
keesokan paginya, Sari bangun dari ranjang dan masih melihat suaminya yang masih terlelap.
dia pun buru-buru ke kamar mandi kemudian keluar untuk menyiapkan sarapan.
"selamat pagi Bu," sapa mbak Jum dan mbak Tunah yang sedang membersihkan rumah.
"pagi mbak, apa sudah membuat sarapan?" tanya Sari yang takut mereka sudah masak.
"belum buk, lah wong kami nunggu ibu soalnya bingung mau buat sarapan apa?" tanya mbak Jum.
"kalau setiap pagi masak nasi merah saja mbak, karena mas mulai sekarang harus diet demi kesehatannya, dan untuk lauknya buat pecel enak kali ya, tapi aku tak bisa membuat peyek," kata Sari.
"wah kalau itu mah keahlian saya buk,biar saya yang buat peyek, dan ibu kasih tau cara masak nasi merah," kata mbak Tunah.
"oke," jawab Sari yang langsung ke dapur.
dia mengambil beras satu cup cukup besar, untuk sarapan mereka semua,"mbak Jum dan mbak Tunah sudah sarapan pagi?"
"sudah buk tadi di rumah bareng anak-anak, jadi ibu buat sarapan untuk juragan saja," kata kedua wanita itu.
"owh begitu, jadi saya mask sarapan untuk berdua saja nih," tanya Sari tersenyum.
dia pun memasak nasi merah itu seperti biasa, karena nasi itu khusus di tanam di sawah milik Sari, jadi stok beras merah sangat banyak.
Sari membuat bumbu dan membersihkan sayur, dan mengukusnya.
juragan Wawan merasa aneh tak melihat istrinya itu di sampingnya, dia pun melihat mbak Jum sedang mengepel rumah.
sedang mbak Tunah sedang menata meja makan. "mbak ibuk mana?" tanya juragan Wawan.
"di dapur juragan, ibuk sedang membuat masakan cinta katanya," jawab mbak Tunah.
dia pun pergi ke dapur dan melihat wanita itu, "sayang kamu harus banyak istirahat kok malah sibuk begini, nanti kamu sakit,"
"tidak mas, aku malah capek jika harus duduk diam di kamar terus, hari ini kita sarapannya nasi pecel, mau kan?"
"tentu, apapun masakan mu aku mau, tapi aneh ya aku makan banyak tapi bobot ku tak naik?" tanya juragan Wawan heran.
__ADS_1
"hei kenapa heran begitu, kan kegiatan mas banyak, berhenti merokok, sering makan buah dan sayur,jadi insyaallah mas hidup sehat saat ini," kata Sari tersenyum.
"ini berkat kamu yang menaruh buah di mobil, hingga mengirimkan makan siang jadi pola makan terjaga," jawab juragan Wawan.
Sari hanya tertawa saja, karena itu salah satu caranya untuk membuat suaminya itu tetap bugar di usianya.
juragan Wawan pun meminta mbak Tunah menyiapkan Semuanya, dan dia mengajak sari untuk membantunya bersiap.
keduanya keluar, juragan Wawan juga sudah memberikan uang belanja pada istrinya itu.
jatah uang belanja Sari tak banyak, tapi sangat cukup untuk belanja sayur, dan untuk keperluan lain juga uangnya di berikan terpisah.
Keduanya sarapan berdua, terlihat juragan wawan sangat menyukai masakan istrinya.
setelah itu Sari mengantarkan suaminya itu kedepan, dan tak lupa di atas motor sudah ada tas bekal.
"apa lagi ini?"
"buah untuk camilan,hari ini ada jeruk madu,jambu kristal dan pisang," jawab Sari.
"sedikit saja, tapi mas boleh ke warung kok, tapi ingat jangan melirik yang jaga atau aku akan ngambek," kata Sari dengan manja.
"buat apa ngelirik penjaga warung,orang di rumah ada yang seger minul-minul begini," jawab juragan Wawan tertawa.
"aku berangkat dulu ya, kamu di rumah hati-hati,mbak jaga ibuk ya.."
"inggeh juragan," jawab keduanya.
juragan Wawan tak lupa mencium kening dan kedua pipi Sari sebelum berangkat.
dia berangkat mengunakan motor CB kesayangannya yang entah sudah berapa tahun menemaninya itu.
"pak Paiman nanti kalau ada lijo lewat panggil saya ya," kata Sari.
"inggeh buk," jawab pria yang menjaga gerbang utama rumah.
dia pun kembali masuk dan mengajak kedua orang yang membantunya itu ikut sarapan.
__ADS_1
"mbak Jum itu suaminya di ambilkan untuk sarapan, ini masih banyak, dan saya akan masak lagi untuk makan siang," kata Sari.
"aduh buk,lain kali masaknya sedikit saja orang kami juga sudah sarapan," kata mbak Jum tak enak.
"ya gak bisa dong, apa yang kami makan mbak Jum dan mbak Tunah juga harus makan, jadi gak boleh ngomong seperti itu, ambil di dapur yang baru," kata Sari yang tak ingin di bantah.
Sari sedang makan buah jeruk setelah sarapan, dan dia duduk di teras bersama mbak Jum dan mbak Tunah.
Keduanya sedang memarut kelapa dan singkong untuk di buat camilan, "buk ini nanti mau di buat apa?"
"kalau saya dulu sukanya di buat jemblem sama lemet mbak, atau mbak punya ide?" tanya Sari yang sudah habis satu buah jeruk yang cukup asam.
"itu mbak buat getuk atau singkong keju kan enak juga," kata mbak Tunah.
"boleh, nanti pulang bawa singkongnya ya, kan tadi bapak kasih banyak tuh, kalian bawa ya, awas kalau gak," kata Sari.
"ya Allah buk, sampean Iki terlalu baik loh," kata mbak Jum tak enak.
"sudah santai saja kayak sama siapa sih, orang aku juga sama loh kayak mbak Jum dan mbak Tunah," kata Sari tersenyum.
akhirnya siang itu mereka sibuk di dapur membuat camilan yang akan di antar ke juragan Wawan.
sedang di gudang, juragan sedang menatap pria yang datang itu dengan tanpa rasa malu sedikit pun.
"kamu kenapa kesini, usaha sudah saya bagi, jadi jangan mengganggu usaha milikku," kata juragan wawan.
"aku tak ingin melakukannya, aku hanya ingin bertanya, apa benar Sari hamil, dan bagaimana bisa bukannya dia mandul," kata Nanang yang datang dengan wajah marah dan terluka.
"bagaimana bisa kamu mengatakan seorang wanita hamil itu mandul, dulu Adelia sudah bilang bukan, yang tidak sempurna itu bukan Sari tapi kamu, jadi sekarang mau bukti apa lagi, bagaimana tes anak mu, sudah tau dia anak siapa?" jawab juragan Wawan.
"dia bukan anakku, tapi kenapa dulu dia menyembunyikan semuanya dariku," kata Nanang yang masih belum terima
"kamu bisa berpikir pakai otak kecil mu itu tidak, bagaimana dia bisa jujur setiap saat kamu memukulnya, dan mulai sekarang berhenti mengenang masa lalu itu,karena hubungan kalian telah usai, dan sekarang dia istriku jadi kamu harus hormat," kata juragan Wawan.
"dasar pria serakah," marah Nanang yang kemudian pergi.
juragan Wawan pun hanya bisa menahan amarahnya lagi, sekarang pria itu baru menyesal setelah menyia-nyiakan wanita sebaik itu, tapi semuanya sudah terlambat karena sekarang Sari sudah bahagia dengan juragan Wawan.
__ADS_1