aku istrimu, bukan pembantumu

aku istrimu, bukan pembantumu
malam apa ini


__ADS_3

Sari membawa kopi dan sedikit cemilan,dan menaruhnya di meja kecil yang ada di ruang santai.


ya dia dan juragan Wawan kini berada di lantai dua di atas ruko, karena dia sudah tak tinggal di rumah keluarganya karena kamarnya tak ada.


"ini kopi dan camilannya, selamat menikmati..."


"hei kamu mau kemana kemarilah," kata juragan Wawan menarik Sari hingga jatuh ke pangkuannya.


"oh juragan mesum, lepaskan aku mau mandi,aku sudah sangat berkeringat," kata sari dengan memohon.


"sejak kapan kamu mulai memanggil suamimu mesum dasar wanita ini," gumamnya.


"lepas dulu, aku tak ingin mas merasa tak nyaman karena aroma tubuh ku," kata sari.


akhirnya pria itu melepaskan istrinya itu, dia pun sadar karena memang tak nyaman saat berkeringat kecuali saat olahraga ranjang.


Sari mandi cukup lama, hingga membuat pria itu heran, memang mandi harus selama itu.


Sari keluar dengan mengunakan baju terusan panjang, berwarna hitam.


"loh kamu mau kemana sayang?" tanya juragan Wawan heran melihat istrinya itu.


"oh di rumah akan di adakan yasinan ibu-ibu mas, jadi aku mau turun untuk ikut acara," jawab Sari.


"ya Allah ternyata masih belum selesai acaranya," kata juragan Wawan.


"ya mau bagaimana lagi, ini permintaan ibu, jadi mas bisa turun, bisa tetap di sini," kata sari dengan sopan.


tapi juragan Wawan langsung mengambil kemeja miliknya dan ikut turun.


ternyata setelah sholat Maghrib semua ibu-ibu mulai berdatangan ke rumah dan acara pun di mulai.


juragan Wawan dan pak Wasis memilih duduk menemani dua ustadz yang akan memberikan ceramah.


acara berjalan cukup lama, bahkan juragan Wawan tak sadar jika sari ikut membaca ayat suci Alquran.


pukul delapan malam lebih sedikit semuanya pun selesai, dan semua membereskan rumah.

__ADS_1


Sari dan Tata sudah di dapur untuk cuci piring juragan Wawan membantu membawa piring-piring kotor ke dapur.


setelah semuanya beres, pak Wasis sudah meminta juragan Wawan untuk istirahat karena pria itu belum istirahat dari pagi.


dia pun langsung naik ke atas dan ganti mengunakan sarung dan kaos singlet saja.


dia memilih menonton pertandingan bola yang kebetulan sedang tayang di tv.


Sari baru naik setelah memastikan semuanya selesai, bahkan dia juga membawa kardus yang di taruh begitu saja di sana.


dia pun langsung memutuskan untuk bersih-bersih karena merasa tak nyaman.


setelah itu dia duduk di samping juragan Wawan, "sedang menonton apa mas?"


"ini sedang nonton video sesuatu, oh ya besok kita ke rumah lama ku ya, soalnya Yuni kasihan kalau harus tinggal sendiri, sebelum dia menikah dengan Farid, atau bagaimana enaknya?" tanya juragan Wawan meminta saran


"apa tak akan jadi masalah jika kita tinggal di sana, terlebih itu rumah yang mas berikan pada Yuni, aku tau dia belum menikah, baiklah kita tinggal di sana dan setelah Yuni menikah kita pindah ya," kata Sari.


"baiklah terima kasih atas pengertiannya," jawab juragan Wawan.


juragan Wawan merangkul istrinya itu, dan Sari juga memeluknya erat.


"entahlah aku nyaman dengan mas, dan untuk mas Fendi aku merasa dia lebih pantas dapat wanita yang lebih dariku, setidaknya bukan janda yang sudah pernah di perkosa," kata Sari dengan nada sedih .


"ya Allah sayang, maafkan aku yang waktu itu, itu aku sedang mabuk jadi hal buruk itu terjadi, aku mohon, jangan-jangan karena itu kamu menerima ku," kata juragan Wawan tak percaya.


"salah satunya," jawab Sari dengan menatap suaminya itu.


juragan Wawan tak mengira perbuatannya itu sangat melukai hati Sari, dia tau mungkin dia bisa di bilang brengsek karena bisa-bisanya meniduri seorang wanita tapi memanggil nama wanita lain.


"maafkan aku, seharusnya aku tak mabuk hingga membuat mu dalam kondisi seperti ini," kata juragan Wawan yang benar-benar menyesal.


"iya aku tau mas, sudah Semuanya sudah berlalu, sekarang ayo kita istirahat," kata Sari.


juragan Wawan pun mengangguk dan langsung masuk kamar bersama istrinya itu.


dia pun memeluk Sari, "mas jangan lakukan itu," kata sari memohon sambil memegang tangan suaminya itu.

__ADS_1


"kenapa sayang, bukankah itu hak ku, aku sudah menjelaskan padamu, jika sekarang kamu memiliki tempat sendiri di hatiku, dan sangat penting bagi hidup ku," bisik juragan Wawan


"maaf tapi sayangnya belum bisa di pakai, masih palang merah," kata sari tersenyum meledek.


"kalau begitu tidur saja,jangan banyak bicara," kata juragan Wawan yang a langsung mengeratkan pelukannya.


"mas sebenarnya kamu menikahi ku itu karena apa? nafsu atau apa?" tanya Sari yang merasa sedih.


"kalau sebagai pria aku memang sangat tertarik dengan dirimu, telebih kamu yang muda dan seksi, tapi jika memang karena itu aku mungkin sudah memaksamu berkali-kali melayaniku, tapi aku mengajakmu untuk beribadah sepanjang usia bersama, aku tau jika kamu mungkin belum siap jadi tak usah buru-buru atau sedih, jadi aku akan menunggu," kata juragan Wawan.


Sari pun mengangguk, ternyata ucapan Adelia dulu benar, di balik sikapnya yang keras dan kasar.


pria di depannya itu sangat lembut dan baik, terlihat dari selama ini dia memperlakukan Sari.


tanpa di duga sari mendorong juragan Wawan hingga terlentang, dan dia naik ke atas tubuh suaminya.


"maaf membohongi mu, aku hanya ingin tau bagaimana dirimu padaku, apa serius atau hanya melakukannya dengan iseng," goda Sari menyentuh bibir suaminya.


"dasar wanita ini, jika aku tak serius, tak mungkin aku mengejarnya sampai seperti ini," kata juragan Wawan.


juragan Wawan duduk dan memeluk istrinya itu, keduanya pun berciuman mesra.


perlahan mereka menanggalkan semua pakaian yang mereka gunakan.


juragan Wawan pun tak mengira jika meski sudah pernah menikah, tapi gadis di pangkuannya ini sedang sangat segar dan mekar.


malam panjang itu di lewati dengan sangat panas, stamina keduanya benar-benar kuat.


meski perbedaan usia terlalu jauh, tapi perlakuan juragan Wawan sangat memabukkan.


dan mereka pun akhirnya mengulanginya beberapa kali. dan saat terdengar suara adzan subuh, mereka melakukannya lagi.


entahlah seperti tak ada waktu yang terlewat sedikitpun, pagi itu akhir mereka berdua kesiangan bangun.


keduanya sedikit merasa kikuk karena semua mata melihatnya, dan juragan Wawan sampai lupa tak mengecek pekerjaannya.


Sari tersenyum ke arah Bu Menuk, "aduh sepertinya bahagia sekali, wajahmu terlihat berbeda," kata wanita itu.

__ADS_1


"benarkah Bu, ah... ibu jangan membuatku semakin malu," kata sari.


__ADS_2