
"saya yakin," kata sari yang sudah membulatkan tekad.
tapi tiba-tiba dia terbangun karena suara gedoran pintu, "ya Allah cuma mimpi, ini nih karena kebanyakan nonton sinetron," gumamnya.
ternyata suara ketukan itu terdengar lagi, "iya tunggu sebentar," kata sari yang sedikit mengumpulkan nyawanya.
Sari pun membuka pintu sambil tersenyum menyapa siapa yang bertamu, "assalamualaikum nduk, apa ibu menganggu mu?" tanya Bu Wiwit yang datang mengunjungi menantunya itu.
"tidak kok Bu,saya sedang bosan hingga tanpa ketiduran.
"ya Allah sepertinya kamu sangat lelah ya," kata Bu Wiwit.
"tidak Bu, saya memang seperti ini kalau gak ada kegiatan, apalagi setelah toko di tutup," jawab Sari.
"iya ya, Nanang itu keterlaluan, atau kamu ingin membuka toko lagi atau gimana, ibu bisa bantu?" tanya Bu Wiwit.
"tidak usah Bu, saya sudah tidak ingin membuat mas Nanang marah, terlebih lebih banyak tetangga yang makin menjadi saat bertemu dengannya,"
Bu Wiwit pun merasa bersalah, "ibu minta maaf ya nduk, seharusnya kalian tak harus mendengar hal seperti itu,"
"ibu kita tidak bisa membungkam semua mulut orang bicara, yang hanya bisa kita lakukan hanya menutup telinga saja," jelas sari.
"iya nak kamu benar," jawab Bu Wiwit.
hari ini dia memasak Bali daging cukup banyak, itulah kenapa dia datang ke sini karena ingat menantunya itu sangat menyukai masakan itu.
__ADS_1
sedang Nanang di toko Azila pun kali ini masuk perangkap, pria itu minum air yang sudah di campur dengan obat.
Azila makin gila karena tau jika Nanang belum memiliki anak dari istrinya.
dia tersenyum saat melihat Nanang minum sampai habis, tak butuh waktu lama pria itu mulai merasakan tubuhnya panas.
Azila membuka dia kancing bajunya, "ada apa mas Nanang, kenapa kamu nampak pucat,"kata wanita itu.
tanpa ba-bi-bu, Nanang langsung menikmati apa yang sudah di suguhkan oleh wanita itu.
bukannya marah, Azila merasa senang karena dia baru merasakan apa yang dia inginkan dari seorang pria.
ada seorang wanita yang berdiri di depan pintu menyaksikan pergulatan keduanya.
Nanang dan Azila benar-benar menggila, setelah mereka puas mereka pun bahkan sempat berciuman dan juga saling berpelukan.
sedang wanita tadi langsung pergi untuk menunjukkan apa yang dia dapat barusan.
wanita itu sampai di rumah Nanang, tapi rumah itu sepi, "maaf ibu, ini yang punya rumah mana?" tanya Adelia yang tak ingin lagi melihat sari terluka lagi.
"mbak Sari biasanya pergi ke tempat kue mas Fendi mbak, karena mereka memiliki memiliki usaha bersama," jawab ibu yang di tanyai oleh Adelia.
"terima kasih Bu, kalau begitu saya pamit ya," katanya yang bergegas pergi.
tapi saat ingin menyalakan motor, sebuah telpon masuk, dia pun bergegas mengangkatnya.
__ADS_1
"iya halo, ada apa? hari ini aku sibuk, nanti malam saja kalau mau ketemu, karena aku ingin menemui seseorang," kesal gadis itu.
ya,meski sudah berusia cukup, Adelia memang belum mau menikah, terlebih gadis itu terkenal jahat.
tapi tanpa banyak orang tau, Adelia sebenarnya sudah memiliki seseorang yang menjadi kekasih hatinya.
dia pun memutar motornya dan segera pergi ke tempat jualan milik Fendi.
sesampainya di tempat itu, terlihat Sari sedang makan mie bersama karyawan Fendi.
"wih ada traktiran tapi gak ngajak-ngajak nih," kata Adelia yang baru datang.
"masuk Adel, kebetulan masih ada satu, kemarilah," panggil Fendi yang selaku baik pada wanita itu.
"halo mbak Adelia, Kana nih gak pernah kerumah," sapa Sari dengan senyum mengembang.
"halo dek, kamu makan yang banyak biar sehat dan gak kurus gini, dan hidup bahagia ya," kata Adelia.
"iya mbak, ini aku mulai gemukan loh, sudah naik dua kilo," kata sari.
"apanya yang baik, orang tubuh mu tetep kurus begini, sudah sekarang minum susu ini, dan kamu akan segera gemuk, dan setelah itu olahraga agar makin sempurna, benerkan Fendi?" tanya Adelia pada temannya itu.
"begini juga cantik, bagi orang yang mencintaimu dengan tulus, apapun bentuknya, atau rupanya,dia tetap cantik dan sempurna baginya," jawab Fendi.
Sari pun mengalihkan pandangannya, karena dia tau jika Fendi mungkin masih menyimpan perasaan untuknya.
__ADS_1