
Sari melihat kartu nama itu, ternyata tertulis nama Fajar Adrianto, pemilik kafe Fajar subuh.
"kafe Fajar subuh? maksudnya ini kafe buka saat subuh gitu ya?"
"bukan nona, itu hanya nama, tapi jika anda anak yatim dan hafal Al-Qur'an, minimal jus Amma anda bisa makan di sana," jawab Fajar tertawa.
"owalah, buka donasi tidak, setidaknya aku bisa bergabung untuk niat baik anda," kata Sari dengan senang hati.
"tidak, tapi aku punya yayasan yang menyalurkan donasi pada orang yang berhak menerima," kata Fajar memberikan kartu nama yang lain.
"baiklah nanti aku akan menghubungi saat ingin menyumbang, dan sepertinya aku harus kembali karena sudah terlalu lama pergi," pamit Sari yang merasa senang bertemu pria itu.
"perlu saya antar?"
"tidak usah rumah anak sambung ku dekat ini, jadi permisi mas," kata sari yang langsung pergi membawa belanjaannya.
dan saat di jalan, dia memberikan cemilan itu pada anak-anak,sedang Fajar masih kaget.
"apa tadi dia bilang, rumah anak sambung, ah jangan bilang dia di jodohkan dengan pria tua, sekarang memang zaman edan, jika semua wanita cantik dan muda nikah dengan para orang tua, bagaimana nasib pria tampan dan muda seperti ku?" gumam Fajar meratapi nasibnya.
Sari sampai di rumah Nanang, dan dia sedikit kaget melihat apa yang telah terjadi.
"ah sepertinya cinta lama itu belum kelar ya, lanjutkan saja," kata Sari dengan senyum di bibirnya.
pasalnya dia melihat suaminya dengan wajah marah di peluk oleh Bu Wiwit.
"halo menantuku," sapa Bu Wiwit.
yang ingin memeluknya, tapi dia menahan wanita itu.
Sari kaget sekaligus heran, "ibu aku sudah tak bersama dengan mas Nanang, kami sudah berpisah," kata sari dengan jelas.
__ADS_1
"apa? kamu bohong ya, kemarin kita baru melakukan perayaan dua tahun pernikahan kalian," kata Bu Wiwit.
"wah... wah... ya Tuhan tolong jangan bicara omong kosong, aku datang kesini saja membuatku sesak dan pusing, dan sekarang ibu bertingkah seperti ini, dan lihatlah dengan jelas, aku bukan menantu mu tapi aku istri pria yang baru saja kau peluk!" teriak Sari yang sudah tak bisa menahan amarahnya.
"Sari tenangkan diri mu, ibu ku sedang mengalami alzheimer, jadi dia tak bisa membedakan mana yang masa lalu dan masa sekarang, dia sering kebingungan," kata Nanang.
"apa urusannya dengan ku, apa aku harus diam dan mengakui semuanya, kau gila!!! jika mereka berdua mau silahkan tapi bukan aku, aku bahkan masih ingat jelas bagaimana ibu yang selalu kau puja itu dengn sadis membunuh kak Adelia dan keluarganya," kata Sari yang menunjuk ke arah dada Nanang dengan suara keras.
"aku mohon tenangkan dirimu Sari, ibu ku sedang sakit," kata Yuni.
"apa kau bilang, terus aku tak boleh sakit hati, bagaimana perasaan mu saat tunangan mu di peluk wanita lain huh, kamu sedih dan marah bukan, dia baru tunangan mu tapi dia itu suamiku, dan aku kau suruh jadi Sari yang dulu, yang akan diam saat pria seperti kakak mu ini menyakitiku dan sekarang dia, maaf aku tak bisa jika bukan karena permintaan kak Adelia, mungkin aku tak akan pernah mempertimbangkan semuanya, kau tau itu," kata Sari yang langsung pergi dari tempat itu.
juragan Wawan menahan tangan Sari, "sudah puas marah dan mengeluarkan amarah mu," tanya pria itu.
"jangan menyentuhku, kamu baru saja di peluk wanita itu," kata Sari yang menghempaskan tangan suaminya.
"Diam di situ jangan pergi," dengan santai juragan Wawan membuka kemeja yang dia pakai dan membuangnya ke tong sampah.
Sari pun memeluk tubuh suaminya itu, "bawa aku pergi, aku tak ingin di sini, aku muak dengan Semuanya," lirihnya.
"baiklah, karena tujuan kita dari awal memang sudah terpenuhi, dan Farid bawa mobil itu pulang, kami bisa naik bus ke rumah," kata juragan Wawan.
mereka berdua langsung menuju ke area jalan raya dan langsung menaiki ojek pangkalan.
bahkan Juragan Wawan sudah muak dengan drama tadi, dia sebenarnya tadi ingin sekali mengejar Sari.
tapi Yuni menahannya dan ingin dia menemaninya bertemu dengan ibunya, jadi dia pun duduk di sana.
Yuni langsung berpelukan dengan ibunya, tapi tak terduga saat Bu Wiwit keluar wanita itu ingin memeluk juragan Wawan.
tapi pria itu langsung bangkit dan ingin mengejar istrinya, tapi Yuni kembali menahannya.
__ADS_1
"ayah... aku mohon sekali saja temui ibu, mas Nanang bilang jika ibu sakit parah dan terus memanggil nama ayah,"
"terus aku harus berpura-pura begitu, dan kamu sudah gila Yuni, aku sudah punya istri yang harus aku jaga perasaannya," kata juragan Wawan dengan kesal.
"aku mohon ayah, sekali ini saja, demi aku, dan aku tak akan meminta apapun lagi setelah ini," kata Yuni memohon sambil menangis sesenggukan.
juragan Wawan selalu lemah dengan Yuni, "baiklah kali ini saja, tapi aku tak ingin dia menyentuhku, melihatnya saja rasanya aku ingin membunuhnya karena aku harus melihat wanita yang membunuh keluargaku,"
"baik ayah, jadi tolong tenangkan dirimu, dan setelah aku berbincang sebentar,kita akan langsung pulang," jawab Yuni yang telihat begitu senang memeluk ayahnya itu.
pria itu pun menuruti permintaan Yuni, dan duduk melihat putrinya itu berbincang dengan wanita itu.
ingin sekali juragan Wawan meledak dan membunuh wanita di depannya itu, tapi dia harus tenang untuk Yuni
tapi dia tak bisa, jadi dia memutuskan untuk keluar dan merokok, entah berapa banyak rokok yang dia habiskan.
tapi beruntung Yuni sudah berpamitan, dan saat mereka akan pergi wanita itu malah memeluk juragan Wawan.
mendengar cerita itu, Sari hanya diam sambil menyandarkan kepalanya di dada suaminya itu.
"sekarang aku bertanya padamu, apa benar kamu mau menerima ku hanya karena permintaan ku atau ada permintaan Adelia yang tidak aku ketahui?" tanya juragan Wawan.
"dulu mbak Adelia selalu bilang begini, jika aku sudah sah menjadi istri suamiku, dan jika Suamiku ingin menikah lagi itu tak masalah asal itu kamu, dan jika aku mati tolong menikahlah dengannya dan jaga dia, karena hanya kamu yang bisa menjaganya, dan saat itu terjadi aku akan bahagia, karena aku dan kamu kita saudara," kata Sari.
"ternyata itu yang dia katakan, kalau begitu kita nikmati saja liburan hari ini," kata juragan Wawan yang meminta turun di kota Kertosono.
mereka berdua langsung menuju ke sebuah toko baju untuk membeli beberapa potong baju.
setelah itu mereka berdua mencari hotel terdekat, untuk menginap, "apa ini mas, kita tak ada persiapan apapun,"
"ini lebih menyenangkan karena tak ada persiapan," jawab juragan Wawan.
__ADS_1
Sari hanya ikut saja dengan pilihan suaminya itu, dan ternyata mereka berkeliling kota dan melihat beberapa destinasi wisata di kota itu.