
"ah itu mas Wasis, aku terus di minta Yuni untuk menikahinya, jadi aku memikirkannya," jawab juragan Wawan dengan wajah frustasi.
"kenapa? apa ingin melukai Sari seperti nak Anand, karena jika mas Wawan tak mencintainya lebih baik jangan meminangnya karena saya tak akan setuju," jawab pak Wasis.
"tapi apa mas Wasis tak akan menghalangi jika aku mencintai sari dan ingin menikahinya?" tanya juragan Wawan memastikan.
"tentu saja tidak mas, saya mah tergantung sama Sari, dia ingin menikah dengan siapa asal mereka saling mencintai dan dari juga tak terpaksa," jawab pak Wasis.
juragan Wawan pun tak mengira jika pria itu akan mengatakan hal itu, karena jika sampai itu terjadi.
mereka bukan lagi saudara angkat tapi malah menjadi menantu dan mertua.
"kalian sedang apa, Kenapa kok kayaknya serius begitu?" tanya Sari heran.
"tidak ada, sepertinya bapak harus pulang dulu, bareng sama anak buah mas Wawan, Sari kamu mu di sini atau ikut pulang?" tanya pak Wasis.
"Sari tentu di sini untuk mengikuti acara amal itu baru akan pulang setelah itu, apa bapak keberatan dengan itu?" tanya Sari.
"tentu saja tidak," jawab pak Wasis.
"mas Wawan tak pulang?" tanya pak Wasis.
"tidak dulu mas, karena saya ada urusan dengan beberapa orang yang merawat kebun ku disini," jawab juragan Wawan.
"baiklah kalau begitu saya duluan ya, Sari ingat jaga dirimu baik-baik ya," kata pak Wasis.
pria itu pun pergi dengan anak buah juragan Wawan, sedang juragan Wawan sendiri masih di rumah Sari.
"jika masih ada yang ingin di bicarakan dengan ku, kita kedalam saja ayah," kata sari mempersilahkan.
mereka berdua pun masuk tapi tanpa di duga, juragan Wawan menekuk sari dari belakang.
"biarkan aku di bilang bajingan, tapi jujur aku ingin melindungi mu dan tak ingin melihat mu terluka dan menangis lagi, bisakah kamu memikirkannya untuk menikah dengan ku?" bisik pria itu.
"apa ayah yakin dengan permintaan itu?"
"iya sari aku yakin dengan permintaan itu,"jawab juragan Wawan.
"beri aku waktu, aku akan menjawabnya saat aku pulang ke rumah nantinya," kata sari tersenyum ke arah juragan Wawan
"baiklah, jika kamu memerlukan sesuatu, kamu bisa meminta tolong Lilis dan Sutar,mereka adalah orang-orang ku,dan rumah mereka tak jauh dari sini," kata juragan Wawan.
__ADS_1
"iya ayah, sudah pulang sana, jangan membuat ku merasa jika ayah tak ingin pergi sari sini," usir sari
"memang kenyataannya begitu," jawab juragan wawan kembali memeluk tubuh wanita itu.
Sari pun membiarkan mantan ayah mertuanya itu sedikit lagi,setelah itu pria itu pun juga pamit.
sedang di desa, Fendi sudah seperti orang yang tak punya hati, pria itu sangat berubah.
terlebih setelah penolakan dari terhadap dirinya, dia terlihat seperti orang yang tak berguna sekarang.
"Fendi ... tolong jangan seperti ini, Sari tak menerima mu mungkin dia masih trauma dengan masa lalunya, kamu bisa memilih gadis manapun yang jamu sukai agar bisa ibu melamarkannya untukmu," kata Bu Sumi.
"tidak ada yang bisa mengantikan sari di hati Fendi Bu,meski itu gadis tercantik,"kata Fendi dengan nada suara sedikit membentak.
"assalamualaikum... mas Fendi di rumah," suara Dewi.
"waalaikum salam, ada apa Dewi?" tanya Fendi yang langsung bangkit dari duduknya.
"ah itu mas Fendi, apa masih boleh Dewi titip kue di toko mas Fendi?" tanya gadis itu nampak segan.
"memang kamu sudah tak kerja di pabrik minyak dengan Dian?" tanya pria itu merasa heran.
"mas ini lupa ya, yang kerja dengan Dian di pabrik minyak itu kan Zahra,kalau saya kerja di balai desa sebagai tim riwa-riwi," jawab Dewi tersenyum.
Dewi langsung mencium tangan Bu Sumi saat bertemu dengan ibu dari Fendi.
"apa kabar ibu?" tanya Dewi sopan.
"Alhamdulillah baik nduk, kamu ada keperluan apa datang kesini?" tanya Bu Sumi dengan lembut
sebenarnya wanita itu menyukai Dewi yang sangat lembut dan baik,terlebih gadis itu juga dari keluarga baik-baik di desa.
"anu Bu,saya ingin menitipkan kue dan beberapa cemilan di toko kue mas Fendi,lumayan Bu buat tambah-tambah karena kerja di balai desa gajinya ibu tau sendiri bagaimana," kata gadis itu.
"loh memang kenapa, bukankah satu juta dua ratus itu sudah cukup banyak nduk?"
"inggeh bu, saya hanya ingin membantu orang tua saya menyekolahkan adik-adik karena itu saya mau cari tambahan," jawab Dewi.
"tentu boleh, tapi kalau bisa jangan kue yang sudah ada, takutnya nanti ada yang tak suka terus malah membuat berantem," kata Fendi yang melihat buku catatannya
"bagaimana jika saya menaruh pie buah dan risoles apa boleh?" tanya gadis itu.
__ADS_1
"silahkan saja, tapi besok saat antar kue kamu harus bawa taster untuk aku coba ya, dan untuk kue kering jika kamu bisa juga tak masalah, seperti kacang sembunyi atau kacang Krispy bawang," jawab Fendi.
"bener ini mas? baiklah kalau begitu saya pamit dulu ya," kata Dewi dengan senang.
saat akan pulang, tak sengaja kakinya membentur kursi, tapi dia malah tersenyum, "awas nduk."
"maaf Bu, saya memang ceroboh," jawab Dewi.
setelah gadis itu pamit, Bu Sumi melihat Fendi, dia ingin melihat reaksi dari putranya itu.
"apa Bu,jangan melihat ku seperti itu," kata Fendi datar.
"Dewi itu cantik, badannya juga gak kalah sama sari, baik juga, dan yang terpenting dia belum menikah," kata Bu Sumi.
"memang kenapa Bu, biarkan saja orang aku tak berminat," jawab Fendi.
"ayolah nak, jangan seperti itu, kasihanilah ibumu ini uang ingin segera mengendong cucu darimu, tolong jangan menyiksa diri dengan menungggu hal yang tak jelas," kata Bu Sumi.
"ibu aku mohon,berhenti membuatku marah dengan mengatakan jika aku harus menikah, jika aku siap aku pasti menikah kok," jawab Fendi.
"tapi kapan?" tanya Bu Sumi sedih.
"saat Sari menikah," jawab Fendi.
"baiklah, ibu akan meminta mu menikah jika Sari sudah menikah dengan seseorang," kata Bu Sumi.
Fendi menghela nafasnya,itu sudah di pastikan jika ibunya menang kurang setuju jika dia menikah dengan Sari.
saat sedang santai tak terduga ada mbak Wati yang lewat masih jualan jamu.
"jamu mas!"
"iya mbak," jawab Fendi yang memanggil wanita itu.
"ibu mbak Wati, ibu jamu tidak?" kata Fendi sedikit berteriak
"iya le, tunggu sebentar," jawab Bu Sumi.
"mas Fendi mau jamu apa?" tanya wanita itu dengan sopan.
"jamu cepet dapet jodoh," kata Fendi.
__ADS_1
"mas Fendi ini bercanda saja, jamu biasa kan?"
"itu tau masih tanya kayak orang baru saja," kata Fendi tersenyum.