aku istrimu, bukan pembantumu

aku istrimu, bukan pembantumu
maafkan ibumu (ibu Sumi)


__ADS_3

Fendi menerima kopi buatan ibunya itu dengan senang hati, "terima kasih Bu,"


"di minum le, takutnya nanti dingin, kamu ini kebiasaan malem-malem begini malah suka keluyuran, kalau terus begini bagaimana bisa kamu dapat istri," kata Bu Sumi.


"sudah Fendi katakan, jika aku tak ingin menikah Bu, aku bisa hidup sendiri, dan cukup aku hidup dengan nama saja," kata pria itu dengan tegas.


"iya iya maafkan ibumu yang pelupa ini," kata Bu Sumi yang tak bisa membantah perkataan putranya.


Fendi langsung minum kopi buatan ibunya itu dalam satu tegukan, dan kemudian dia berusaha untuk tidur.


tapi malam itu, Fendi bermimpi buruk, dia melihat Sari di seret oleh banyak pria dan tak ada yang menolongnya.


bahkan Sari di dorong masuk jurang dan semua orang hanya melihatnya, dan tak ada yang menolongnya.


Fendi pun berlari sekuat tenaga untuk meraih tangan wanita itu, "juragan Wawan kenapa kamu cuma diam," teriak Fendi yang berusaha menarik Sari.


"kenapa dia kuat selama ini, jadi dia pasti bisa, dan kamu siapa berani menyuruhku," kata juragan Wawan dingin.


"dasar pria gila!" bentak Fendi yang mencoba menarik Sari.


tapi wanita itu malah tersenyum dan melepaskan pegangan dari tangan Fendi.


di depan matanya Fendi melihat Sari jatuh ke jurang dan tewas seketika, "tidak!!!" teriak Fendi yang terbangun dari tidurnya yang ternyata sudah siang.


"ada apa Fendi?" kaget Bu Sumi yang khawatir melihat putranya itu.


"tidak ada bu, aku hanya mimpi buruk, kok ibu masih dirubah, kios libur?"


"tidak tapi Dewi yang jaga, kan sekarang hati Sabtu," jawab Bu Sumi.


"baiklah kalau begitu Fendi mandi dulu terus ke kios ya,"


"iya kalau begitu ibu duluan," jawab Bu Sumi yang pergi


wanita itu meras jika anaknya sedikit aneh setelah minum ramuan itu dan dia berharap tak ada apapun yang akan terjadi pada Fendi.


Dewi terlihat masih menata dagangan yang di titipkan oleh beberapa orang.

__ADS_1


ya memang Bu Sumi bukan menjual hasil kue buatannya sendiri, melainkan ada yang menitipkan di tempatnya.


sedikit lebih siang, Fendi datang dengan membawa permen ting-ting kacang buatannya.


tanpa di duga, sebuah sepeda motor datang dan itu adalah Sari dan mbak Jum.


terlihat satu mengunakan baju yang cukup panjang, "selamat siang semuanya," sapa Sari.


"selamat siang," jawab yang lain.


tapi Fendi tak menyahut karena dia seperti orang yang cuek terhadap wanita itu.


Sari sedikit sadar tapi dia tau mungkin Fendi marah dan tak ingin mengenalnya lagi.


"wah ada apa ini tumben istri juragan Wawan datang?" tabya dewi.


"mau beli beberapa jenis kue, aku pilih dulu ya," kata sari yang mengambil semua kue kesukaan suaminya.


mbak Jum juga membantu membawakan keranjang itu, Sari ingin mengambil permen ting-ting kacang tapi Fendi masih menatanya.


"maaf mas Fendi boleh saya minta yang bungkusan besar dua," kata sari dengan sopan.


Sari kaget melihat reaksi pria itu, terlebih Fendi tak pernah kasar Padanya.


Sari mengambil dua permen dan langsung menuju ke tempat kasir, Bu Sumi tak mengira jika yang di ucapkan dukun itu benar.


sekarang putranya itu tak akan peduli lagi dengan sari, tapi Bu Sumi kaget saat Dewi tak sengaja menyenggol Fendi.


"maaf mas," kata Dewi.


"kamu buta ya, masak begitu saja gak becus, sial cih.." kata Fendi yang langsung marah.


semua pun di buat bingung kenapa Fendi berubah menjadi kasar begini, pria yang selalu sopan terhadap wanita malah berubah.


"jadi berapa Bu?" tanya Sari yang tak nyaman.


"tujuh puluh ribu neng," jawab Bu Sumi.

__ADS_1


"ini Bu, kalau begitu saya pamit dulu ya Bu," kata sari yang harus ke kantor desa untuk mengantarkan kue itu.


meski kantor desa itu tutup, tapi mereka tetap melakukan pengukuran sesuai petok D yang dimiliki.


Bu Sumi mengirimkan pesan singkat pada guru yang mendoakan putranya itu.


"Mbah sayus bagaimana ini, kenapa sekarang putra ku malah kasar begini, padahal biasanya dia itu sangat baik,"


"itu yang kamu lupa,a


ku Mbah sayus, dan karena kamu membunuh rasa cinta putramu, maka sekarang dia tak memiliki ketertarikan lagi terhadap wanita," jawab wanita itu.


"lah terus bagaimana Mbah, jika seperti ini dia tak akan pernah bisa menikah, terus saya melihatnya terus sendiri begitu," kata Bu Sumi.


"ya itu keinginan mu dan sayangnya mantra itu bertahan cukup lama sesuai dengan kemauan mu, jadi harap sabar saja karena aku juga sudah tak bisa menariknya lagi," kata Mbah sayus.


Bu Sumi kini hanya bisa pasrah, niat hati ingin anaknya melupakan semua tentang Sari, tapi kini malah dia yang terjebak.


Sari sedang duduk sambil menikmati permen yang sudah lama tak ia makan, dia ingat saat berhenti makan permen itu karena Fendi yang terus memintanya agar menikah dengannya.


tapi dia menolak dan tak pernah membeli lagi, tapi sikap Fendi sedikit membuat dirinya merasa aneh.


"ada apa buk? kok sepertinya banyak sekali pikirannya?" tanya mbak Tunah yang sedang membersihkan kulit kacang.


"tidak ada kok mbak, hanya sedang kepikiran sesuatu, oh ya mbak kan tetangga dari Dewi, kira-kira kenapa ya Dewi kok belum mau menikah? padahal aku dengar banyak pria yang memintanya loh?" tanya Sari penasaran.


"itu ya mbak, itu karena dia menunggu mas Fendi, padahal semua orang juga tau jika mas Fendi tak ingin menikah setelah ibuk menikah dengan juragan Wawan," kata mbak Tunah.


"mbak terlalu jujur, tapi itu mungkin juga kesalahan saya, padahal pria itu pria baik, aku ingin dia mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku, yang belum menikah tapi sepertinya dia tak pernah mau mendengarnya ya," kata Sari.


"ya mesti saja tak mau, orang Dewi gak secantik ibuk begitu, lagi pula dia itu baik kalau di luar saja, kalau di rumah beh sikapnya jelek banget terlebih pada orang tuanya," kata Mbak Tunah.


"wes mulai kalau di ajak Gobah, langsung nyahut, padahal dulu kami berlima teman sekolah yang di sebut geng sempurna, meski dulu mulutku paling pedes kalau menghina orang,"


"tapi ibik juragan, dulu saya pernah dengar jika mas Fendi itu pacarnya ibuk ya," tanya mbak Jum yang bergabung.


"bukan pacar, tapi pria yang ingin melamar ku saat lulus sekolah, tapi semua tak sesuai rencana, aku harus menikah dengan mas Nanang yang notabene teman mas Fendi, dan mas Nanang sebenarnya menyukai Dian teman ku, yang sekarang juga sudah bahagia dengan suami barunya," kata Sari.

__ADS_1


"iya mbak Dian juga mengalami hal yang serupa, bahkan setelah pisah pun bisa-bisanya itu suami tak tau malu meminta mbak Dian di suruh menyaksikan pernikahannya, untung disana ada mas Japar yang memberikan kekuatan pada mbak Dian, jika di sini ada juragan Wawan yang memiliki banyak usaha, di sana mbak Dian istri juragan tahu dan pemilik cafe di Jombang, kalian benar-benar sangat beruntung ya saat menikah untuk kedua kalinya," kata mbak Tunah.


__ADS_2