenang karena ayahnya itu tak akan mudah melupakan sosok dari Adelia.


terbukti setelah sebulan pun pria itu masih berduka seperti ini,kini Yuni dan Farid pergi mengunakan mobil sendiri-sendiri.


malam itu Yuni pun benar-benar merasa bahagia, terlebih hidupnya yang kembali tertata berkat sari.


keesokan harinya, Yuni bersiap untuk ke kampus, mbok Jum sudah memasak sayur bening.


"pagi mbok, wah sarapan sayur bening ini, ah jadi inget sari nih," gumam Yuni.


"iya neng, ini semua dulu kesukaan mbak Sari, apalagi kalau ibu membuat ayam goreng Kalasan pasti akan meminta seseorang mengirimkan ke rumah mas Nanang," kata mbok Jum.


"iya halo?" tanya Sari dengan suara serak.


"loh kamu kenapa, kamu sakit ya? kok suaramu sangat serak?" tanya Yuni penasaran.


tanpa di sadari gadis itu, juragan Wawan baru pulang dari rumah Adelia dan duduk di sampingnya.


"siapa?" tanya pria itu lirih.


Yuni langsung menyalakan speaker ponselnya agar ayahnya bisa mendengar suara sari.


"iya nih, sepertinya aku kelelahan karena senam dan terlalu sibuk, jadi aku mau istirahat dulu," kata sari dengan lemah.


"minum vitamin, atau perlu ayah ambilkan madu untuk mu,kebetulan tadi orang perkebunan telpon jika hari ini panen madu," kata juragan Wawan yang nimbrung bicara.


"ah ayah... tidak usah, mungkin aku saja yang terlalu memaksakan tubuhku, mungkin dua hari cukup untuk ku beristirahat, ayah dan Yuni tak usah khawatir," kata Sari.


"baiklah, Sari ayah minta tolong bilang kepada bapak mu untuk menyiapkan sawah yang mau di tebas, soalnya ayah terlpon tidak bisa di hubungi ponselnya," kata juragan Wawan.


"iya ayah, kalau begitu dari tutup telponnya ya," pamit wanita itu yang menutup teleponnya.

__ADS_1


"sepertinya dia benar-benar sakit,bahkan suaranya begitu lemah ya ayah?"


"iya kamu benar, kalau begitu biar dua madu yang ada di rumah,ayah berikan padanya ya, kamu gak keberatan kan Yuni?" tanya juragan Wawan.


"tentu ayah, karena dia sudah sangat baik padaku,bahkan dia yang saat membutuhkan di banding aku," kata gadis itu.


Sari pun bangun dan melihat dirinya, dia pun hanya bisa meneteskan air mata karena tak sanggup.


beruntung tak ada yang curiga, dan dia pun memutuskan untuk keluar dari kamarnya.


"bapak!" panggil Sari yang berjalan ke arah dapur.


"loh kamu ini lagi sakit kok keluyuran," tegur Bu Menuk yang melihat Sari berjalan.


"itu Bu, tadi ayah Wawan telpon ingin bapak mempersiapkan sawah yang mau di tebas, karena beliau mau datang," kata Sari dengan suara lemah.


"ya sudah, kamu kembali ke kamar, biar ibu yang bicara pada bapak mu, pasti pria tua itu lupa tak membawa ponselnya," kata Bu Menuk yang langsung pergi.


Sari pun memilih kembali ke kamar, dan beristirahat karena tubuhnya benar-benar sakit.


juragan Wawan sampai di sawah mantan besannya,dia dan pak Wasis bersalaman.


banyak orang yang tak mengira jika kedua pria yang sudah tak menjadi besan itu bisa bersama dan begitu harmonis.


"jagungnya sangat bagus, pakai pupuk apa? bukankah pupuk sentrat di batasi penjualannya?" tabya juragan Wawan.


"iya mas, memang sekarang pupuk mulai di batasi penjualannya, jadi aku beralih ke pupuk organik, jadi sekalian buat tanahnya bagus," kata pak Wasis


"wah begitu rupanya, memang pupuk organiknya beli dimana? kok aku tak pernah dengar ada yang jual pupuk begitu?" tanya juragan Wawan penasaran.


"anu mas tidak beli, tapi buat sendiri, dari campuran sampah sayur dan kotoran sapi serta ada bibit kompos juga, dan tak lupa tetes tebu yang di jual itu loh," kata pak Wasis.


"owalah, siapa yang mengajari mas Wasis mengunakan pupuk organik seperti ini?" tanya juragan Wawan.


"ini juga uji coba atas permintaan dari Sari, dan karena hadil panen bagus, sepertinya saya akan terus mengunakan pupuk ini," kata pak Wasis yang terlanjur suka.


"wah boleh di coba nih tapi bukan untuk sawah, melainkan untuk kebun buah jeruk milik saya, boleh geli gak mas?" tawar juragan Wawan.


"gak usah beli mas Wawan,saya kasih dua jirigen, kalau nanti butuh banyak, saya bisa mengajari mas buatnya," kata pak Wasis.


"wah terima kasih."

__ADS_1


__ADS_2