aku istrimu, bukan pembantumu

aku istrimu, bukan pembantumu
nyawa di balas nyawa


__ADS_3

pak Wasis kaget melihat juragan Wawan keluar dengan golok di tangannya, sedang Bu Wiwit keluar untuk menyuruh pria itu pergi.


Sari pun langsung bangkit dan berlari keluar, dia menarik Bu Wiwit dengan kasar dan langsung memukul Nanang hingga pingsan dengan batu bata yang ada di sana.


"ya Allah nduk!!!" kaget pak Wasis melihat putrinya yang biasanya lembut jadi seperti orang kerasukan begini.


Sari langsung melotot dan menghampiri Bu Wiwit, "hei wanita tak tau malu, kamu berani membunuh ku bukan, bagaimana kalau aku membunuh putramu, ha-ha-ha!!"


"dasar wanita gila!" dorong Bu Wiwit.


tapi Sari malah menjambak wanita itu dengan kasar. "sayang bagaimana jika aku membunuhnya, seperti dia membuat tubuhku hancur, aku akan mematahkan tangan dan kakinya, di yang berani membuat putraku tak bisa menemui ayahnya, bagaimana jika aku mengirim putranya ke neraka untuk bertemu ayahnya, bagaimana Wiwit, kamu ingin aku mengirim dia, seperti tantangan mu sebelum ini, aku berhasil memisahkan Nanang dan Sari, dan saat kamu hampir kehilangan suamimu kamu membunuhku wanita sialan!!!" marah Sari yang dengan suara keras


"Sari bagaimana pun aku ibumu," kata Bu Wiwit


"siapa yang kau panggil Sari nyonya... aku adalah wanita kesayangan suamimu itu, bagaimana kamu menyebutku gatal, l*nte, ****** dan penghisap uang, tapi meski begitu aku tetap kesayangan suamiku awam bukan," kata Sari yang tersenyum sambil menutup matanya.


juragan Wawan menjatuhkan goloknya dan langsung di amankan oleh pak RT yang kebetulan datang.


"Adelia..." panggil juragan Wawan.


"iya mas, maaf aku tak pamit, aku mempersiapkan semuanya untuk pertemuan mu dengan Andi, tapi wanita sialan ini tak melepaskan ku ternyata, kalau begitu aku akan membunuhmu!!" kata sari yang membenturkan kepala Bu Wiwit ke tembok.


Fendi langsung memeluk tubuh Sari yang berontak, "tolong panggil pak haji, dia kesurupan!!" kata pria itu.


akhirnya seorang kiai membaca doa, dan memercikkan air kepada Sari dan membuatnya pingsan.


Yuni pun terkejut mendengar semuanya, kepalanya tiba-tiba pusing dan pandangannya menghitam.


semua warga pun tak mengira jika keluarga yang selama ini nampak harmonis itu kini hancur berantakan.


"kalian kenapa bengong dih, itu bantuin Nanang dan ibunya, bawa ke klinik dan jangan sampai kabur,pak Kiai ini Sari udah gak apa-apa?" tanya Fendi.

__ADS_1


"Alhamdulillah dia sudah tak apa-apa mungkin butuh waktu untuk sadar," kata pak Kiai yang juga memberikan air yang sudah di doakan.


"biar aku mengurus putriku, maaf lebih baik tolong Yuni yang lebih memerlukan mu," kata pak Wasis.


akhirnya Sari pun di gendong pak Wasis masuk ke dalam rumah, begitupun Yuni yang baru saja sadar.


"ayah sebenarnya apa yang terjadi, Adelia... mas Nanang anak pria lain, aku tak mengerti," kata Yuni yang nampak syok.


"maafkan ayah Yuni, sebenarnya pernikahan ayah dan ibu bukan sepenuhnya karena cinta, dan mas mu itu adalah anak di luar nikah yang entah siapa ayah kandungnya, dan Adelia adalah wanita yang membuat ayah bertahan dengan ibumu, karena dia tak ingin ayah bercerai saat kamu belum menikah,"


"berarti saat Yuni menikah ayah dan ibu akan bercerai," tanya Yuni yang makin terkejut.


juragan Wawan mengangguk, Yuni pun tak mengira hal itu,"tapi kenapa ayah ingin membunuh mas Nanang, bagaimana pun ayah sudah membesarkannya,"


"karena ibu mu dengan biadab membuat para pegawai ayah untuk mencelakai keluarga Adelia dan membuat semua orang di keluarga itu meninggal dunia, belum lagi ada korban yang lain," kata juragan Wawan.


"apa, ibu bisa melakukan itu? apa yang ayah katakan... berarti tadi yang terjadi,aku salah sangka," kata Yuni yang merasa bersalah pada sari.


"aduh kepalaku, dan tubuhku..." lirihnya merasa tubuhnya remuk redam.


"kamu sadar nduk,ini di minum dulu," kata pak Wasis.


Sari pun minum air yang sudah di doakan,"kamu tak ingat apapun sari?" tanya juragan Wawan.


"tidak ayah, tadi aku terakhir ingat saat Yuni menarik rambutku dan mendorongku hingga membentur meja, dan kemudian aku tak ingat apapun," jawab Sari yang memegangi kepalanya.


"maaf kalian jadi ikut terseret,mas sekarang tolong bawa putrimu pulang,biar aku menyelesaikan semuanya di sini," kata juragan Wawan.


"iya juragan, ayo Sari kita pulang," ajak pak Wasis.


"biar saya antar," kata Fendi yang tak bisa melihat Sari terluka.

__ADS_1


"tidak usah mas, lebih baik temani ayah dan Yuni,mungkin mereka akan lebih butuh bantuan mu di banding aku dan bapak," kata Sari yang menolak dengan sopan.


Fendi pun merasa sedih,dia melihat Yuni yang menatapnya dengan tatapan mendalam.


"juragan sekarang kita harus bagaimana?" tanya Fendi yang tak ingin pria itu menghadapinya sendiri.


terlebih pria itu juga pernah membantu keluarganya, "sekarang kita harus memastikan dua orang itu tak kabur," kata juragan Wawan


tapi sayangnya mereka kalah licik, Bu Wiwit dan Nanang sudah kabur setelah menghajar Arip dan Ripin, serta beberapa orang yang menemani mereka.


juragan Wawan pun marah, dan Yuni makin yakin jika dia memang selalu tak di perhatikan oleh ibunya.


malam kelam itu akhirnya berakhir, sudah beberapa hari, kini Sari datang ke desa Adelia lagi untuk mengikuti pengajian tujuh harian.


dia di temani pak Wasis dan terlihat semua orang yang datang banyak, dan sari batu tau jika keluarga Adelia itu sangat baik.


dia juga membereskan beberapa baju yang mungkin akan menjadi kenangan terakhir untuk ayah mertuanya.


"mbak Sari, rumah ini kosong, dan ini kuncinya, karena keluarga mbak Adelia tak memiliki siapapun, dan mbak Sari adalah anak dari suaminya, jadi saya menyerahkan kunci rumah ini ya," kata wanita itu.


"tapi mbak, apa sepupu atau siapa gitu, tak ada kah?" tanya Adelia yang merasa kurang pantas.


"sebenarnya dulu keluarga mbak Adelia ini pendatang dari Kalimantan,dan dari cerita selama ini, sepertinya keluarganya memang tak memiliki sanak saudara," jawab wanita itu.


"baiklah mbak, nanti saya akan sesekali menengok rumah ini dan membersihkannya," kata sari yang membawa kunci itu.


dia dan pak Wasis pun pamit pada semua orang, dari sudah bertemu Yuni dan kondisi gadis itu sudah mulai membaik.


berkat Dian, Zahra dan Dewi yang membantu Sari menghiburnya, serta membujuk Yuni untuk lebih tegar dan move on.


Fendi benar-benar tak bisa mengambil hati sari,karena gadis itu masih trauma dengan pernikahan.

__ADS_1


terlebih setelah apa yang di lakukan oleh mantan suaminya, yang sekarang pria itu dan ibunya hang kemana, tapi yang pasti juragan Wawan sudah mengurus surat cerai dan tak memberikan sedikit pun harta pada keduanya.


__ADS_2