
Sari mengantar kepergian dari orang tuanya, bahkan dia terus memeluk tubuh bapaknya, dia tak ingin bapak dan suaminya akan bersitegang terlebih tentang kondisinya.
"lah, tokonya tutup," gumam Fendi.
dia merasa sedih, pasalnya dia sengaja tak beli rokok di luar demi beli di tempat Sari.
tapi malah wanita itu tak buka, saat dia ingin pergi, dia melihat Nanang yang baru pulang.
"loh Fendi, ada apa?"tanya Nanang berusaha biasa saja.
"ah itu, aku tadinya mau beli rokok, malah tokonya tutup, padahal rokokku sudah habis, dan di toko yang lain juga tak ada, memang tumben tokonya tutup?" tanya pria itu heran.
"istriku sedang tak enak badan, kamu mau beli berapa?" tanya Nanang yang berjalan setelah mengambil kunci toko.
"boleh empat dong, oh ya sama kopi satu-satu dan susu kalengnya satu ya," kata Fendi.
"kamu mau mati karena kopi dan rokok,kenapa beli banyak sekali?" tanya Nanang yang mengambilkan pesanan dari Fendi.
"ya ada beberapa proyek jual beli tanah yang aku dapat, lumayan kan komisinya, dan aku juga masih berusaha untuk membuat pabrik tahu meneruskan usaha almarhum bapakku," jawab Fendi.
"kamu butuh dana tidak, jika butuh aku bisa membantumu," kata Nanang yang keluar dengan rokok dan belanjaan dari temannya itu.
"tidak apa-apa bung, Alhamdulillah semua uang ku sudah cukup, aku tak enak ingin merepotkan mu, terlebih ini usaha ku yang baru aku rintis," jawab Fendi.
"baiklah, jika butuh bantuan kamu bisa bilang ya," kata Nanang.
"siap, kalau begitu aku pamit ya," kata Fendi yang pulang ke rumah.
Nanang pun hanya berdiri melihat pria itu pergi, "sepertinya aku harus mendekatkan Yuni dengannya agar dia tak melihat istriku terus menerus,"
sebenarnya Fendi bukan pria bodoh, dia perlahan menunjukkan taringnya untuk menyaingi Nanang, pria yang masa kecilnya di hina oleh semua orang akan menunjukkan siapa dirinya.
"aku akan merebut apapun yang harusnya menjadi milikku," gumamnya sebelum pergi.
Nanang masuk kedalam rumah, ternyata Sari sedang membaca buku tentang ekonomi yang di berikan oleh Yuni.
"kamu sedang apa?"
"membaca buku bisnis dan akuntansi, agar bisa mengembangkan toko, mas butuh sesuatu?" tanya Sari yang membantu suaminya itu mengambil air dingin.
"tidak, aku mau mandi dulu, setelah ini aku harus ke rumah ayah untuk menjelaskan beberapa hal, kamu di rumah sendirian tak apa kan?" tanya Nanang
"iya mas," jawab Sari.
Nanang pun mandi dan bersiap, tak lupa Sari menyiapkan lauk yang sudah di masak dari pagi.
setelah Nanang pergi, pria itu segera menuju ke rumah orang tuanya yang hanya berbeda RT.
__ADS_1
sesampainya di rumah ternyata sudah ada beberapa ibu-ibu yang berkumpul.
"assalamualaikum ibu, ayah kemana?" tanya Nanang yang mencium tangan ibunya itu.
"di dalam, ayah ini ada Nanang, loh istrimu mana? kok gak di ajak sih?" tanya Bu Wiwit yang kesal karena tak melihat menantunya.
"dia sedang tak enak badan Bu, sudah aku ke dalam dulu,"jawab Nanang.
para tetangga Bu Wiwit pun merasa heran, karena hampir setengah tahun Nanang menikah tapi belum ada kabar baik.
"Bu juragan, menantu mu itu sehat kan, kenapa kok belum hamil padahal sudah hampir setengah tahun loh, padahal dulu saya ingat ibu baru menikah bisa langsung hamil," kata Bu Lilis mulai julid.
"mungkin Allah belum memberi kepercayaan, lagi pula mereka masih sama-sama muda Bu," kata Bu Wiwit.
"ya gak gitu, jangan-jangan majer ya, soalnya saya itu kenal Keluarga dari pak Wasis itu ada yang gak bisa punya anak, jangan-jangan si Sari nurun saudaranya itu," kata Bu Hanum menambahkan.
mendengar ucapan itu, Bu Wiwit mulai terpengaruh, dia juga merasa aneh karena menantunya itu tak kunjung hamil.
"iya Bu nanti biar saya ajak dia ke dokter biar tau, soalnya saya juga sudah ingin menimang cucu," jawab Bu Wiwit.
sedang di dalam rumah, Nanang menjelaskan tentang keadaan sawah dan peternakan yang dia tangani.
"bagus le, kamu sudah benar-benar berubah dan makin pintar dalam mengurusi pekerjaan yang ayah berikan," puji juragan Wawan.
Yuni yang sedang ada di sana merasa jijik melihat tawa kakaknya itu, "jangan senyum begitu, wajahmu jelek tau gak,"
"apa sih... gak jelas," kata Yuni yang pergi dengan wajah merah malu.
juragan Wawan pun hanya mengeleng pelan saja melihat kedua anaknya itu.
"oh ya ayah, itu di luar tumben banyak ibu-ibu yang kumpul?" tanya Nanang tak nyaman.
"ya biasa paling masalah acara pengajian, soalnya rumah kita akan ketempatan sebagai acara muslimat Nahdlatul ulama se kabupaten," jawab juragan Wawan
"dan di pastikan jika kakak iparku yang akan jadi korban," kata Yuni dari dapur memberikan jus jeruk.
"tentu, dia menantu rumah ini jadi itu tugasnya untuk membantu dan jika tak mau biar aku yang memberinya pelajaran," kata Nanang.
"hei omongan apa itu? seharusnya kamu memperhatikan istrimu,bukan seperti itu," kata juragan Wawan tak suka dengan ucapan dari Nanang.
"kan benar ayah,dia harus nurut dengan suami bukan," kata Nanang.
Bu Wiwit masuk kedalam rumah dengan wajah kesal,"ada apa lagi sih Bu, itu muka udah di lipat tumpuk sepuluh gitu,"
"itu yah, orang-orang bilang jika menantu kita itu majer, aku tak terima,terlebih Nanang dan Sari batu menikah, kenapa mereka yang sibuk sih," kata Bu Wiwit.
"ibu itu aneh deh, orang sari saja menstruasi duluan dari pada aku, terus di banding aku, dia itu lebih teratur menstruasinya, bahkan sangat banyak," kata Yuni yang merasa aneh.
__ADS_1
"tau nih, ibu itu jangan terpengaruh oleh omongan orang,mungkin mereka belum dapat kepercayaan saat ini,siapa tau Nanang dan Sari butuh waktu untuk menikmati waktu berdua," kata Juragan Wawan.
sedang Nanang memilih diam, dia baru menyentuh istrinya sekitar dua bulan ini, jadi yang empat bulan tentu tak di hitung.
"kalian melakukannya rutin kan?" tanya Bu Wiwit melihat Nanang.
"pasti Bu, siang malam, ya sebisanya," jawab Nanang yang dapat pukulan di kepalanya oleh sang ayah.
"ngragas," kata Yuni mencibir kakaknya.
Bu Wiwit tak percaya begitu saja, dia akan membawa menantunya besok periksa ke dokter.
"oh ya Nanang, besok ibu ingin mengajak istrimu keluar rumah,tak masalah bukan,untuk kebutuhan Minggu depan," kata Bu Wiwit beralasan.
"iya Bu, tapi tolong jangan membuatnya lelah ya, karena dia sedang sakit," kata Nanang.
"iya tenang saja," jawab Bu Wiwit.
besok dia akan tau, jika menantunya itu mandul atau tidak, karena setengah tahun adalah waktu yang lama untuk belum memiliki anak saat pasangan yang sudah menikah dan subur.
Nanang pun pamit pulang, dan sempat menggoda adiknya Yuni, yang terus mengeluarkan kata-kata kasar.
dan berakhir dengan Yuni yang dapat Omelan dari Bu Wiwit karena gadis itu yang tak pernah mengatakan hal baik.
Nanang pun juga merasa jika Sari ada masalah, jika tidak pasti sudah hamil, tapi dia tak enak ingin menanyakan padanya.
terlebih setelah apa yang dia lakukan, tapi saat dia sampai di rumah, dia melihat ada mobil yang tak tau milik siapa.
Nanang pun bergegas turun dan masuk rumah, ternyata itu Azila dan suaminya.
"itu mas Nanang sudah pulang,"kata Sari.
"assalamualaikum... wah ada apa ini? kok ada tamu jauh datang," kata Nanang dengan senyum ramah.
"ini suamiku sedang mencari beberapa tempat penggilingan yang siap bekerja sama untuk menyuplai beras di tokonya,benar begitu kan mas," tanya Azila.
"iya mas, saya dengar dari Azila jika ayah mas Nanang pemilik penggilingan beras yang cukup besar, saya ingin mengajak anda bekerja sama, saya akan memberikan harga yang baik tenang saja," kata pria itu.
"dengan senang hati tuan, tapi saya butuh perjanjian materai karena tak ingin kerjasama ini hanya lewat lisan saja," kata Nanang.
"tentu, saya akan menyiapkan semuanya," jawab pria itu.
➿➿➿➿➿➿➿➿
majer \= mandul
ngragas \= Maruk
__ADS_1