
Nanang masih tidur dengan memeluk sari, "mas sudah subuh," bisik Sari yang ingin mulai beraktivitas.
"tenanglah dan jangan berisik, aku masih ingin tidur," jawab Nanang.
Sari pun memeluk tubuh Nanang lagi kemudian, pria itu terbangun dan melihat istrinya.
mereka pun kembali melakukan aktivitas pagi hari, setelah itu mereka pun sholat berjamaah.
baru setelah itu Sari mulai menggoreng semua jualannya, sedang Nanang memilih membersihkan halaman depan.
dia tak mengira jika dari mengunakan cara itu untuk membujuknya.
ya amarah Nanang sudah reda Sekarang, gadis itu pun keluar dengan semua gorengan panas yang baru matang.
"mas nanti kalau Bu umi datang, tolong di kasihkan yang tiga kotak ini ya, aku mau ke dalam dulu," kata dari menghampiri Nanang.
"memang itu pesenan apa dek, kok banyak amat? memang ada hajatan?" tanya Nanang heran.
"itu risol, lumpia, sama lemper, katanya buat acara buka arisan, aku juga di tawari sih, seminggu seratus ribu, dapatnya sekitar sepuluh juta, kira-kira boleh ikut gak mas?" tanya Sari.
"ikut saja, kamu sudah pintar cari uang kok, tapi aku harus dapat jatah lebih ya," bisik Nanang yang memeluk tubuh Sari.
"memang jatah apa, orang setiap malam mas juga sudah dapat, sudah aku mau buatkan sarapan dulu," kata Sari yang berusaha lepas dari suaminya.
"nasi pecel ya," bisik Nanang
"iya mas, tapi jangan marah seperti kemarin, kamu membuatku takut," kata sari.
"aku marah karena aku tak suka melihat mu dekat pria lain, jadi kamu harus menjaga diri ya," kata Nanang.
sari hanya bisa mengangguk, dia tak bisa menolak keinginan suaminya, hari ini toko di jaga Nanang yang kebetulan sedang libur dari pekerjaan.
Yuni dan ibu Wiwit datang, "loh kamu jaga toko, istrimu mana le?" tanya Bu Wiwit.
"lagi ikut acara arisan sama Lulu dan Wati Bu, ada apa memangnya Bu tumben mampir kesini," tanya Nanang heran.
"iya habis belanja buat keperluan warung, ini Yuni tadi beli buah alpukat dan bilang jika istrimu sangat menyukai buah itu, jadi ibu mampir untuk memberikannya," terang Bu Wiwit.
"aku simpen di meja saja ya, karena kalau di rumah Sari ada pohonnya, siapa tau dia lagi pingin makan buah alpukat karena belum bisa pulang," terang Yuni.
"iya makasih, eh Yuni kamu kan temennya dari selama madrasah ibtidaiyah sampai saat ini, memang istriku itu bagaimana sih kalau di sekolah dulu?" tanya Nanang penasaran.
__ADS_1
"siapa Sari? wah dia sama Dian tukang rusuh di sekolah, bahkan pernah saat sedang jam kosong kami gila-gilaan di kelas, dan Sari itu adalah gadis cerewet, suara paling keras dan juga ceplas-ceplos, tapi dia akan jadi sangat pendiam, murung dan penurut saat di rumah," jawab Yuni.
"apa jadi istriku itu sebenarnya orangnya gimana sih, aku aku bingung," kata Nanang.
"kalau menurut ibu sih, Sari itu akan menunjukkan sifat aslinya saat bersama orang yang membuatnya nyaman, tapi dia akan jadi siapapun yang diinginkan orang tuanya, seperti saat ayah mu melamar dia untuk mu, meski dia seperti menolaknya tapi dia hanya bisa pasrah," jawab Bu Wiwit.
"berarti dia tak mencintaiku?"
"bukan tak mencintaimu mas, tapi kamu yang harus menunjukkan jika kamu itu orang yang bisa membuatnya nyaman," jawab Yuni.
"terima kasih Yuni, uh untung punya adik bisa berguna gini," kata Nanang.
Sari pulang dari acara arisan membawa motor, saat melihat ibu mertuanya dan Yuni.
Sari langsung mencium tangan Bu Wiwit dan memeluknya, kemudian saat bersama Yuni sari seperti anak kecil yang melakukan tos.
"amazing..." teriak keduanya setelah tos.
Sari ingat dan langsung tersenyum malu dan bersalaman dengan Nanang.
"aku gak di ajak tos amazing juga?"
"mas ini...." jawab Sari malu.
"Sari jika mas ku melakukan sesuatu yang membuatmu tak nyaman, bilang ya, aku akan membuatnya sadar jika kamu itu berharga ya," kata Yuni.
"eh kok gitu, memang mas Nanang melakukan apa?" jawab Sari yang tersenyum.
"ya siapa tau saja, oh ya aku hampir lupa, boleh minta buatin nasi kuning gak, lusa kan ulang tahun ku," kata Yuni memohon.
"beh bocah Iki," kesal Nanang.
"opo se, boleh ya mbak ipar ku yang cantik..." kata Sari memohon
"baiklah aku mengerti, sudah nanti aku buatkan tumpeng, terus mau di bawa kemana?" tanya Sari yang bingung.
"mau di bawa ke sekolah, nanti minta mas Nanang yang antar ya," kata Yuni dengan senang hati.
"baiklah, apapun untuk adik ku ini," jawab Nanang.
Yuni dan ibu Wiwit pun pamit pulang, diatasi datang hanya ingin memberikan sesuatu pada menantunya itu.
__ADS_1
tadi di pasar tak sengaja Bu Wiwit melihat sebuah gelang emas yang sangat bagus.
jadi dia membelinya dan memberikan pada menantu perempuannya itu sebagai hadiah.
terlebih dia sangat bahagia saat Sari menjadi menantunya, "mas ibu membelikan gelang emas lagi, aku tadi sudah menolaknya, tapi beliau memaksa ku,"
"sudah gak apa-apa simpan saja itu keinginan ibu, besok lebih baik kamu masakan makanan kesukaan ibu dan antar ke rumah, pasti ibu sudah senang loh," kata Nanang.
"baiklah kalau begitu besok aku libur setengah hari, sepertinya untuk ke rumah ibu dan mampir ke rumah bapak ku juga ya," kata Sari.
"tidak boleh, kamu tidak boleh ke rumah orang tuamu," kata Nanang
"tapi mas, aku sudah tiga Minggu belum ke rumah bapak, aku cinta ingin melihatnya dan menyapa mereka sebentar saja setelah itu aku pulang aku janji mas," mohon Sari.
"tidak boleh, kamu harus menurut dengan apa yang aku katakan, atau kamu ingin jadi istri yang pembangkang, besok kamu hanya boleh ke rumah orang tuaku, setelah itu pulang, jangan sampai aku tau kamu pergi kemana-mana lagi setelah itu, paham," kata Nanang dengan suara yang sudah meninggi.
"iya mas aku mengerti, maafkan aku," jawab Sari.
Nanang pun sadar setelah melihat istrinya, entah kenapa akhir-akhir ini emosinya selalu mudah terpancing.
dia pun memeluk Sari, " maafkan aku dek, aku seharusnya tak membentak mu, tapi tolong tetap di rumah dulu, aku bisa gila jika tak melihatmu," bisik Nanang.
"iya mas," jawab Sari.
mungkin Nanang sedikit kesal dan emosi setelah tadi dia bertemu dengan ibu Eka yang belanja.
ya wanita itu terkenal bisa menghancurkan seseorang dengan mulutnya.
"mas Nanang yang jaga toko, kok tumben mbak Sarinya kemana?" tanya Bu Eka yang datang membeli sabun deterjen.
"sedang ke tempat arisan di rumah ibu umi," jawab Nanang.
"oleh begitu, tapi saya mau tanya nih ya, maaf loh sebelumnya, memang mbak satu itu mandul ya, masak sudah hampir empat bulan menikah, dia belum hamil, itu si Yoyok baru sebulan menikah istrinya sudah positif,"kata Bu Eka dengan mudah.
"iya Bu, mungkin Sari kecapekan dan sempat saya tinggal ke luar kota juga, jadi gak bisa bikinnya,"jawab Nanang yang sebenarnya malas menanggapi wanita itu.
"ya bukan karena mas Nanang ke luar kota, saya kasih tau ya, dalam enam bulan pernikahan jika istri mas Nanang belum bisa hamil, wah itu tanda-tandanya istri mas itu mandul, percaya deh dengan saya," kata Bu Eka.
"iya Bu, nanti biar kami kebut biar bisa segera jadi ya," kata Nanang yang ingin mengakhiri semuanya.
"bagus itu, ya sudah saya pulang dulu, ingat pastikan mas ingat ini ya," kata wanita itu sebelum pergi.
__ADS_1
"mas sedang memikirkan apa?" tanya Sari mengejutkan suaminya itu.