
hari yang di tunggu pun datang, Farid sudah datang dengan hadiah untuk di bawa bertemu dengan calon ibu mertuanya.
sedang Yuni juga terlihat tak sabar untuk bertemu ibunya, pasalnya sudah cukup lama dia tak bertemu Bu Wiwit.
sedang di kamar, Sari seperti memiliki kekhawatiran yang tidak bisa di jelaskan.
entahlah harinya seperti belum siap bertemu dengan mantan ibu mertuanya itu.
dia tau jika Bu Wiwit itu sangat baik padanya, tapi apa yang wanita itu lakukan terakhir kali sangat melukainya.
bagaimana tidak, dia membunuh satu keluarga yang bahkan tak memiliki salah sedikitpun padanya.
sudahlah dia memilih untuk berangkat, tapi dia kaget melihat suaminya yang berdiri di depan kamar.
"ada apa? kenapa melihatku seperti itu? apa ada yang salah?" tanya satu yang mengenakan kemeja merah kotak-kotak dan celana jeans yang makin membuatnya cantik dan seksi.
"tidak ada, aku ingin menjemput mu karena kita harus berangkat agar tidak terlalu siang sampai disana," kata juragan Wawan.
"baiklah, ayo," jawab Sari yang tersenyum dan merangkul tangan suaminya itu.
"baiklah ayo, karena Yuni sudah tak sabar ingin bertemu dengan ibunya itu," kata juragan Wawan.
mereka pun berangkat dengan mengendarai mobil, perjalanan setidaknya butuh dua sampai dua setengah jam untuk sampai di tempat tinggal pria itu.
selama perjalanan dari terlihat hanya diam dan tak banyak bicara, dia selalu melihat ke luar jendela mobil.
"hei mama cantik ada apa kenapa nampak banyak pikiran begitu?" tanya Yuni penasaran.
"apa kamu merasa tak enak karena harus bertemu dengan ibu?" tambah Yuni yang malah memancing kemarahan juragan Wawan.
"jangan mengatakan hal aneh Yuni, jika bukan karena Sari, aku juga tak akan mengajak mu awalnya," kata juragan Wawan dingin.
"hei kalian ini kenapa, aku hanya sedang mengantuk karena semalam kurang tidur, Kenapa malah repot dan membuat kalian bersitegang," kata Sari tertawa.
"dasar kamu bikin khawatir saja, aku kita kamu sedang sedih karena harus bertemu dengan mantan istri suamimu," kata Yuni menggoda sari.
"tapi sayangnya di sana juga ada mantan suami ku jika kamu lupa, yang dulu bahkan tak pernah mau diam dan ya begitulah...", kata sari dengan wajah tersenyum
"hei nyonya, aku ini suamimu loh," kata juragan Wawan tak suka dengan ucapan sari.
__ADS_1
"memang kenapa, anda sensitif sekali tuan," jawab Sari yang terlihat cuek
akhirnya mobil pun sampai di alamat yang di berikan, garis keluar dari kursi pengemudi dan membuka pintu untuk Yuni.
begitu pun dengan juragan Wawan yang membukakan pintu untuk satu yang duduk di jok nomor dua.
terlihat Nanang berdiri di sana sendirian, dan Sari sedikit merasa aneh karena istrinya tak ada di sisinya.
"mas Nanang, aku merindukan mu," kata Yuni yang memeluknya
"aku juga dek, lihatlah kamu sudah semakin cantik, halo Farid," sapa pria itu dengan suara lembut.
Nanang menyalami juragan Wawan dengan hormat, dan doa juga bersalaman dengan Sari.
tapi Sari kaget dan langsung menarik tangannya, "ada apa?"
"tidak ada mas," jawab Sari yang merasa tak enak.
pasalnya Nanang barusan mengusapkan jarinya di telapak tangan sari dan itu di anggap tidak sopan.
"oh ya mana istrimu, kenapa tidak kelihatan?" tanya juragan Wawan.
"dia masih di rumah sakit, semalam dia melahirkan bayi laki-laki, dan sepertinya aku harus melakukan tes DNA," gumam Nanang.
"memangnya kenapa mas, kok aneh sih bukankah dia bilang jika itu anakmu," kata Yuni heran.
"tapi bayi itu tidak mirip dengan ku,bahkan dengan foto bayiku saja tidak, bayi itu memiliki warna kulit gelap dan wajah seperti mantan suami dari Azila," terang Nanang.
Sari memilih diam dan tak komentar, toh dia bicara pun tak ada yang ingin mendengarnya.
"memang dulu dengan mbak Sari, mas tidak pernah melakukan pemeriksaan kenapa hingga membuat mas tidak yakin, apa pernah ada perkataan siapa yang mandul?" tanya Farid.
"kenapa kamu bilang seperti itu Faris, kamu tau di desa kita jika yang bisa memiliki anak itu yang salah adalah wanita, karena itu aku yang mandul bukan dia," jawab Sari yang makin tak bisa menahan dirinya lagi.
"ah maaf bukan maksudnya menanyakan hal sensitif seperti ini," kata Faris serba salah.
"sudah hentikan, sebenarnya aku kesini untuk memberikan beberapa sertifikat usaha yang sudah di balik nama atas namamu, dan aku berharap ini bisa membantu mu berkembang, dan setelah ini kita tak perlu lagi berhubungan karena setelah ini aku akan fokus pada keluargaku yang baru,terlebih Yuni juga akan segera menikah," kata juragan Wawan menunjukkan tiga sertifikat tanah, dua sertifikat ruko dan uang tunai.
"kenapa ayah,"
__ADS_1
"karena aku tak ingin istrimu itu mengganggu istriku, jadi kita akhiri di sini saja, dan tanda tangan di atas materai jika kamu menerimanya.
Nanang pun tanda tangan dengan percaya diri, dan tak lupa Sari mengambil foto sebagai bukti.
setelah itu seorang wanita datang ke ruang tamu, "anu mas, ibu Wiwit sudah bisa di ajak keluar dan bertemu semua tamu,"
"ah maaf, sepertinya saya harus ke keluar sebentar karena aku belum sanggup betemu dengan ibu, permisi Semuanya," pamit Sari yang langsung berlari pergi.
juragan Wawan tak menghentikan langkah istrinya itu, dia sendiri belum sanggup melihat wajah pembunuh itu.
sedang susuk di sana saja sudah membuat dirinya sangat sesak. tapi dia melakukan ini demi Yuni.
Sari merasa beruntung karena rumah Nanang itu dekat dengan sebuah minimarket.
jadi dia memilih untuk membeli camilan dan menenangkan dirinya saat itu.
dia membeli mie cup dan menyeduhnya do sana, dan tak lupa membeli air minum.
dia pun memilih duduk sambil menikmati lalu lalang kendaraan. ternyata rumah Nanang termasuk di area pinggiran kota jadi tak terlalu di desa.
saat sedang sendirian, seorang pria duduk di depan Sari, memang ada kursi yang kosong disana.
"maaf apa aku tak akan mengganggu nona kan, karena aku tak suka melihat wanita cantik sendirian," kata pria itu tersenyum.
"silahkan saja," jawab Sari cuek.
keduanya pun duduk diam, sedang pria itu merokok di depan Sari, "dari pada merokok mending makan cemilan atau makan permen itu, setidaknya kamu tak akan terkena kanker mulut dan paru-paru," kata sari.
"ha-ha-ha kalau memang sudah waktunya mati, ya biarkan memang kenapa, sedang nona makan mie instans tak baik untuk kesehatan mu," kata pria itu tersenyum dengan sangat manis.
"setidaknya aku mati dengan bahagia," jawab Sari.
"aku suka gayamu, ini aku berikan kartu namaku," kata pria itu mengulurkan sebuah kartu nama.
ππππππ
mampir yuk di Nobel author yang baru, jangan lupa tinggalkan jejak seperti like, komen dan vote...
karena ada giveaway yang menanti di semua novel milik author yang sedang on going, jadi jangan lupa dukung terus ya...
__ADS_1