
siang itu mereka semua makan bersama termasuk mbak Jum,mbak Tunah dan pak Joko.
tapi saat baru mulai makan, tiba-tiba bel rumah berbunyi, pak Joko langsung berlari ke depan, ternyata itu Dewa dan temannya.
"ada apa?" tanya pak Joko.
"mau anter ini, tadi mas Wawan dan mbak Sari lupa bawa, sudah kami mau main dulu kalau begitu, permisi pak," pamit mereka bertiga.
"baiklah kalian hati-hati kalau main,dan den Dewa jangan main ke tempat rental PS terus atau ibu juragan akan marah nanti," kata pak Joko.
"tenang pak, kami tak perlu ke rental lagi, karena mas Wawan sudah membelikan aku PS sendiri, jadi kami ingin pulang, jadi tak perlu khawatir," kata bocah itu yang langsung pergi mengunakan sepeda mereka.
pak Joko pun langsung ke dalam rumah dan memberikan titipan dari orang tua Sari.
"apa ini pak Joko, kok aromanya seperti aku kenal?" kata Sari.
"itu tadi ada titipan dari ibu Menuk, diantar oleh Dewa, tapi mereka semua sudah pulang," kata pak Joko.
"memang ibu mu kirim apa sayang?" tanya juragan Wawan.
"ini adalah lintingan pindang mas," kata sari yang langsung membuka bungkusan itu dan langsung memakannya dengan lahap.
dia juga menyuapi juragan Wawan, "jika ada yang mau silahkan di makan juga," kata Sari.
"iya besan, terima kasih," kata ibu Farid.
wanita itu melihat tingkah kedua orang itu sedikit tersentuh, pasalnya Juragan Wawan begitu mesra dengan istrinya.
sedang dirinya sudah menjanda cukup lama, dan dia tiba-tiba ingin memiliki pendamping hidup lagi.
tapi dia sadar karena mungkin putranya itu tak akan mengizinkan hal itu.
mereka semua pun pamit setelah Yuni dan Sari melakukan dodolan, yang isinya cobek, tape ketan dan jajanan pasar, sari yang membeli karena kandungannya lebih kecil di banding Yuni.
mereka bertiga pun pulang setelah melakukan dodolan, tapi baru juga di tengah jalan, tiba-tiba Yuni langsung merasakan perutnya mulas.
Farid pun langsung membawa istrinya itu ke rumah sakit,untuk mendapatkan pertolongan segera.
sedang di rumah, sari sedang mandi karena tubuhnya terasa begitu panas, dan yang mengejutkan adalah seseorang yang bergabung dengannya.
__ADS_1
"ada apa nyonya, kamu butuh sentuhan ku," bisik juragan Wawan
"kamu tau mas, aku sangat menyukai saat kamu menyentuhku seperti ini, bahkan entahlah tubuhku teras begitu aneh sekarang," kata wanita itu.
"kalau begitu kita lakukan dengan benar karena tak mungkin kita melakukannya di sini," bisik juragan Wawan
sore itu sari tidur karena kelelahan, juragan Wawan keluar dari kamar dan melihat Mbak Jum dan mbak Tunah masih bersih-bersih.
"mbak jajan pasar yang tadi di dapat dari Yuni bawa pulang saja ya, karena di sini tak akan ada yang memakannya," perintah juragan Wawan.
"baik juragan,kami akan membawanya pulang," jawab keduanya.
juragan Wawan pun duduk di teras sambil merokok satu batang, ternyata pak Joko dan pak Paiman mulai bertukar waktu jaga.
saat kedua orang yang bertugas membereskan rumah pulang, ternyata di luar ada penjual pecel keliling dengan es jangelan.
"paiman tolong berhentikan bakul pecel itu," perintah juragan Wawan.
"mbak pecel," panggil pak Paiman.
juragan Wawan pun membeli pecel itu satu piring beserta keripik asin, dan pak Paiman juga membeli karena di tawari oleh juragan Wawan.
terlebih ini adalah tingkep pertama untuk calon anak juragan Wawan yang sudah sangat di nantikan.
juragan Wawan makan pecel dengan kerupuk asin itu, sari bangun dan terlihat segar setelah mandi.
"aduh makan gak ajak-ajak nih," kata sari yang langsung mengambil kerupuk itu untuk jadi sendok.
melihat istrinya yang makan sambil berdiri, juragan Wawan menarik Sari hingga terjatuh kepangkuan nya.
"jangan makan sambil berdiri, gak baik," kata juragan Wawan.
"ya maaf deh," kata sari.
setelah kenyang, keduanya pun masuk dan juragan Wawan Mentawai semua pemindahan sembako sampai selesai.
keesokan harinya persiapan untuk acaranya tingkepan benar-benar sangat heboh padahal semuanya catering.
maklum calon anaknya akan jadi cucu pertama di keluarga pak Wasis dan ini akan jadi putra pertamanya.
__ADS_1
acara akan di adakan setelah sholat magrib, tapi sebelum acara mereka juga mendapatkan kabar baik.
"Alhamdulillah jika anak kalian sudah lahir, dan selamat atas kelahiran anak perempuannya," kata Sari.
juragan Wawan acuh tak acuh, dia terus berbicara dengan perut istrinya uang juga sudah besar.
"anak ayah akan tumbuh menjadi orang yang hebat, jadi kamu harus pintar saat di perut mama ya, dan saat lahir nanti jaga mama ya," kata juragan Wawan.
"terus mas gak mau menjaga ku, kenapa bilang begitu pada anak kita," tanya Sari sedih.
"iya karena aku tak tau apa masih bisa ada di sisi kalian, umur tak ada yang tau," jawab juragan Wawan.
"mas ngomong apa sih, kenapa kamu harus ngomong seperti itu, aku marah padamu," kesal Sari.
"aduh jangan marah dong, ini kan cuma perandaian," kata Juragan Wawan.
"tapi aku tetap tak menyukainya, kamu harus hidup panjang dan menyaksikan semua anak kita tumbuh besar,bukankah kamu ingin banyak anak," kata sari yang terlihat begitu sedih.
"iya sayang iya, maafkan aku yang membuat perandaian yang tak masuk akal," kata pria itu sambil tersenyum.
Sari tak tau harus bagaimana hidupnya jika dia gadis kehilangan pria yang begitu dia cintai itu.
meski jarak usia mereka sangat jauh, tapi bagi Sari hanya juragan Wawan yang bisa mendukungnya selama ini.
acara pun di mulai, tapi sayang ustad yang di panggil untuk membacakan surat Yusuf tak datang, dan sekarang mereka bingung.
"mas Fendi kan pintar mengaji, apa mau membacakan surat Yusuf untuk calon anak dari juragan Wawan dan mbak Sari?" tawar salah satu sesepuh desa
"kalau juragan mengizinkan aku tak keberatan," kata Fendi.
"tentu saja Fendi, aku minta tolong ya," kata juragan Wawan.
pria itu segera mengambil air wudhu dan mulai membaca surat di dalam Al-Qur'an itu.
tapi saat membaca ayat nomor empat, tiba-tiba hati Fendi bergetar beserta suaranya.
tapi perlahan pria itu melanjutkan pembacaan itu dengan sangat fasih dan merdu.
mantra itu seakan tak bisa mau lepas meski pria itu sudah sangat menjaga agamanya.
__ADS_1
entahlah mantra apa yang di gunakan oleh dukun dari ibu Fendi itu.